kumohon

24 February 2015 - 2 Responses

entah berapa kali ku salah
entah berapa kali mengeluh kesah
membuatmu gelisah
membuatmu resah
maafkan, kumohon..

aku akan berjuang
tak akan menyerah
tak akan kalah
terus berusaha
menggapai cita-cita
sehingga saat kau melihatku
engkau tersenyum bangga
doakan, kumohon..

*bunda, kumohon..*

Jurus Maut Menghafal Al Qur’an

3 February 2015 - 3 Responses

Sebuah motor parkir di depan kontrakan. Dari suara motornya aku tahu itu Bhumi yang datang. Bunyi motornya khas gara-gara knalpotnya bolong. Ia sering main dan keluar masuk kontrakan sini seakan dia salah satu penghuni kontrakan. Coba lihat, dia langsung menyelonong masuk saja. Ketika melihatku dia menghampiri dan menyalamiku dan, tentu saja, ia tersenyum kepadaku atau kepada siapa saja, kepada tiap orang yang ia temui. Itu bukan berarti ia gila, tapi sebagai tanda persahabatan katanya.

Aku sedang duduk di ruang tengah, membaca mushaf Al Quran. Bukannya sok alim, tapi membaca Al Qur’an seusai shalat sudah hal mainstream, justru aneh jika kau tidak melakukannya.

“Sudah shalat Magrib Mi?” Tanyaku yang dijawabnya dengan anggukan. Dia duduk di kursi kayu di sudut ruang tengah. Tangannya memegang smartphone dan mulutnya seperti sedang komat kamit.

“Kau sedang apa Mi dan mau ngapain kesini?” Tanyaku lagi. Dia memandangku.

“Aku kesini mau menirumu, Pet,” jawabnya sambil menunjukkan layar smartphonenya. Oh, dia sedang membuka aplikasi Al Qur’an. Ooo, dia sedang membaca Al Qur’an.

“Aku tahu kamu sedang menghafal Al Qur’an, aku juga ingin menghafal Al Qur’an. Ajarin dong, jurus supaya hafal Al Qur’an?” Tanyanya.

Apa aku tidak salah dengar. Barangkali ia baru kecelakaan, tiba-tiba muncul di kontrakan dan mengatakan ingin menghafal Al Qur’an. Apa perlu kecelakaan dulu supaya orang-orang itu mau menghafal Al Qur’an.

“Jika kamu ingin hafal Al Qur’an, yang perlu kamu lakukan adalah..” kataku sepotong. “Yang perlu kamu lakukan adalah menghafal satu ayat.”

“Lho kog bisa dengan satu ayat bisa hafal Al Qur’an, ngaco kamu!”

“Lha nggak percaya,” kataku meyakinkan. “Coba kamu amati, apa yang dibutuhkan pelari untuk memenangkan lomba lari? Dimulai dari satu langkah bukan. Apa yang diperlukan pengusaha sukses? Dimulai dari merintis satu usaha. Apa yang dilakukan oleh penulis untuk menghasilkan buku? Dimulai dengan menulis satu lembar halaman. Jadi itu pula yang perlu kamu kerjakan untuk hafal Al Qur’an, menghafal satu ayat!”

“Dan setelah hafal satu ayat, kamu hafalin satu ayat ayat berikutnya, kemudian ayat berikutnya dan selanjutnya sampai kamu hafal keseluruhan ayat.”

“Iyee kalau cuman gitu, aku juga tahu, Pet,” katanya protes.

“Kamu sudah tahu, tapi sudah ngelakuin belum?”

“Kalau itu belum, hehe,” ujar Bhumi cengengesan.

“Nah, simple kan. Kamu tinggal hafal satu ayat satu ayat. Sekarang ada duit 10ribu nggak?

“Lho buat apa? apa hubungannya uang 10ribu dengan hafal Al Qur’an, Pet!”

“Nggak ada, aku cuman mau pinjem buat beli makan…”

“Haish, kamu ngafalin Al Qur’an tapi masih ngutang.”

