Puasa Lalu

13 July 2015 - One Response

Ramadhan yang berkah itu akan segera berlalu. Entah iman sudah bertambah atau tetap seperti dulu. Hal pasti, tiga tahun terakhir ini saya mengalami suasana Ramadhan yang berbeda; sebagai mahasiswa, pekerja kantoran dan sekarang pekerja lapangan. Adalah Ramadhan 1434 H, Ramadhan terakhir sebagai mahasiswa.

Ada kerinduan sendiri dengan dunia mahasiswa–diskusi panjang dan alot kadang tanpa solusi. Ramadhan pada tahun itu saya ingat, ketika tengah menunggu adzan magrib untuk menyantap takjil pemberian masjid, teman saya yang juga mahasiswa tingkat akhir itu berujar, “tidak ada gunanya Tuhan memasukkan iblis ke dalam neraka. Iblis dari api begitu pula neraka, bisa jadi disana iblis malah mandi sauna.”

Atau dia bertanya begini, “mana letak keadilan Tuhan, ketika langsung memvonis iblis sebagai penghuni neraka sedangkan kepada manusia walau dia pernah membuat salah sebesar gaban asal bertaubat masih punya kesempatan masuk surga?”

Saya tidak meladeni. Pertanyaan yang dia lontarlan bukanlah pertanyaan kehidupan yang harus dicari jawabnya. Menemukan jawabannya pun tidak akan memperbaiki kualitas hidup.

Berbeda dengan uqdah al qubro (pertanyaan besar yang pasti setiap manusia mempertanyakan) yang menurut syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, jawaban atas persoalan ini menghasilkan akidah; darimana manusia berasal, apa tujuan manusia diciptakan, kemana setelah kehidupan. Pertanyaan tersebut harus dijawab. Kabar buruknya, salah menjawab salah pula menjalani hidup.

Contoh misal, anda percaya bahwa pohon beringin—yang besar dan rindang itu—sebagai sumber asal muasal makhluk hidup dan manusia pertama lahir dari akarnya yang kuat. Bisa jadi anda akan menyembah pohon beringin itu, walau pada akhirnya ia tidak memberi apa-apa kecuali getahnya yang bisa dibikin lem layangan.

Tapi menjalani Ramadhan sebagai pekerja kantoran terasa adem ayem. Rutinitas baik sebelum dan selama Ramadhan tidak jauh beda kecuali pengurangan jam kerja. Masuk kantor pagi, duduk manis di depan komputer, jam istirahat leyeh-leyeh di masjid, kembali ke kantor agak sore, duduk manis lagi, kemudian pulang.

Satu hal patut saya syukuri bahwa Ramadhan pada tahun kemarin secara kuantitas tilawah paling banyak. Anda tahu, membaca dan mendengarkan Al Qur’an bisa menggetarkan hati orang-orang beriman, dan sekaligus menghadirkan tanda tanya–termasukkah saya didalamnya?

Berbeda 180 derajat, rutinitas di lapangan rasanya mempersingkat waktu ternasuk ketika Ramadhan kali ini. Tiba-tiba Ramadhan mau berakhir, dan sepertinya target untuk melampaui kuantitas tahun kemarin tidak tercapai.

Saya pikir, di bulan Ramadhan ini memang perlu ada pengurangan jam kerja–di tempat saya kerja tidak ada. Memang itu regulasi dari tiap perusahaan, tapi pemerintah bisa mengaturnya. Dan memang itu tugas pemerintah–membuat nyaman dan aman rakyatnya.

Tapi alasan pengurangan jam kerja bukan karena sedang berpuasa dan berefek pada menurunnya produktivitas kerja, melainkan ada waktu lebih untuk beribadah. Para pekerja proyek mulai tukang cor, besi, lantai, dinding, dan tukang las, banyak dari mereka yang tidak berpuasa. Padahal bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Malaikat memintakan ampunan untuk orang yang berpuasa selama berpuasa hingga berbuka.

Maka ironi para pekerja itu tidak dapat berpuasa karena pekerjaan. Di sisi lain pintu-pintu neraka Jahannam ditutup, sementara syaitan dibelenggu. Tapi, nampaknya oleh manusia, syaitan berwujud regulasi tidak dibelenggu. []peta

MendengarNya

8 July 2015 - Leave a Response

Adalah suara adzan
kumandang meraih kemenangan
tapi tak semua orang mendengar, bukan.

Keajaiban Al Qur’an
menggetarkan hati orang-orang beriman
sekaligus menghadirkan tanda tanya
masukkah saya didalamnya?

Tidur

29 May 2015 - 3 Responses

Pernyataan bahwa tidur merupakan obat awet muda, mungkin ada benarnya. Tidur siklus dalam diri manusia, bertujuan memberikan kesempatan bagi tubuh supaya beristirahat secara total. Istirahatnya organ tubuh; pencernaan, otot rangka, panca indera, dan otak, akan memberikan kesempatan untuk revitalisasi dan rejuvenasi sel-sel tubuh.

