Garam Yang Tak Asin

30 August 2015 - 2 Responses

Air akan segera menjadi sumber daya paling berharga di muka bumi. Korporatokrasi pun paham bahwa dengan mengendalikan persediaan air mereka bisa memanipulasi ekonomi dan pemerintah. Tulis John Perkins dalam bukunya The Secret History of The American Empire: The Truth About Economic Hit Men, Jackals, and How to Change the World (terjemahannya berjudul Pengakuan Bandit Ekonomi: Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga).

John Perkins hendak bercerita pergolakan di Bolivia pada tahun 1991 dipicu oleh Bank Dunia dan IMF. Kedua organisasi ini bersikeras agar pemerintah Bolivia menjual sistem air umum di Cocamba, kota terbesar ketiga, kepada perusahaan Bechtel. Atas desakan Bank Dunia, Bolivia lalu setuju untuk menarik biaya terkait dengan penyediaan air secara kontinyu kepada semua pelanggan, tanpa memedulikan kemampuan mereka membayar.

Bolivia apabila dilihat di peta terlihat seperti lobang donat yang terbentuk dari Peru, Chile, Argentina, Paraguay, dan Brazil. Praktis wilayahnya hanya daratan. Tapi siapa sangka, Bolivia memiliki daratan garam terbesar di dunia: Salar de Uyuni.

Garam meski termasuk kebutuhan manusia, harganya tidak semahal sebutir telur. Beda dengan abad pertengahan di Eropa, butiran kristal asin itu jadi barang yang sangat mahal dan menjadi alat pembayaran. Karena itu mungkin garam disebut “white gold”.

Pada zaman Nabi SAW, ada riwayat bahwa beliau pernah memberi tambang garam kepada seorang sahabatnya, Abyadh. Tapi ketika beliau diberi tahu tambang itu seperti al-mâ‘a al’iddu, maka Rasul menariknya kembali dari Abyadh.

Al-mâ‘a al’iddu artinya “laksana air yang terus mengalir”. Dapat diartikan yang terus mengalir tidak terputus. Ini mengindikasikan: person, baik individu maupun perusahaan swasta, dilarang memiliki tambang yang didalamnya terkandung cadangan besar dan hampir tak terbatas.

Maka kontras dengan sistem kapitalistik sekarang: kebebasan memiliki harta secara perorangan. Ciri lainnya yang kemudian jadi ciri neoliberalisme: memangkas pengeluaran sektor publik untuk jasa sosial.

Indonesia mungkin akan impor garam dari Bolivia. Setelah sebelumnya impor dari Australia dan Singapura. Mungkin garam produksi kita secara mutu dan kualitas tidak sebagus produksi mereka. Sebagaimana karena kita tidak mampu membuat motor dan mobil, kita impor dari negara yang dulu menjajah kita: Jepang.

Agaknya sedikit hiburan, pesawat tidak perlu mendatangkan dari luar. Anak negeri mampu membuat. Dan, yang sedang menggeliat, industri alutsista.

Memang ganjil wilayah laut yang lebih luas daripada wilayah daratan, artinya sebagai negara kepulauan di tiap garis pantainya berpotensi sebagai ladang garam, urusan bumbu dapur—termasuk industri–masih impor.

Kita tahu, alasan impor tidak melulu soal ketidakmampuan. Kadang ada kongkalikong yang saling simbiosis untuk mengeruk keuntungan. Mereka singular. Dan, petani—seperti garam—jadi pihak yang dikorbankan.

Agaknya Johns Perkins keliru soal mengendalikan persediaan air bisa memanipulasi ekonomi. Tidak hanya air, garam pun bisa. Termasuk pula energi. Kini kita bisa menghitung mana yang belum dikendalikan! []

Geodesi Kita

23 August 2015 - Leave a Response

“Aachen adalah cinta pada pandangan pertama.” Tulis brosur pariwisata kota Aachen. Di kota itulah pada tahun 1880, Friedrich Robert Helmert, profesor bidang Geodesi Universitas Teknologi Rhein Westfalen Aachen (atau lebih dikenal RWTH Aachen), mempublikasikan Die mathematischen und physikalischen Theorieen der höheren Geodäsie. Dalam publikasinya itu, Helmert mendefinisikan geodesi: is the science of the measurement and mapping of the earth’s surface.

Jika kita tengok sejarah (bukankah sejarah perlu sering ditengok sebagai pelajaran!), pengukuran bumi dilakukan sejak Yunani Kuno. 220 tahun sebelum masehi, di atas sebuah sumur di Aswan, Eratosthenes memulai pengukuran radius bumi. Konon untuk mendapat data sudut, ia mengukur panjang bayang-bayang dari sebuah menara di Aleksandria yang terletak kira-kira di utara Aswan. Jarak Iskandaria-Aswan diketahui 5000 stadia. Hasilnya, ukuran Eratosthenes 15,5% lebih panjang dari hasil perhitungan modern.

