Menyederhanakan Mimpi

30 March 2015 - 2 Responses

Seorang teman blogger bertanya, “kamu gimana caranya bisa nulis posting gampang banget?”. Mungkin maksud teman saya itu kenapa saya belakangan ini rajin posting, apa rahasiany? Saya jawab bahwa saya lagi kerasukan, nanti juga bakal balik lagi seperti semula.

Ya akhir-akhir ini saya rajin posting di blog. Mungkin itu pengaruh dari pradigma berpikir saya yang sengaja saya ganti. Dulu saya punya keinginan untuk menjadi seorang penulis. Supaya disebut sebagai penulis maka Anda harus menghasilkan sebuah karya yaitu buku. Menulis buku ini yang menjadi tujuan saya sekaligus menjadi beban!

Menulis buku tentang apa? Disukai apa tidak? Bagaimana memulainya? Laku apa tidak? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mengganggu pikiran saya. Anda tahu jika pikiran anda ‘terganggu’ maka tingkat kreatifitas anda juga terganggu.

Pada akhirnya saya menyadari saya terlalu berkutat pada persoalan menulis buku ketimbang menulis itu sendiri. Paradigma ini harus saya rubah atau dikemudian hari kreativitas saya akan mandeg dan perlahan menghilang.

Dengan kesibukan kerja dan tidak banyaknya waktu, saya kira menulis buku termasuk hal yang tidak realistis saya lakukan saat ini. Ya saya mulai berkompromi dengan keinginan-keinginan saya dan mencoba untuk menyederhanakannya!

Menjadi penulis tidaklah harus dengan menulis buku, aktif posting di blog sudah merupakan hal bagus dan itu masih dalam koridor menjadi penulis. Nah ini yang sedang saya lakukan, melakukan hal-hal sederhana dan apabila saya kerjakan terus menerus dapat mengantarkan saya menjadi seorang ‘penulis’. Fokus saya beralih pada proses bukan hasil!

Cara ini, menyederhanakan mimpi, akan saya terapkan pada mimpi yang lain. Hafalin saja ayat Al Qur’an, jadi penghafal apa tidak urusan nanti. Mulai berdagang, jadi pedagang sukses apa tidak lihat nanti. Bukan menjadi apa tapi sudah melakukan apa?

Ada lagi mimpi besar, menjadikan Islam rahmatan lil alamin. Kalau ini bukan impian, tapi kewajiban! []peta

Gulat dan Ajal

27 March 2015 - 4 Responses

Anda pernah menonton smackdown (gulat)? Waktu kecil saya suka menontonnya, waktu itu masih disiarkan pada siang hari. Pegulat jagoan saya Sting. Pegulat yang selalu tampil dengan men-cat mukanya dengan corak hitam putih ini akan marah dan meng-KO-an lawannya jika cat mukanya luntur.

Pada pertengahan tahun 2000-an smackdown menjadi trend lagi, bedanya kali ini disiarkan malam hari. Siang harinya, teman-teman saya membicarakan pertandingan smackdown tadi malam sambil meniru-niru gaya sang pegulat. John Cena menjadi pegulat yang sering ditiru gayanya.

Meski mempunyai rating tinggi, smackdown dilarang penyiarannya. Alasannya banyak anak-anak cidera karena memperagakan aksi para pegulat di atas ring. Saya akui saya juga pernah gelut dengan teman saya gara-gara terinspirasi acara smackdown. Ya, televisi memang alat mind control yang efektif.

Selain Sting, John Cena, masih banyak pegulat terkenal lainnya seperti Hulk Hogan (musuh bebuyutan Sting), Undertaker, The Rock, Rey Mysterio. Khusus nama pegulat terakhir ini, tengah mengalami insiden.

Rey Mysterio melakukan tendangan yang membuat lawannya, Perro Aguayo Jr, terpelanting dengan keras sehingga lehernya menyangkut di tali ring dan tak sadarkan diri. Tanpa disangka Perro dinyatakan meninggal di atas ring.

Apakah gulat termasuk olah raga ekstrim karena nyawa taruhannya? Bisa jadi, tapi cabang olah raga lainnya juga tidak luput dari cerita atletnya meninggal di tengah pertandingan. Pada tahun 2007, Antonia Puerta, pemain Sevilla berkebangsaan Spanyol, meninggal diusianya yang masih sangat muda yaitu 22 tahun.

Tidak hanya dalam olah raga, dalam kehidupan sehari-hari yang tidak memerlukan kontak fisik pun seseorang meninggal secara tiba-tiba. Padahal sebelumnya sehat, tidak menderita suatu penyakit, bukan perokok. Malah yang pecandu rokok tidak mati-mati.

Seseorang meninggal bukan karena ia bergulat, merokok, penyakit, atau kecelakaan. Itu bukan sebab utama? penyebab utama adalah sudah sampainya ajal. Saya, anda, juga sedang menunggu giliran. Giliran untuk berjumpa malaikat maut! []peta

Ke Jerman?

26 March 2015 - 8 Responses

Empat teman saya sekarang tengah melanjutkan studi di Jerman. Bahkan satu diantaranya sedang mengambil program S3. Saya ikut senang dan turut mendoakan mereka berhasil dalam studinya.