Meski obat awet muda, bukan berarti Anda memilih tidur seharian. Kita tahu, lama tidur ideal bagi orang dewasa yaitu 6-8 jam. Biasa lebih dari itu, siap-siap mengundang penyakit setidaknya sakit punggung.

Rasulullah SAW mengajarkan untuk tidur secepatnya, sekitar jam 9 dan bangun di 1/3 malam sekitar jam 3 pagi. Waktu yang hening untuk bermunajat kepada Allah SWT terutama shalat tahajud—shalat sunnah yang selalu dikerjakan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Tapi tidur termasuk nikmat dunia yang melalaikan, seperti halnya tahta harta, dan wanita. Ketika tidur dianggap lebih baik daripada shalat malam, lebih baik daripada beribadah kepada-Nya, mungkin disaat itulah kita teracuni dunia.

Tidur cara ampuh untuk me-refresh tubuh. Sudah kodrat manusia untuk tertidur—terlepas kekurangan atau kebanyakan tidur karena itu dipengaruhi faktor eksternal. Menyinggung kodrat, entah kenapa menjadi jomblo—di zaman ini—sepertinya dianggap tindakan di luar kodrat. Kodrat mencintai, Anda tahu, bukanlah pacaran tapi pernikahan.

Tidur dikatakan pula sebagai mati sementara. Mungkin karena saat tidur ruh kesadaran dicabut. Jika fase tidur kesadaran akan kembali, maka berbeda dengan mati ruh kesadarannya tak akan kembali. Seharusnya hal ini membuat kita sadar bahwa tombol on off hidup seseorang dipegang olehNya.

Cara terbaik untuk menghadapi tidur yaitu niat: untuk beribadah kepadaNya, untuk bertemu denganNya. []

gambar dari google

Kumpeni

19 May 2015 - 2 Responses

Bapak saya adalah seorang pedagang. Beliau, menurut saya, termasuk pedagang sukses. Kriteria kesuksesan; mampu membangun rumah, membiayai pendidikan anak-anaknya sampai sarjana. Beliau diberi kemudahan melakukan hal tersebut, a succes story.

Tapi beliau bukan pengusaha. Beda pengusaha dan pedagang; pengusaha pergi berlibur meninggalkan usahanya masih untung. Pedagang meninggalkan usahanya, malah buntung. Maka lebih enak menjadi pengusaha ketimbang pedagang, tapi saya malah tidak kedua-duanya; pegawai kantoran.

Berdagang merupakan aktivitas ribuan tahun. Rasul Muhammad SAW juga para sabahat-sahabatnya adalah pedagang. Secara khusus Baginda Rasul SAW mendoakan para pedagang, “pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada,” bunyi sabda Baginda Nabi SAW.

Islam masuk ke bumi Nusantara juga melalui adanya interaksi perdagangan—selain bahwa ada utusan dari Khilafah Islam masa itu untuk mendakwahkan Islam di Nusantara. Munculnya Sjarikat Islam dalam masa pra kemerdekaan berlatar belakang dari Sjarikat Dagang Islam yaitu pada 16 Oktober 1905 didirikan oleh Hadji Samanhoedi, tiga tahun sebelum adanya Boedi Oetomo.

Mengapa memakai kata ‘dagang’? Menurut penulis buku Api Sejarah Ahmad Mansur Suryanegara, “Dagang itu kan pasar? Ya Nabi Muhammad SAW dulu juga pemegang pasar, sebagai wiraniagawan. Dan Islam ke Indonesia pun masuk dengan pasar. Kemudian ditentang oleh Belanda dengan pasar juga yakni Perserikatan Perusahaan Hindia Timur, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).”

“Coba mengapa Barat harus menggunakan nama Compagnie atau Company (perdagangan)? Karena Islam kuatnya dipenguasaan pasar. Maka pasar itu harus diambil alih oleh penjajah untuk dijadikan alat penghancuran Islam. Jadi Islam, pasar, dan nasionalisme itu menjadi satu.”

Penjajahan oleh Belanda di Indonesia juga diawali oleh perdagangan. Kompeni atau Kumpeni istilah populer di kalangan Indonesia merujuk pada para tentara Belanda yang bengis, daripada asal kata itu sendiri compagnie–perusahaan multinasional yang dibekingi oleh negara (Belanda), atau mungkin negara dibekingi pemilik modal.

Pada pertengahan abad ke-18 VOC dibubarkan. Bukan berarti sekarang sudah tidak lagi walau berganti chasing; perusahaan multinasional tapi mendapat perlindungan ekstra dari negaranya, semacam PT Freeport.

Freeport meski sebuah company tapi dibelakangnya ada Amerika. Ketika Indonesia ingin memutus kontrak dengan PT Freeport, misal karena alasan tahun 2014 Freeport tidak membagikan dividen atas hasil tambang emas di Papua, Indonesia tidak bisa melakukannya.. Layaknya pribumi tidak mampu  melawan menir.

