Impoten Nulis

Entahlah aku kira dengan membaca beberapa buku, aku bisa produktif lagi nulis seperti dulu aku masih muda (yee, sekarang pun masih muda). Tiap 2 hari sekali bisa menelurkan satu tulisan, meski sekedar tulisan geje tidak ketemu pucuk intisarinya.

Apa minat ku terhadap dunia kepenulisan sudah punah mengikuti punahnya T-Rex yang kini tinggal kerangka belulang di museum? Tidak. Minat ku masih sama. Hanya saja aku tidak menemukan ke gairahan yang sama ketika awal-awal dulu aku menulis.

Selidik-selidik, aku ingat aku menulis karena ingin menumpahkan ‘kegelisahan’ ku atas kondisi yang menurutku tidak ideal. Bukan berarti aku idealis tulen, hanya saja aneh melihat negeri yang kaya ini justru tiap kali ada ‘bantuan’, antriannya panjang bukan main. Atau negeri yang diberi keberkahan tanah yang subur malah ‘paceklik’ bawang dan cabai. Dan masih banyak lainnya lagi jika diekspose satu-persatu, jangan-jangan kita berada di negeri ‘para bedebah’.

Apa aku tidak ‘gelisah’ lagi? aku harap tidak. Teringat perkataan Umbu Landu Paranggi, “Segala yang kau pikirkan, percuma apabila tak kau tuliskan!”. Ya aku harus menulis sebagai bentuk ‘perlawanan’, bukan melawan mereka tapi pemikiran mereka. []peta

3 thoughts on “Impoten Nulis

  1. mau saran?
    ssekali kluar dri kebiasaan gaya menulis. bkin fiksi,prosa,poem skedar merefresh, ntr tajem lg tuh otak kiri.
    it works for me

  2. semua orang yang menulis, cerita, sampai orang yang stand up comedy pun, materinya kebanyakan dari kegelisahan mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s