Judul

14 April 2015 - 2 Responses

Seseorang memberi judul pada karya–entah itu tulisan, lagu, lukisan, dan lain sebagainya–setidaknya mempunyai tiga maksud. Pertama sebagai penjelas kepada karya. Dengan membaca judul, kita tahu gambaran besar sebuah karya, bahkan tidak perlu bertanya lagi maksud dari karya.

Misal saja lagu dari Mulan Jameela, Makhluk Tuhan Yang Paling Sexy. Agak lebih lawas, Astrid, Jadikan Aku Yang Kedua. Tidak sulit memahami, lagu itu berisi ‘tak apa menjadi kedua asal dibuat bahagia’.

Kemudian, judul sekedar identitas, entah judul tersebut berkaitan dengan isi karya atau tidak sama sekali. Biasanya mempunyai judul pendek, satu dua kata, tetapi satu dua kata itulah benang merahnya. Saya kira, Goenawan Mohammad termasuk tipe ini.

Coba lihat lima esai awal di Catatan Pinggir 10 Goenawan Mohammad, ada Titorelli, Kalender, Aktor, Di Islandia, dan Komunisme. Esai berjudul ‘Kalender’ misalkan, tidak membicarakan apa itu kalender, musim, hari, bulan, tahun, atau sistem penanggalan masehi. Tidak! esai itu, mungkin, bercerita kelatahan manusia merayakan tahun baru, sebuah ritual yang diulang-diulang tanpa makna.

Ketiga, judul dibuat sebagai pengecoh. Judul dan isi karya kadang tidak nyambung. Judul dipajang supaya menarik massa kepada karya walau karya, ya itu tadi, tidak sesuai dengan judul. Anda bisa menjumpainya di video-video Youtube.

Judul video Youtube, ada embel-embel ‘paling lucu…’, ‘terfenomenal…”, “harus dilihat…” atau judul heboh lainnya. Sayangnya, ketika di tonton tidak seheboh judulnya. Tampak memang, semakin heboh sebuah judul semakin mengundang orang lain untuk melihat. Otomatis traffic video meningkat. Tidak hanya video Youtube, tulisan website pun kadang melakukan hal serupa.

Di toko buku, ada sebuah buku bercover pink dengan judul yang menggelitik saya “Dear Felix Siauw – Sekedar Koreksi, Biar Enggak Sesat Persepsi“. Buku yang ditulis oleh Sulthan Fatoni, Wakil Sekjend PBNU, mengoreksi terhadap pandangan-pandangan keagamaan yang katanya nyeleneh dari Ustadz Felix Siauw, misal seperti penentuan awal Dzulhijjah, selfie, nasionalisme, khilafah, dan lainnya.

Apa saya membeli buku itu? Saya tidak membelinya, melihat buku itu ditujukan khusus untuk Ustadz Felix. Lagipula saya beranggapan buku koreksi seperti ini sebaiknya disampaikan langsung. Entah sebelumnya oleh penulis buku sudah diberikan langsung ke bersangkutan apa tidak.

Ada tujuan di balik judul. Bisa jadi sekedar mencari sensasi. Dan orang yang teledor, tidak kroscek kesesuain judul dengan isi, mudah menjustifikasi, kadang menyesatkan. Sayangnya, orang seperti itu tidak sedikit. []peta

Ramah

13 April 2015 - 2 Responses

Kisah Dr. Muhammad al-‘Areifi dalam bukunya Enjoy Your Life, ditulis oleh Dr. Areifi sendiri, mengajarkan cara mendapat respek dari orang lain. Sederhana saja, bersikaplah ramah!

Sudah tiga belas tahun Dr. al-‘Areifi bertugas menjadi imam dan khatib di Masjid Jami’ Akademi Militer Saudi Arabia. Selama itu, untuk sampai ke masjid tersebut, Dr. ‘Areifi harus melewati sebuah pintu gerbang yang dijaga ketat oleh seorang tentara yang bertugas membuka dan menutupnya.

Setiap melewati pintu gerbang itu, Dr. ‘Areifi, dari dalam mobilnya, selalu membiasakan diri dengan keramahan; selalu melambaikan tangan sebagai tanda salam dan melontarkan senyuman yang tulus kepada si petugas jaga.

