Foto Profil dan Kelaparan

Iseng, saya melihat foto profiles teman yang ada dalam list kontak WhatsApp. Ada yang memasang foto selfie dengan bibir monyong atau menjempret dirinya yang ada di kaca, ada yang foto bersama pasangan, lagi arum jeram, lagi di puncak gunung, foto anaknya yang masih bayi, dan macam-macam. Saya sendiri memajang gambar logo perusahaan tempat saya bekerja. Perusahaan ini masi baru dan saya kebagian promosi. Maka saya membuat akun social media khusus untuk perusahaan mulai facebook, twitter, dan google+. Anda tahu, sosmed merupakan media marketing yang cukup efektif.

Tapi teman saya yang satu ini beda, foto profilesnya lain daripada yang lain: tiga orang dengan kondisi mengenaskan, badan kurus tinggal tulang. Saya ingat beberapa waktu yang lalu melihat gambar serupa. Mereka adalah warga Suriah, tepatnya warga kota Madaya yang di blokade rezim Assad. Di kota itu banyak warga yang meninggal: kelaparan.

“Anak-anak disini hanya makan rerumputan demi bertahan hidup. Atau mereka memakan rempah-rempah yang campur dengan air,” jelas Sajid Malik, delegai UNHCR PBB.

Foto profile teman saya mengingatkan, bahwa, diluar sana banyak yang kesusahan, kelaparan, atau ditimpa kemelaratan. Dari foto profil pula mungkin kita bisa tahu siapa teman kita atau diri kita. Individualistiskah, suka pamer, punya kepedulian, atau orang yang sibuk mengejar dunia? Sepertinya, saya masuk yang tipe yang terakhir.

Istighfar! Istighfar! Istighfar! []peta

Ketika Teman Menyapa

Smartphone saya berdering, eh maaf bergetar. Tidak lama, hanya satu tiga detik artinya ada pesan masuk. Saya tidak langsung mengambil smartphone saya itu dan memeriksa notifikasi. Ada aktivitas yang penting yang segera saya lakukan: B.A.B.

Oh ternyata ada teman yang whatsapp.

“How are you bro?” tanyanya.

“I’m Alhamdulillah sae my big brother. How about you?” tanya saya. Saya sengaja memanggilnya “big brother” karena bagi saya dia itu orang besar, nanti saya ceritakan.

“Alhamdulillah baik. Sibuk apa sekarang bro?”

“Nggak sibuk apa-apa. Lagi nggak ada proyek, jadi sementara beralih profesi menjadi pengacara.” Kemudian lanjut percakapan basa-basi lainnya, sehingga akhirnya saya bertanya, “tumben nyapa bro?”

“Kangen”.

Eits, saya membalas jawabannya itu dengan emotion sedang ketakutan. Mungkin karena lama di offshore, orientasi seksnya berubah. Itu sekelibas muncul dalam benak saya. Tapi saya rasa jawabannya itu sudah pas, kami sudah lama tidak bertemu dan alasan apalagi selain melepas ‘kangen’.

Dia orang penting dibalik karir saya sebagai mahasiswa. Dulu ketika awal-awal kuliah, laporan mulai menumpuk dan harus dikerjakan dengan bantuan komputer, dia yang membantu saya. Saya waktu itu masih katrok dengan yang namanya komputer. Menyalakannya saja masih kebingungan, kenapa tombol power di CPU sudah dinyalakan tetapi Windows XP-nya tidak muncul-muncul. Nah dia ini yang ngasih tahu, kalau tombol power monitor juga perlu dinyalakan. Betapa katrok-nya saya, terlebih dia adalah mahasiswa perantauan dari Indonesia Timur, tepatnya NTB (atau NTT entahlah).