Kadang saya berpikir ketika teman saya itu selesai studi, mungkin mereka akan menjadi pribadi yang berbeda, mempunyai pengalaman yang berbeda, atau setidaknya ilmunya melampaui saya. Dasar, karena saya orangnya tidak mau kalah–tapi sering mengalah–saya harus berbuat sesuatu supaya tidak ketinggalan jauh.

Tentu tidak dengan mengejar mereka ke Jerman, untuk apa? The best absurd country is Indonesia. Yang perlu saya lakukan setidaknya tidak berhenti untuk belajar, membaca buku, dan menghasilkan karya. Dan yang penting lagi, memperdalami khazanah islam.

Anda tahu, masa depan peradaban manusia adalah peradaban islam. Ini bukan saya yang ngomong tapi baginda Rasulullah SAW, “…Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.”

Peradaban islam nantinya 11-12 dengan eranya para sahabat Rasulullah SAW. Peradaban yang menggeser era sekuler kapitalis. Hanya saja, seperti yang saya bilang, peradaban islam nanti mempunyai kualitas selayaknya era para sahabat Rasulullah SAW, masyarakatnya pun kualitasnya layaknya para sahabat. Apakah kita saat ini mempunyai kualitas layaknya para sahabat? Kalau belum berarti peradaban itu masih jauh!

Ah tapi masa kamu tidak pengen ke Jerman? Pengen, tidak hanya ke Jerman tapi ke negara barat lainnya, untuk melihat lebih dekat detik-detik runtuhnya peradaban kapitalis. []peta

Jilbab dan Rokok

25 March 2015 - 7 Responses

Meski tidak ikut liburan ke Bali, setidaknya saya senang dibawakan oleh-oleh kaos oblong. Cuman, sayangnya, karena siapa cepat dia dapat dan saya mendapat paling terakhir, saya diberi kaos oblong berwarna putih, dengan tulisan di dadanya “Biar gemuk yang penting tidak pernah ngamuk”. Argh padahal saya kurus!

Kaos itu saya terima. Pantang saya menolaknya. Jauh-jauh berlibur ke Bali untuk membelikan saya kaos, masa saya menolaknya!

Entah kenapa belakangan ini saya berurusan dengan yang namanya ‘gemuk’. Ketika membeli mie ayam, di seberang jalannya ada cafe tidak besar tapi cukup ramai. Pintu cafe yang dibiarkan terbuka, membuat saya bisa melihat aktivitas di dalamnya. Saya melihat sosok wanita–yang menurut saya–gemuk, memakai jilbab dan sedang merokok. Sambil berbicara dengan temannya, beberapa kali asap rokok menyembur dari mulut mbak gemuk berkerudung hitam tersebut.

Merokok, menurut pandangan saya, hukumnya makruh, baik itu pria maupun wanita (berjilbab). Tapi bisa haram pada kondisi tertentu, misal bagi mereka yang mengidap penyakit kanker, atau wanita hamil. Sedangkan berhijab–menutup aurat bagi muslimah yang akil baliq–hukumnya adalah wajib. Berjibab dan merokok, dari hitung-hitungan hukum, saya rasa mbak tersebut tidak melanggar syariat. Hanya saja muslimah apalagi berjilbab identik dengan keanggunan, kesopanan, dan kepantasan. Apa pantas ada muslimah merokok? tentu saja tidak!

Saya mencoba berpikir positif, mungkin mbak tersebut baru belajar memakai jilbab. Sedangkan ia sendiri pecandu rokok. Merubah kebiasaan, Anda tahu, tidak gampang dan membutuhkan proses. Siapa pun orangnya termasuk mbak tersebut. Saya berdoa, mbak tersebut dapat berjilbab dengan sempurna dan berhenti merokok.

Mie ayam sudah siap disantap. Terpikir untuk merubah kata di kaos pemberian teman saya itu, mungkin saya ganti, “biar kurus yang penting suka tadarus!” []

Kumohon (2)

8 March 2015 - 7 Responses

ibu

Ibu berkrudung putih yang wajahnya meneduhkan itu adalah ibu saya atau biasa saya panggil Ummi. Sedangkan bocah yang sedang beliau bopong, bukan saya melainkan ponakan saya, Nabhan.

Melihat foto ini kadang saya merasa sedih, saya tidak punya foto kenangan yang menampilkan saya berdua dengan Ummi. Keluarga saya tidak punya kamera, mungkin kamera analog yang menggunakan gulungan klise sebagi penyimpanan fotonya masih tergolong mahal untuk kantong bapak saya.

Tidak seperti sekarang, kamera menjadi fitur wajib di setiap HP sehingga jeprat jepret selfa selfie bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Foto masa kecil saya satu-satunya yang saya punya adalah foto hitam putih berukuran 3×4 untuk ijazah SD, asli masih berwajah polos.

Saya yang berumur 12 tahun, tidak akan pernah menyangka bahwa 13 tahun kemudian dirinya akan berkarir sebagai seorang geodet, dan akan menghabiskan sisa umurnya untuk kebangkitnya islam.

Saya senang Ummi sudah tidak bekerja lagi, dengan begitu beliau bisa banyak beristirahat dan punya banyak waktu untuk beribadah (berdoa). Dan, saya harap, di tiap doa beliau, nama saya disebutnya.

Barangkali kesedihan beliau adalah ketika banyaknya waktu seperti saat ini, anak-anaknya tidak ada sisi karena merantau disana disini. Obat yang mujarab tentu saja dengan kehadiran seorang cucu! []peta

*postingan ini untuk membayar hutang ke seorang blogger*