“Mending, daripada orang yang paham ayat tapi nggak kelakuin seperti yang diperintahkan ayat itu. Disuruh nutupin aurat malah umbar aurat. Diwajibkan ninggalin riba, malah punya bunga bank dimana-mana. Bisa neraka kamu!”

“Eh kalau aku ngafalin ayat, aku jadi ngerti ayatnya. Kalau ngerti tapi nggak kelakuin, jadi ahlul neraka dong. Apa aku nggak usah hafal aja ya..”

“Hush, tambah gawat lagi kalau kamu nggak paham ayat.. emang hidupmu itu mau disandarkan kemana kalau bukan ayat-ayatnya Gusti Allah.” []

13 January 2015 - Leave a Response

dikala janji hanya bualan
harapan ditelarkan
kepercayaan hilang melayang

dikala keadilan dibuat sulit
rakyat menjerit
mengundang huru hara pentas diatas penderitaan

tampillah jiwa-jiwa perlawanan
menentang penguasa tunduk pada uang
tabuhkan genderang perang
walau timah panas menghadang

tegak berdiri
demi ridho Ilahi

Charlie Hebdo dan Ketidakmauan Tunduk Pada Kebebasan

12 January 2015 - 3 Responses

Sepotong adegan dalam film, saya lupa judul filmnya, menggambarkan seseorang bocah berumur 5 tahun mengganggu kakak perempuannya yang berumur dua tahun lebih tua darinya. Kesal diganggu, sang kakak akhirnya memukul adiknya. Tentu saja ia menangis dan ketika itu pula ibunya datang, “kakak, jangan pukul adikmu!”

Adegan itu membekas dalam benak saya. Rasa-rasanya waktu kecil saya juga pernah melakukannya kepada kakak perempuan saya. Entah dogma darimana yang membuat saya berpikiran bahwa wanita adalah makhluk yang diciptakan untuk diganggu–kadang mereka memang suka ‘diganggu’.

Sang kakak tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Kalau tidak memukul adiknya, mungkin adiknya akan terus mengganggunya. Bahkan bisa jadi itu sebuah perangkap yang dibuat oleh sang adik supaya kakaknya yang baik itu dimarahi oleh ibunya. Licik bukan!

Tanggal 7 januari merupakan hari suram bagi negara Prancis. 12 orang, 10 diantaranya staff majalah Charlie Hebdo, meninggal di tempat karena dua orang pria bersenjata menyerbu masuk ke kantor majalah tersebut.

Charlie Hebdo–atau yang dalam bahasa Inggris dikatakan Charlie Weekly–adalah majalah Perancis yang memuat kartun-kartun satir. Majalah satir ini pernah memuat gambar karikatur Nabi Muhammad SAW dan memicu kemarahan umat muslim dunia. Belum ada kepastian bahwa pelaku penyerangan, yang diketahui muslim, melakukan penyerangan karena terprovokasi kartun yang dibuat oleh majalah tersebut.

Buntut dari peristiwa penyerangan ini, media dan para politisi Barat mengarang cerita di seluruh dunia bahwa para wartawan Charlie Hebdo tewas sebagai akibat dari perang melawan kebebasan berbicara. Insiden teror Charlie Hebdo juga berimbas pada kebencian umat Islam di Prancis. Granat dilemparkan ke masjid. Lubang peluru juga ikut ditemukan di salah satu jendela masjid di Le Mans.

Insiden Charlie Hebdo tidak ubahnya adegan adik kakak yang saya tonton. Charlie Hebdo, dengan kartun-kartunnya yang menghina, dapat memprovokasi siapa saja untuk balas dendam. Lagipula menghina bukanlah freedom of speech. Dan menghina Nabi Muhammad SAW adalah kesalahan fatal.

Di Perancis, kebebasan berbicara ataupun kebebasan berekspresi tidak lah benar-benar bebas. Kebebasan berekspresi hanya berlaku untuk sebagian orang dan tidak bagi orang lain. Perempuan muslim didenda apabila memakai niqab dan dilarang mengenakan jilbab ketika di sekolah.