Awal abad 10 Masehi, Rayhan Al Biruni mengembangkan cara yang lebih efektif ketimbang mengamati matahari terus menerus: trigonometri. Hasil yang ia dapat hanya meleset 16.8 km dari yang dihasilkan teknologi saat ini.

Agaknya motif penelitian Al Biruni: mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan mengenali ciptaan-Nya. Tapi nasib berkata lain pada Galileo Galilei. Teorinya tentang heliosentris dianggap merusak iman. Tepatnya keyakinan Gereja. Waktu itu menentang Gereja sama halnya menentang Tuhan. Kita pun tahu nasib Galileo: meninggal sebagai tahanan rumah.

Maka output pengukuran wilayah adalah pemetaan. Tapi peta analog rasanya sudah terlalu kuno bagi zaman yang serba digital. Data spasial tidak bisa lagi dimonopoli pengukuran terestris, bisa denggan foto udara atau citra. Jika digabungkan dengan atribut spasial lainnya, lahir disiplin ilmu yang lebih modern: Geomatika.

Karena itu, agaknya penamaan Geomatika sudah pas ketimbang Geoinformatika. Secara komersil, nama Geoinformatika nampak lebih menjual. Tapi ilmu pengetahuan tidak melulu soal uang. Ilmu pengetahuan dipergunakan untuk menaikkan level peradaban. Justru ketika uang dituhankan, ia merusak peradaban.

Mungkin sebuah kekeliruan menyebut Geodesi sama dengan Geomatika. Barangkali sama kelirunya kita menyebut theodolit sama dengan total station. Theodolit bisa melakukan pengukuran sudut tapi tidak bisa mengukur jarak secara langsung. Total Station dapat melakukannya sekaligus. Lagipula kita lebih menyukai menyukai surveying (penjelajahan) ketimbang coding (pemograman) bukan–setidaknya bagi saya.

Pendidikan Geodesi di Indonesia berumur 65 tahun. Dimulai pada tahun 1950, tahun berdirinya Jurusan Geodesi dan Geomatika pertama di De Techniche Hoogeschool te Bandung (kini: ITB). Selama 65 tahun Geodesi telah mendampingi pambangunan dan penataan ruang negeri Zamrud Khatulistiwa.

Maksud Helmert tentang “the earth’s surface”, tentu pengukuran dan pemetaan permukaan bumi, termasuk didalamnya permukaan dasar laut. Dengan luasnya wilayah zamrud khatulistiwa, menyisakan pekerjaan rumah: pemetaan darat dan memetakan laut. Pekerjaan tidak sedikit bukan! []

Puasa Lalu

13 July 2015 - One Response

Ramadhan yang berkah itu akan segera berlalu. Entah iman sudah bertambah atau tetap seperti dulu. Hal pasti, tiga tahun terakhir ini saya mengalami suasana Ramadhan yang berbeda; sebagai mahasiswa, pekerja kantoran dan sekarang pekerja lapangan. Adalah Ramadhan 1434 H, Ramadhan terakhir sebagai mahasiswa.

Ada kerinduan sendiri dengan dunia mahasiswa–diskusi panjang dan alot kadang tanpa solusi. Ramadhan pada tahun itu saya ingat, ketika tengah menunggu adzan magrib untuk menyantap takjil pemberian masjid, teman saya yang juga mahasiswa tingkat akhir itu berujar, “tidak ada gunanya Tuhan memasukkan iblis ke dalam neraka. Iblis dari api begitu pula neraka, bisa jadi disana iblis malah mandi sauna.”

Atau dia bertanya begini, “mana letak keadilan Tuhan, ketika langsung memvonis iblis sebagai penghuni neraka sedangkan kepada manusia walau dia pernah membuat salah sebesar gaban asal bertaubat masih punya kesempatan masuk surga?”

Saya tidak meladeni. Pertanyaan yang dia lontarlan bukanlah pertanyaan kehidupan yang harus dicari jawabnya. Menemukan jawabannya pun tidak akan memperbaiki kualitas hidup.

Berbeda dengan uqdah al qubro (pertanyaan besar yang pasti setiap manusia mempertanyakan) yang menurut syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, jawaban atas persoalan ini menghasilkan akidah; darimana manusia berasal, apa tujuan manusia diciptakan, kemana setelah kehidupan. Pertanyaan tersebut harus dijawab. Kabar buruknya, salah menjawab salah pula menjalani hidup.