Semester dua, dia naik pangkat menjadi komandan tingkat (komting) bagi angkatan kami. Amanah yang berat tapi saya bersyukur bukan saya yang ditunjuk (sori brother). Semenjak dia jadi komting, rasanya kami jadi terpisah. Dia jarang menginap di kost saya. Dan saya tidak suka main di kostnya (karena kostnya itu sarang alias tempat ngumpul senior atas). Tapi dari jauh, saya memperhatikannya dan banyak belajar darinya tentang: kepemimpinan dan tanggung jawab. *terima kasih big brother

Sejak awal bertemu sepertinya kami sudah punya ikatan emosional. Seingat saya, ketika kami perjalanan pulang dari ospek warga, waktu itu sekitar jam sebelas malam, dia memuji saya karena berani melawan senior atas. Saya tersanjung (padahal saya keder juga). Kami sering mengobrolkan perlakuan warga, tentu dengan emosi. *karena itu saya bilang kami punya ikatan emosional

Tapi dia juga perantauan, jauh dari orang tua bahkan kadang baju untuk kuliah saja pinjam (sori bro aku tahu rahasiamu). Mungkin itu juga yang mendekatkan kami, sama-sama perantuan dan butuh teman (yang bisa dipinjami uang).

Akhir chat itu, kami berencana akan saling video call setidaknya tiap akhir bulan. Rasanya kurang puas jika cuman chating. Tanpa bisa lihat muka yang mungkin sudah mulai berisi dan menyesuaikan pepatah “maju perut pantat mundur”. Rutinitas kerja seharusnya bukan alasan untuk tidak saling menyapa, atau terputusnya silaturahmi. Apalagi kita sama-sama perantauan, perantauan di dunia fana. Maka perlu saling menjaga,  mengingatkan, dan mendoakan. []peta

Penulis Favorit

Saya kembali mampir ke blognya. Ada kerinduan. Tapi terakhir kali blog itu update, tercatat november 2014. Mungkin penulisnya ada kesibukan: rutinitas pekerjaan. Sebagai obat kerinduan, saya membaca lagi buku yang berjudul Buried Alive, buku yang berisi kumpulan catatan pendek yang ditulis oleh penulis favorit saya itu. Tulisannya menyentak, kadang menghantam, tapi ada kebanggaan disana. Kebanggaan akan Islam.

 Karena dia saya belajar menulis, membuat blog, dan membaca buku semacam Nietzsche yang bikin kepala nyut-nyut itu. Tulisan yang tidak kalah menghantam–menghantam disini dalam artian mampu merubah perspektif saya akan sesuatu–adalah tulisan Cak Nun. Saya rasa saya mampu meniru tulisan kang Divan, tapi tulisan Cak Nun berada di level berbeda. Mungkin harus menjadi sufi dulu, atau belajar tarekat untuk mengambil hikmah kehidupan dan menulis seperti Cak Nun.

 Bila ingin tulisan yang agak soft, anda bisa membaca tulisan Ismail Yusanto dengan catatan jubirnya. Mengajak mengamati dinamika politik di Indonesia dengan kacamata Islam. Tema yang berat, tapi tulisan beliau ini terasa renyah serenyah wafer keju.

 Bagaimana dengan tema sastra? ada. Sempatkanlah membeli koran hari minggu Jawa Pos–atau makan di warteg yang ada korannya, disana bisa baca koran gratis–di rubrik ruang putih, ada penulis bertangan dingin, AS. Laksana. Gaya penulisannya dengan bercerita. Bercerita apa saja, tentang film, buku, ataupun kondisi sosial masyarakat saat ini. Mungkin karena disampaikan dengan bercerita, anda akan mudah mencerna tulisannya.

 Yang agak sulit dipahami adalah tulisan Goenawan Mohamad. Entah berapa banyak buku yang ia baca untuk menulis Catatan Pinggir–sebuah kolom yang berada di akhir majalah tempo. Ayu Utami menyebut tulisan GM adalah bahasa yang tak pernah usai. Mari saya kutipkan penggalan Catatan Pinggir, dari “Kalender”, 9 Januari 2011:

 “Lewat tengah malam, ketika kalender diganti, dan orang sadar lebih tua setahun, dan melihat kembali masa 12 bulan yang sebelumnya, dan mencoba berencana untuk tahun 2011, apa yang sebenarnya terjadi? Sebuah mimesis. Mungkin sebuah kelatahan.”

