Ajal Yang Tertunda

Seperkian detik kemudian Peta merasakan perihnya gesekan antara kulit dan kasarnya aspal jalan. Atau tepatnya cor jalan. Suara truk dibelakangnya makin mendekat. Ia pasrah. Pasrah untuk dilindas, menjadi gepeng seperti gepengnya nyamuk bila kena tepuk. Seperkian detik ia membayangkan, mungkin darahnya akan muncrat layaknya saos yang menyembur dari sachet-an.
 
Tapi suara mesin itu berhenti. Ia menoleh. Ternyata truk di belakangnya berhenti seakan mau memberi perintah, “Minggir kau!” Kali ini tidak mau benar-benar dilindas, ia mencoba berdiri. Tidak bisa. Kaki nya tidak bisa digerakkan. Sakit. Ia menoleh lagi ke belakang. Truk itu masih disana menunggu. Ia bertanya, “Kenapa supirnya tidak keluar saja dan membantunya.” Aslinya si supir sudah menolongnya atau tepatnya objek yang berada di luar kekuasaan si supir yang menggerakkan kakinya untuk menginjak rem.
 
Peta ngesot. Mengerahkan tenaga yang tersisa dan berkompromi dengan tubuhnya yang shock untuk berpindah tempat ke tepi jalan. Dua pengendara motor berhenti, pengendara motor yang berhenti terakhir berjalan ke arahnya. Membopongnya ke pinggir jalan. Pengendara motor lain tidak kalah krusial perannya, memindahkan motor dari tengah jalan.
 
Peta duduk saja di pinggir jalan yang berdebu itu. Truk yang tadi dibelakannya sudah tidak nampak lagi kecuali berseliweran truk yang lebih besar. Pengendara motor yang tadi membantunya, pamitan untuk meneruskan perjalanan. “Matur suwun sanget”, kata peta. “Mas nya minta dijemput saja, telepon orang rumah,” balas pengendara motor berjaket hitam itu. Permintaan itu jelas tidak mungkin dipenuhinya. Ada pula warga sekitar yang berucap, “Mas nya hati-hati lewat sini. Banyak jalan berlubang.”
 
Setelah melepas helm nya, ia bisa melihat kondisi jalan yang ia lewati dengan jelas. Jalan yang asing ia lewati: jalan Osowilangon. Bukan jalan aspal melainkan cor. Mungkin karena tidak kompetennya kontraktor pembuat jalan, atau terbatasnya anggaran, atau pengerjaan jalan yang tidak dalam waktu yang bersamaan, menyebabkan ada space (baca: rongga) di tengah jalan. Rongga yang cukup membuat ban motor yang masuk kedalamnya akan bernasib sama seperti Peta. “Mas nya masih untung tidak kena muka. Kapan hari ada pengendara motor yang mukanya berdarah.”
 
Cuaca masih gerimis. Peta melihat jamnya–tergores tapi masih berfungsi–menunjukkan angka enam petang. Ia kini tahu kondisinya. Celana hitamnya sobek sana sini terutama dengkul. Dengkulnya berdarah. Peta tidak merasa kakinya ada yang patah tapi kaki kanannya sakit dibuat untuk berjalan. Motornya masih gagah dan yang penting bisa dinyalakan. Tanpa pikir panjang ia naik dan segera pulang. Dalam perjalanan ia mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Ia tidak ingat kronologis bagaimana ia terjatuh. Seakan itu sudah ter-skip dalam memori otaknya. Tapi ia ingat, kalau ia selamat dari kecelakaan tunggal itu, ia akan rajin shalat malam. Sebuah janji yang harus ia ingat sampai ajal berikutnya menjemput. Kini yang penting, ia berharap ketika tiba di surga kecilnya, Bulan—sang istri–sudah tertidur. []
 
*22 Oktober 2016, 2 minggu setelah kecelakaan dan tumit masih sakit.

Hujam

Harta karun itu bernama Al Quran.
Dan, kita, terlalu dungu menganggapnya
bacaan sambil lalu.
Bukan bacaan yang menghujam pikiran
untuk berlandas dalam kehidupan

.