Penyerangan dan main hakim sendiri, tentu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Tapi, seorang muslim, jangan mau menerima Nabi nya dihina dan tunduk pada kebebasan berbicara! []peta

freedom

(Bukan) Dunia Sophie

31 December 2014 - 6 Responses

Di dunia hewan dikenal istilah hewan omnivora yaitu hewan pemakan segala. Barangkali dalam hal membaca, saya dapat digolongkan manusia “omnivora”. Pembaca segalanya, ya novel, majalah, newsticker di TV, tweet twitter, status facebook, kitab suci (Al Qur’an) dan lainnya. Saya melakukannya bukan karena saya suka tapi saya butuh. Sama seperti halnya Anda haus maka Anda minum. Kalau lapar Anda Makan. Kalau saya ingin tahu akan suatu maka saya membaca.

Karena ingin tahu kasus Pembunuhan Munir, saya membaca majalah Tempo edisi 8-14 Desember yang khusus membahas pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib. Dari sana saya tahu bahwa saksi penting atas pembunuhan Munir, Ongen Latuihamallo, mati tak wajar setelah bentrok dengan seorang akibat kecelakaan ringan di jalan raya.

Selain itu mantan ketua BIN A.M. Hendropriyono diduga ikut terlibat kasus pembunuhan Munir. Sampai saat ini Hendro tidak tersentuh atau memang tidak bisa, melihat Hendropriyono dikenal dekat dengan ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan merupakan Tim Transisi pemerintah?

Terkadang keinginan membaca muncul karena pengaruh lingkungan sekitar. Teman-teman saya membicarakan novel Dunia Sophie, novel filsafat yang katanya membuat pusing yang membacanya. Karena penasaran saya diam-diam membeli novel tersebut di toko buku. Cetakan terbaru novel tersebut mempunyai cover yang berbeda, tidak bergambar wayang.


Saya baru membacanya sampai 3 bab awal. Saya kira saya tahu mengapa novel itu membuat orang pusing. Di halaman 35 tertulis, “segala sesuatu yang ada harus ada permulaannya.” Bagi yang jeli, kalimat ini menyentuh konsep ketuhanan. Penulisnya, Jostein Gaarder, pintar sekali menaruh point di atas di bab pertama. Jika point ini disetujui, maka benteng keimanannya terhadap Tuhan dibuat rapuh semenjak bab pertama.

Tuhan, Anda tahu, mempunyai sifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir). Jika Tuhan berawal atau Tuhan menciptakan dirinya sendiri sebelum dia mempunyai “diri”, tentu Tuhan tersebut bukan Tuhan. Tidak mungkin Tuhan sebagai pencipta dan di sisi lain sebagai ciptaan (makhluk).

Novel itu juga mengkaji tentang eksistensi manusia. Darimana manusia berasal, untuk apa manusia diciptakan, dan kemana manusia setelah mati. Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani menyebut tiga pertanyaan tersebut sebagai uqdatul kubro (persoalan besar manusia). Jawaban atas uqdatul kubro akan menjadi aqidah. Orang tersebut akan menjalani hidupnya diatas jawabannya terhadap uqdatul qubro. Bayangkan jika seorang menjawab bahwa manusia ada dengan sendirinya (setelah melalui proses evolusi), tujuaanya di dunia untuk menguasai dunia (memenangi seleksi alam), dan setelah dunia tidak ada dunia lagi (akhirat). Saya kira akan lahir Hitler Hitler baru!

Saya belum melanjutkan membaca novel Dunia Sophie. Sangat menarik. Tapi sebaiknya saya membaca buku Mafahim Islamiyah karya Ustadz Hafidz Abdurrahman yang belum tuntas saya baca. Atau saya selesaikan dulu buku at-Tafkir. Ah bacalah apa yang ingin ada baca! []peta