Suatu hari, karena menerima banyak sekali sms yang masuk ke handphone hingga Dr. Areifi sibuk membaca sms dan lupa tidak melambaikan tangan serta melontarkan senyuman kepada si penjaga yang membukakan pintu gerbang.

Beberapa hari berikutnya, betapa terkejutnya Dr. Areifi ketika tiba-tiba seorang penjaga memberhentikan mobilnya terlebih dahulu dan tidak langsung membukakan pintu. Maka Dr. Areifi pun keluar dari mobil menghampiri si penjaga tersebut. Namun, si penjaga itu langsung menyapanya lebih dahulu. “Ya Syaikh…, apakah Anda marah kepadaku?” tanyanya.

“Soalnya, ketika saya bertugas beberapa hari lalu, Anda melambaikan tangan dan tersenyum kepada saya ketika Anda hendak masuk, tapi ketika Anda hendak keluar, Anda sama sekali tidak melambaikan tangan dan tidak menoleh sedikit pun kepada saya.”

Sontak, Dr. Areifi sadar bahwa penjaga ini adalah orang yang bertugas pada hari ketika Dr. Areifi lupa melambaikan tangan dan melontarkan senyuman beberapa hari lalu. Akhirnya, Dr. Areifi meminta maaf dan menjelaskan kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.

Akhlaq Dr. Arefi, bersikap ramah, membuat beliau menjadi pribadi yang disukai. Hal yang wajar, bukan, kita lebih menyukai orang yang bersikap ramah ketimbang orang yang wajahnya cemberut dan tidak tersenyum sedikitpun. Berada didekatnya bisa-bisa anda ikut cemberut!

Saya belajar dari kisah Dr. Areifi tersebut. Aturan tempat parkir di tempat saya bekerja, keluar dari parkir harus menunjukkan STNK. Tapi tiba giliran saya, saya dipersilakan lanjut tanpa menunjukkan STNK. Sedangkan pengendara lain, masih menunjukkan STNK motornya. Kenapa itu terjadi? Simple saja, saya meniru Dr. Areifi, bersikap ramah dengan menyapa pak penjaga parkir dan tersenyum tulus.

Keramahan adalah kunci pergaulan dengan orang lain. Memang bukan jaminan anda bersikap ramah, anda akan diperlakukan ramah juga. Justru yang bersikap ramah saja belum tentu mendapat perlakuan ramah dari orang lain, apalagi yang tidak bersikap ramah. Dan, tentu saja, seorang muslim bersikap ramah, sopan, lemah lembut, bukan karena manfaat dari bersikap seperti itu, tapi memang Islam memerintahkan umatnya untuk berakhlaq demikian.

Saya senang mengikuti tips dari Dr. Areifi. Saya yang sering lupa bawa STNK motor bisa leluasa keluar dari parkir! []peta

Presiden Kecolongan

10 April 2015 - 3 Responses

Apa jadinya ketua sebuah organisasi tidak tahu isi peraturan yang sebelumnya sudah diteken oleh ketua itu sendiri. Jika peraturan tersebut berdampak positif mungkin tidak masalah, tapi bagaimana jika sebaliknya. Itu benar-benar terjadi, bahkan terjadi pada sebuah negara bernama Indonesia.

Presiden RI, Joko Widodo, mengaku tidak mengetahui detail Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2015 tentang Pemberian Fasilitas Uang Muka Bagi Pejabat Negara untuk Pembelian Kendaraan Perorangan. Perpres ini mengubah Pasal 3 Ayat (1) Perpres No. 68/2010 yang menyebutkan, fasilitas uang muka diberikan kepada pejabat negara sebesar Rp 116.650.000, yang diubah menjadi Rp 210.890.000.

Belakangan, Presiden Jokowi mengatakan Perpres uang muka mobil pejabat akan dicabut. Langkah yang bijak jika Perpres tersebut akhirnya dicabut melihat negeri ini tengah kesulitan ekonomi.

Menarik bahwa Pemerintah sampai kecolongan. Dari Perpes DP mobil tersebut, pejabat bisa mendapat tambahan uang ratusan juta. Presiden sendiri berdalih tidak selalu memeriksa sejumlah Perpres secara rinci lantaran begitu banyak jumlah dokumen yang ia harus tandatangani.