 Untuk urusan penulis bertalenta, Indonesia mempunyai stock yang melimpah. Dan kebiasaan buruk saya jika menjumpai tulisan yang cool, saya ingin menirunya. Namun saya sadar, meski saya meniru (catat: meniru bukan menjiplak) mereka toh tulisan saya tidak akan sebagus punya mereka. Begitu sebaliknya, jika mereka meniru tulisan saya, tidak sebagus bagaimana saya menulis (oi sadar diri!). Setiap penulis mempunyai ciri masing-masing. Dengan banyak ciri atau ragam kepenulisan, dan apabila terus berkembang, tidak terbayang cakrawala kesusasteraan Indonesia menjadi apa nantinya. Mungkin tidak berkembang, melihat harga buku tergolong mahal.

 Nah, siapa penulis favorit anda? []peta

Resolusi 2016: Sebuah Wasiat

Postingan beberapa teman blogger tidak jauh dari bau-bau resolusi. Hal wajar karena ini masih awal tahun 2016. Menulis resolusi, artinya membuat pernyataan tertulis akan harapan yang hendak dicapai, setidaknya untuk satu tahun kedepan. Kadang harapan menjadi begitu penting karena, anda tahu, harapan adalah bahan bakar hidup. Karena sebuah harapan, seseorang mempunyai alasan untuk hidup.
Ada berbagai macam resolusi yang saya baca, mulai dari yang simple sampai rumit: bersikap ramah, murah tersenyum, segera meminta maaf jika punya salah, membuang sampah di tempatnya, mematikan smartphone jika sedang bersama teman, menikah, ingin menguasai bahasa asing sehingga bisa kuliah di eropa, dan lain sebagainya. Saya kira itu resolusi yang bagus.
Bagaimana dengan resolusi saya? terus terang saya belum memikirkannya. Saya pikir resolusi tahun kemarin masih bolong-bolong. Maka saya akan melanjutkan resolusi tahun sebelumnya: tiap bulan khatam baca al qur’an, belajar bahasa arab, tiap hari meluangkan untuk olahraga, perbanyak shalat malam, perbanyak sedekah, tiap bulan khatam satu buku.
Terkait resolusi satu bulan satu buku (sedikit banget ya?), saya punya catatan sendiri. Kuantitas membaca saya berkurang, tapi kuantitas jumlah buku bertambah. Memang tiap bulan saya menganggarkan untuk membeli buku. Dari uang gaji, saya punya kuasa untuk membeli buku yang saya suka. Celakanya, buku-buku yang saya beli itu sampai saat ini belum saya baca. Tapi itu bukan masalah besar, menumpuk buku bukanlah kejahatan melainkan investasi.
Maka resolusi tahun 2016: menghabiskan semua buku yang dibeli. Itu kalau saya masih belum “dipanggil”. Justru ini yang kemudian mengusik saya beberapa hari ini. Kalau saya meninggal, mungkin ngurus saya hal yang mudah. Dimandikan, dikafani, dishalati, dikubur. Saya tidak mempunyai banyak harta, jadi itu bukan masuk persoalan. Yang menjadi kendala adalah buku-buku saya itu. Mau diapakan dan mau dikemanain?
Merepotkan sepertinya, buku saya itu kalau dikarduskan ukuran aqua gelas, setidaknya butuh 5 kardus. Mungkin buku-buku itu akan berakhir di pasar loak. Tapi buku-buku itu direncanakan bukan untuk itu, melainkan tertata rapi di rak buku sebuah perpustakaan.
Maka saya berwasiat: buku-buku saya akan saya wariskan kepada adik perempuan saya. Dia pembaca yang baik, walau bacaannya adalah manga.
Lalu bagaimana dengan anda, apakah anda sudah menulis surat wasiat? []peta

Jejak

Jejak yang kau tinggal membawa sinyal
Kerinduan akan seseorang yang lama hilang
Kau berharap bayangnya segera datang
Tanpa kau tahu ia tertahan
Oleh kepantasan
Untuk itu ia akan belajar: merelakan.

Desember 2015