Kadang hidup adalah pengulangan sejarah. Dan penjajahan menemukan caranya sendiri mengikuti roda zaman. Nyatanya ia tidak berakhir; berganti nama dan cara; dari rempah-rempah ke emas, dari fisik ke perundangan. Sejarah bukannya tidak memberi pelajaran, tapi kadang kita abai atau mungkin melupakan. []

ilustrasi gambar dari Mice Cartoon.

Langgam Jawa Dan Rohingnya

18 May 2015 - One Response

“Islam Indonesia” yang belakangan ini santer dikampanyekan oleh pemerintah, terutama kementerian agama, saya kira akan bermain di tataran teoritis. Kalau pun praktis itu paling bagaimana bersikap menjadi seorang muslim yang ramah, toleran, dan mengakui kebhinekaan. “Kata kuncinya adalah moderat dan harmoni. Itulah Islam Indonesia,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam forum Kongres Umat Islam Indonesia VI (KUI VI) di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Tapi tataran praktis lainnya, nampaknya Islam Indonesia juga menyentuh aspek bagaimana membaca Al Qur’an. Sebagaimana peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Istana Negara Jakarta, pada Jumat malam. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran, Surah An-Najm 1-15, oleh dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Muhammad Yasser Arafat. Berbeda dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an pada umumnya, pembacaan ayat suci kali ini menggunakan langgam (irama) Jawa mirip seperti sinden pada pagelaran wayang.

Kenapa langgam Jawa, tidak Medan, Bugis, Papua, ataupun Madura? Karena Jawa adalah Indonesia. Dan bukan rahasia umum, Indonesia adalah Jawa sentris.

“Kesalahan tajwid; dimana panjang mad-nya dipaksakan mengikuti kebutuhan lagu,” komentar Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar, Qari’ interasional dari Arab Saudi, atas bacaan murattal tersebut. Mengandung pula kesalahan lahjah (logat). Membaca Al-Qur’an sangat dianjurkan menggunakan lahjah Arab, sebagaimana orang Arab membacanya. Dalam hadist disebutkan: “Iqra’ul qur’aana biluhuunil ‘Arobi wa ashwaatiha”.

Kesalahan takalluf, yakni memaksakan untuk meniru lagu yang tidak lazim dalam membaca Al-Qur’an. Yang cukup berbahaya jika ada kesalahan niat, yaitu merasa perlu menonjolkan kejawaan atau keindonesiaan atau kebangsaan dalam berinteraksi dengan al Qur’an, membangun sikap ashabiyyah dalam ber-Islam. Dan yang paling fatal jika ada maksud memperolok-olokkan ayat-ayat Allah yang mereka samakan dengan lagu-lagu wayang dalam suku Jawa.

Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan tujuan pembacaan Al Qur’an dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air. Terkesan meragukan melihat pembacaan Al Qur’an dengan langgam Jawa bukan peninggalan dari para Wali Songo. Kalau warisan Wali Songo tentu saat ini masyarakat Nusantara akan terbiasa dengan langgam Jawa ini

Wali Songo dalam mendakwahkan Islam tidak dengan pemaksaan, itu pun tidak mensyiarkan Islam Nusatara tapi Islam ‘versi’ Rasulullah SAW. Lain cerita jika Ulil Abshar Abdalla, pegiat Islam Liberal, dijadikan ‘Wali Kesepuluh’. Pembacaan Al Qur’an dengan langgam Jawa pun bukan hal tabu.

Perlu dicatat, ketika masyarakat Nusantara berbondong memeluk Islam, sebelumnya mayoritas beragama Hindu Budha, tidak lantas kemudian penganut Hindu Budha diusir dari tanah Nusantara. Sejarah perubahan sosial terjadi secara alamiah, naturally. 

Maka alasan apa TNI menolak pengungsi Rohingnya; apa karena mereka adalah Islam Rohingnya bukan Islam Indonesia? Nampaknya atas dasar nasionalisme, walau kontras dengan sabda Baginda Rasul SAW bahwa muslim yang satu bersaudara dengan muslim lainnya, muslim rohingnya ditolak di tanah indonesia. Ironis mengingat tanah ini merdeka atas berkat rahmat Allah SWT.

Tapi kita belum mendengar sikap pegiat HAM atas masalah Rohingnya. Genosida yang dilakukan biksu–direstui oleh pemerintah Myanmar–atas etnis Rohingnya, sepertinya belum cukup untuk memberi label kejahatan kemanusiaan. Mungkin karena mayoritas etnis Rohingnya adalah muslim. Atas keislaman mereka pula, mereka lebih memilih meninggalkan Myanmar tanpa kepastian nasib di laut–maupun di daratan.

Membaca Al Qur’an dengan langgam Jawa bisa jadi sebuah ‘kreatifitas’. Tapi kadang kita menginginkan yang ‘orisinalitas’ supaya mendekatkan kepada aqidah yang murni; tidak tersekat suku, bangsa, warna kulit, maupun cengkok. []

gambar Tempo