Presiden memang tidak perlu memeriksa satu-satu dokumen yang masuk, staf pembantu Presiden dapat menjelaskan isi dari tiap dokumen sebelum Presiden menandatangani.

Apabila Perpres sudah diteken, kemungkinannya ada dua; Presiden menyetujui isi Perpres, atau Presiden asal teken karena percaya Perpres tersebut sudah dikaji oleh staffnya.

Kemungkinan yang lain, kata teman saya, Jokowi tidak waras meneken Perpres tanpa melihat isi Perpres tersebut. Saya tidak setuju, Jokowi tidak akan menjadi Presiden RI jika tidak waras, bahkan Presiden Jokowi, saya kira, tingkat kewarasannya diatas rata-rata rakyat Indonesia.

Implikasi dari kemungkinan pertama, Jokowi tidak peduli dengan nasib rakyat yang kini menghadapi dampak naiknya harga BBM, tarif dasar listrik, LPG 3 kg, kereta, belum lagi beras mahal dan nilai tukar rupiah terhadap dolar kisaran 12.000 – 13.000.

Dicabutnya Perpres, menunjukkan Jokowi masih punya hati. Insiden ditandatangani Perpres tersebut bisa jadi kelalain staff pembantu Presiden, sebagaimana diamini oleh Andi Widjajanto, Sekretaris Kabinet (Seskab). “Jadi pengawalannya dari Seskab sendiri sudah dilakukan, hanya saja kami lalai secara substantif untuk mengatakan presiden secara timing tidak tepat karena dinamika ekonomi yang terjadi,” kata Andi seusai rapat kabinet di Istana Negara, Senin (6/42015).

Benarkan terjadi kelalaian? Mana yang lalai, Jokowi atau staffnya? Titik poinnya bukan mencari pihak mana yang lalai. Munculnya ide penambahan uang muka mobil pejabat, yang awalnya diajukan oleh DPR, sudah tidak benar. Rakyat tidak mendapat manfaat dari Perpres tersebut–kecuali keinginan rakyat untuk punya mobil mewah terwakili oleh wakil rakyat.

Mungkin kita harus berpikir ulang, untuk apa memilih wakil rakyat yang tindak tanduknya tidak memihak rakyat? []peta

Fragmen Perjalanan

6 April 2015 - Leave a Response

Motor saya yang selalu ‘selamat’ melewati tingginya pasang banjir di Surabaya, akhirnya mogok juga. Mogok dalam perjalanan pulang ke kampung halaman di Madura sana.

Motor saya mogok tepat setelah keluar dari pintul tol jembatan suramadu di sisi pulau Madura. Setelah coba oprek sendiri, buka busi, starter kaki, masih tetap tidak mau jalan malah asap keluar dari knalpot. Saya menyerah!

Dari banyaknya stand yang berjejer di sepanjang jalan berjualan aneka macam souvenir khas Madura, dari layangan, kaos, celurit, petis, dan entah apa lagi. Tapi saya cuman butuh satu, bengkel. Dan itu tidak ada sama sekali, kecuali dari kejauhan sana ada papan tertulis bengkel, hanya saja untuk mobil atau truk. Ah mobil dan motor tidak jauh beda, coba saja!

Bapak pemilik bengkel bersedia memeriksa motor saya. Di bukanya busi, masih ada letupan. Di bukanya selang, bensin masih masuk. Cuman mesin tidak ada konversi, bapak bengkel pun menyerah.

Jam di hp menunjukkan angka 16.30, saya harus segera ambil keputusan. Pilihan paling logis, membawa motor saya ke bengkel terdekat dan meneruskan perjalanan saya menaiki bis. Cuman bengkel terdekat setidaknya 10 km lagi. Alamak!

Saya pasrah saja menuntun motor sejauh 10 km, sebelum akhirnya datang seorang bapak berkopiah putih datang ke bengkel truk itu. Saya bertanya ke bapak itu, bengkel terdekat. Kata beliau bengkel terdekat paling masih 10 km lagi. “Kalau mau”, kata bapak “keponakan saya bekerja di bengkel.”

“Orangnya ada pak? Kalau ada, bisa minta tolong, pak.”

Bapak berkopiah putih itu mengangguk. Karena tidak bawa HP, beliau menjemputnya di rumah.