Ahok

Pilpres tahun 2014 sudah usai. Kita pun tahu pemenangnya: Jokowi-Jk dengan jargon Nawacita. Tapi keriuhan pasca pilpes tidak pudar. Kegaduhan antara kubu pendukung Jokowi dan yang kontra, tidak menunjukkan tanda-tanda surut. Yang satu bangga akan prestasi pemerintahan Jokowi, yang satu lainnya senantiasa menunjukkan kegagalannya. Tidak ada titik temu. Dan kini kita, setidaknya saya, harus bersiap lagi menghadapi situasi yang hampir sama: pilkada Gubernur Jakarta.

Tapi Jakarta adalah etalase Indonesia. Pemberitaan di Jakarta akan menjadi berita yang menyebar ke pelosok-pelosok kampung. Data kita tahu, pemenang pilkada Jakarta bisa menjadi batu loncatan untuk nyapres–dan menang. Bagi partai politik, pilkada Jakarta sebagai ajang mengukur kekuatan yang dilihat dari kacamata rakyat: buat apa?

Namun semarak kampanye sudah mulai terasa sesak di dunia maya. Misalnya beberapa waktu lalu muncul foto tiga orang gadis berkrudung membawa kertas bertuliskan, “Saya Muslim Saya Dukung Ahok”.

Bagi satu pihak, mungkin kubu kontra Ahok, foto itu menunjukkan kelicikan. Wanita di dalam foto tersebut katanya beragama nasrani yang menyamar menjadi muslimah dan menyatakan dukungan pada Ahok.

Tapi tak lama wanita yang berada di foto tersebut konfirmasi memberi bantahan. Ia beragama Islam dan memang wanita berkrudung biru dalam foto itu adalah dirinya.

Mana info yang benar? Siapa fitnah siapa? Entahlah. Kejadian tersebut hampir sama dengan pilpres lalu. Jokowi dikatakan dibekingi 9 Taipan China! Jokowi adalah boneka dari pimpinan partai. Benarkah? Bisa jadi. Waktu pula yang menjawabnya.

Pertarungan menuju DKI 1 masih dalam tahap pemanasan. Maka kegaduhan tampaknya belum usai dan akan makin masif. Hanya saja, anda tahu, kegaduhan yang berlarut-larut membawa kebosanan dan keapatisan. []peta

fitnah ahok
sumber foto : facebook

Pa’De

Beliau sudah lupa dengan suaraku. Bahkan ketika ku sebut nama, beliau mengulang-ulang namaku sampai tiga kali baru kemudian berkata, “Oh gimana kabarnya mas Peta? Sudah sukses sekarang nih. Hahaha”

Ah suara tawa yang ngangenin. Kalau kamu masih ingat penyayi ‘tak gendong’, nah suara tawa beliau 11-12 dengan tawa (alm.) mbah Surip. Mungkin karena mereka satu angkatan: sama tuanya.

Terakhir kali aku bertemu beliau, 4 bulan yang lalu untuk: pamit. Hari berikutnya aku tidak bekerja di proyek gedung. Dan otomatis aku tidak bisa belajar dari rekan kerjaku itu–lebih tepatnya mentor kerja.

Pa’De, panggilanku kepada beliau, adalah seorang surveyor senior. Entah berapa proyek kontruksi yang beliau kawal. Entah berapa pengalaman bangun gedung yang beliau punya. Itu yang kemudian menjadi pertimbanganku untuk bertahan. Tapi aku kalah, kalah akan sikap tidak mau tahu pak Proyek Manager.

Alhamdulillah beliau masih sehat, mengingat umur beliau yang kepala lima–atau enam entahlah–dan beliau perokok aktif sangat aktif. Mungkin pekerjaan sebagai surveyor membuat beliau tetap sehat. Kamu tahu surveyor adalah pekerja lapangan. Banyak menguras tenaga, banyak memeras keringat. Kulit kami sepertinya sudah kebal dengan teriknya sengat matahari. Dan kami dituntut untuk senantiasa fokus, menjaga tingkat keakuratan kalau tidak mau revisi dan kerja dua kali.