Contoh misal, anda percaya bahwa pohon beringin—yang besar dan rindang itu—sebagai sumber asal muasal makhluk hidup dan manusia pertama lahir dari akarnya yang kuat. Bisa jadi anda akan menyembah pohon beringin itu, walau pada akhirnya ia tidak memberi apa-apa kecuali getahnya yang bisa dibikin lem layangan.

Tapi menjalani Ramadhan sebagai pekerja kantoran terasa adem ayem. Rutinitas baik sebelum dan selama Ramadhan tidak jauh beda kecuali pengurangan jam kerja. Masuk kantor pagi, duduk manis di depan komputer, jam istirahat leyeh-leyeh di masjid, kembali ke kantor agak sore, duduk manis lagi, kemudian pulang.

Satu hal patut saya syukuri bahwa Ramadhan pada tahun kemarin secara kuantitas tilawah paling banyak. Anda tahu, membaca dan mendengarkan Al Qur’an bisa menggetarkan hati orang-orang beriman, dan sekaligus menghadirkan tanda tanya–termasukkah saya didalamnya?

Berbeda 180 derajat, rutinitas di lapangan rasanya mempersingkat waktu ternasuk ketika Ramadhan kali ini. Tiba-tiba Ramadhan mau berakhir, dan sepertinya target untuk melampaui kuantitas tahun kemarin tidak tercapai.

Saya pikir, di bulan Ramadhan ini memang perlu ada pengurangan jam kerja–di tempat saya kerja tidak ada. Memang itu regulasi dari tiap perusahaan, tapi pemerintah bisa mengaturnya. Dan memang itu tugas pemerintah–membuat nyaman dan aman rakyatnya.

Tapi alasan pengurangan jam kerja bukan karena sedang berpuasa dan berefek pada menurunnya produktivitas kerja, melainkan ada waktu lebih untuk beribadah. Para pekerja proyek mulai tukang cor, besi, lantai, dinding, dan tukang las, banyak dari mereka yang tidak berpuasa. Padahal bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Malaikat memintakan ampunan untuk orang yang berpuasa selama berpuasa hingga berbuka.

Maka ironi para pekerja itu tidak dapat berpuasa karena pekerjaan. Di sisi lain pintu-pintu neraka Jahannam ditutup, sementara syaitan dibelenggu. Tapi, nampaknya oleh manusia, syaitan berwujud regulasi tidak dibelenggu. []peta

MendengarNya

8 July 2015 - Leave a Response

Adalah suara adzan
kumandang meraih kemenangan
tapi tak semua orang mendengar, bukan.

Keajaiban Al Qur’an
menggetarkan hati orang-orang beriman
sekaligus menghadirkan tanda tanya
masukkah saya didalamnya?

Tidur

29 May 2015 - 3 Responses

Pernyataan bahwa tidur merupakan obat awet muda, mungkin ada benarnya. Tidur siklus dalam diri manusia, bertujuan memberikan kesempatan bagi tubuh supaya beristirahat secara total. Istirahatnya organ tubuh; pencernaan, otot rangka, panca indera, dan otak, akan memberikan kesempatan untuk revitalisasi dan rejuvenasi sel-sel tubuh.

Meski obat awet muda, bukan berarti Anda memilih tidur seharian. Kita tahu, lama tidur ideal bagi orang dewasa yaitu 6-8 jam. Biasa lebih dari itu, siap-siap mengundang penyakit setidaknya sakit punggung.

Rasulullah SAW mengajarkan untuk tidur secepatnya, sekitar jam 9 dan bangun di 1/3 malam sekitar jam 3 pagi. Waktu yang hening untuk bermunajat kepada Allah SWT terutama shalat tahajud—shalat sunnah yang selalu dikerjakan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Tapi tidur termasuk nikmat dunia yang melalaikan, seperti halnya tahta harta, dan wanita. Ketika tidur dianggap lebih baik daripada shalat malam, lebih baik daripada beribadah kepada-Nya, mungkin disaat itulah kita teracuni dunia.

Tidur cara ampuh untuk me-refresh tubuh. Sudah kodrat manusia untuk tertidur—terlepas kekurangan atau kebanyakan tidur karena itu dipengaruhi faktor eksternal. Menyinggung kodrat, entah kenapa menjadi jomblo—di zaman ini—sepertinya dianggap tindakan di luar kodrat. Kodrat mencintai, Anda tahu, bukanlah pacaran tapi pernikahan.

Tidur dikatakan pula sebagai mati sementara. Mungkin karena saat tidur ruh kesadaran dicabut. Jika fase tidur kesadaran akan kembali, maka berbeda dengan mati ruh kesadarannya tak akan kembali. Seharusnya hal ini membuat kita sadar bahwa tombol on off hidup seseorang dipegang olehNya.

Cara terbaik untuk menghadapi tidur yaitu niat: untuk beribadah kepadaNya, untuk bertemu denganNya. []

gambar dari google