Sekitar 10 menit bapak tersebut tiba. Pria yang duduk di belakang, turun dan dengan sigap memeriksa motor saya. Busi dibuka, oli diperiksa, persis seperti yang dilakukan bapak bengkel sebelumnya. “Motornya tidak ada konversinya mas? Saya harus memeriksa mesin motor.”

“Masnya bisa perbaiki?”

“Bisa, tapi perlu saya bawa ke rumah saya.”

Otak saya berpikir keras, alarm waspada tetap disiagakan. “Baik mas, saya ikut  ke rumah sampeyan.” Rumahnya agak masuk ke perkampungan. Sebagian besar rumah warganya masih dari bilik kayu.

Tiba di rumahnya, saya menanyakan kira-kira biaya yang dibutuhkan. “Nanti saya minta notanya.” Setelah mendapat no hp, saya berpamitan melanjutkan perjalanan.

Beberapa bis lewat tapi tidak ada yang berhenti untuk mengangkut saya. Malah yang berhenti sebuah truk. “Pak,” kata saya dengan wajah memelas, “bisa minta tolong ikut sampai pertigaan sana.” Sopir mengangguk. Tanpa basa basi saya naik. Di pertigaan, daerah langker, saya bisa naik minibus elf.

Truk melaju, dan saya otak saya berpacu, “motor saya aman nggak ya? []peta

*be continued..

#KembalikanMediaIslam

1 April 2015 - 2 Responses

Saya tidak punya TV, untuk mendapat berita terkini saya mengandalkan portal berita online. Aktivitas tersebut, baca berita, biasanya saya lakukan sebelum memulai aktivitas kerja. Anda tahu, berkembang pesatnya teknologi informasi terutama sosial media, sebuah  berita walau berada di belahan bumi lainnya dapat tersebar dalam hitungan detik.

Perkembangan dunia olah raga juga saya ikuti, terutama sepak bola. Membaca berita olahraga, saya kira bagus untuk mood kita di pagi hari. Olahraga identik dengan semangat, siapa tahu dengan membacanya spirit kita terbakar. Apalagi mengetahui tim jagoan kita menang.

Bagaimana dengan berita seputar Islam? Saya berlangganan majalah dwi mingguan Media umat dan buletin bulanan Al Wai’e. Dua buletin tersebut cukup untuk mendapat gambaran seputar dunia Islam saat ini lengkap dengan segala persoalannya. Walaupun demikian  saya masih perlu buka situs website Islam untuk mendapat informasi teraktual.

Sayang baru-baru ini Kominfo atas rekomendasi BNPT, memblokir situs online Islam. Ada 19 situs yang diblokir, menyusul 3 situs yang sebelumnya diblokir seperti shoutussalam.com, azzammedia.com dan indonesiasupportislamicatate.blogspot.com. Alasan pemblokiran karena dikategorikan sebagai website penggerak radikalisme. Dan kaitannya dengan ISIS.

Saya tidak habis pikir, situs seperti dakwatuna dan hidayatullah termasuk situs yang diblokir alias situs simpatisan radikal. Saya sering membuka situs dakwatuna, efek membaca konten di dalamnya apakah saya menjadi orang yang lebih radikal, ‘senggol bacok!’ begitu? Tidak!

Sedangkan hidayatullah, saya mengikuti kajian dimana ustadnya adalah seorang pengajar di hidayatullah. Ustad yang sederhana ini, saya kira membunuh nyamuk pun tidak berani. Kajiannya tidak ada yang aneh, seperti ustad pada umumnya mengajarkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Pasca kajian saya lihat tidak ada yang melakukan tindakan radikal, jamaahnya tiba-tiba saling serang saling perang!

Jadi apa yang dimaksud radikal oleh BNPT? Okelah mungkin ke-22 situs tersebut adalah situs radikal, mengajarkan kekerasan untuk mencapai tujuan. Cuman ada kah bukti yang menunjukkan gara-gara membaca situs tersebut, seseorang bertindak radikal?

Pertanyaan tersebut harus dijawab oleh BNPT, atau bisa-bisa pembaca yang budiman meminta supaya staff BNPT dan jajaran di Kominfo diblokir dari surga kelak di akhirat, mau? []