Hampir 30 menit kami mengobrol. Dulu, saat aku masih di proyek, kami hampir ngobrol seharian. Temanya bisa apa saja, tentang kontruksi, pekerjaan, tembang kenangan, atau perihal masalah keluarga. Saya ingat, saya pernah bertanya kepada Pa’De. Pertanyaan yang aku dapat dari curhatan Pak Mandor: “Mas, kalau menurut sampeyan, saya harus bagaimana, anak-anak saya minta warisan padahal saya sendiri masih hidup!”

Waduh, saya mau jawab gimana. Waktu itu saya bilang, “Maaf pak, saya tidak mumpuni untuk menjawab pertanyaan bapak.” Jawaban itu mungkin tidak akan memuaskan pak Mandor, tapi melihatnya menghembus nafas lega, sepertinya ada beban yang berkurang.

Nah pertanyaan itu aku tanyakan lagi kepada Pak’De, “Gimana menurut sampeyan Pa’De?” Aku lihat Pa’De mengernyitkan dahi, sepertinya berpikir keras. “Semoga anak cucu kita tidak seperti itu  ya mas. Pertanyaan itu pertanyaan yang tidak pantas!” Begitu jawab beliau, pendek. Aku hanya mengaminkan, dalam hati.

Obrolan terakhir, aku mengutarakan niat membuka usaha. “Bagus itu mas,” kata beliau yang terdengar antusias ditelingaku. “Coba lihat orang-orang sukses, mereka adalah pemberani karena mau mencoba, mereka berani karena siap menghadapi resiko. Pa’De pengen juga, tapi Pa’De kan sudah tua. Hahaha.”

Terima kasih Pa’De, nasihatnya. Pingin rasanya bekerja sama lagi dengan beliau. Meneguk sari pengalaman hidup dari orang yang aku hormati. Tidak banyak pemuda yang nantinya bisa berpengalaman sepertimu Pa’De, dan juga berumur sepertimu-mungkin termasuk diriku. []peta

Loyalitas Kerja

Pernah bekerja di dua perusahaan, kesamaan dua perusahaan tersebut: tidak banyak karyawan yang bertahan lama. Saya sendiri misalkan, memilih resign dari perusahaan sebelumnya. Alasannya, menurut saya, manajemen perusahaan tersebut buruk. Banyak problem di proyek. Tapi perusahaan tidak mau tahu. Mereka hanya ingin dengar: proyek jalan!

Tapi manusia bukanlah mesin—dan mesin bukan manusia–jika ada masalah butuh penyelesaian. Masalah yang menumpuk, dan tak terselesaikan akan menjadi beban. Pada suatu titik, ketika manusia mencapai limitnya beban itu tak tertampung. Efek paling ringan: capek.

Tapi berbeda 180 derajat dengan tempat saya bekerja sekarang yang lebih enjoy. Cuman itu tadi, kog karyawan lama pada keluar.

Pertanyaan tersebut terjawab setelah saya bertemu dengan salah satu mantan karyawan. Kebetulan saya mengenalnya dan ketika ada proyek (hanya proyek kecil-kecilan lumayan menambah uang saku), saya mengajak beliau. Saya sempat bertanya, “Pak kog sampeyan keluar? Karyawan yang lama juga pada kemana?” Beliau menjawab, “mas,” mengambil nafas sejenak, “kalau hasil proyek perusahaan yang limpah ruah itu di bagi-bagi, siapa yang mau keluar?”

Mengejutkan. Akankah saya bernasib sama? Menanggalkan loyalitas. Bukankah percuma loyalitas, jika loyalitas yang kita beri tidak ada harga. Entahlah, yang perlu saya lakukan adalah bekerja sebaik mungkin. Mungkin suatu saat (direktur) perusahaan akan merubah kebijakan. Atau jangan-jangan karyawan lama itu yang tidak sabaran, terburu-buru keluar?

Tapi bekerja adalah ibadah, harus dilakukan dengan ikhlas dan tulus. Pernah Rasulullah bertanya soal tangan Muadz bin Jabal yang kasar. Setelah dijawab bahwa itu akibat setiap hari dipakai bekerja untuk keluarga, Rasulullah memuji tangan Muadz seraya bersabda, “Tangan seperti inilah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”.

Bekerjalah. Bekerjalah untuk mendapat ridho-Nya. Kalau malah menjauhkah: tinggalkan! []peta
*sumber gambar: koleksi pribadi