Penulis Favorit

Saya kembali mampir ke blognya. Ada kerinduan. Tapi terakhir kali blog itu update, tercatat november 2014. Mungkin penulisnya ada kesibukan: rutinitas pekerjaan. Sebagai obat kerinduan, saya membaca lagi buku yang berjudul Buried Alive, buku yang berisi kumpulan catatan pendek yang ditulis oleh penulis favorit saya itu. Tulisannya menyentak, kadang menghantam, tapi ada kebanggaan disana. Kebanggaan akan Islam.

 Karena dia saya belajar menulis, membuat blog, dan membaca buku semacam Nietzsche yang bikin kepala nyut-nyut itu. Tulisan yang tidak kalah menghantam–menghantam disini dalam artian mampu merubah perspektif saya akan sesuatu–adalah tulisan Cak Nun. Saya rasa saya mampu meniru tulisan kang Divan, tapi tulisan Cak Nun berada di level berbeda. Mungkin harus menjadi sufi dulu, atau belajar tarekat untuk mengambil hikmah kehidupan dan menulis seperti Cak Nun.

 Bila ingin tulisan yang agak soft, anda bisa membaca tulisan Ismail Yusanto dengan catatan jubirnya. Mengajak mengamati dinamika politik di Indonesia dengan kacamata Islam. Tema yang berat, tapi tulisan beliau ini terasa renyah serenyah wafer keju.

 Bagaimana dengan tema sastra? ada. Sempatkanlah membeli koran hari minggu Jawa Pos–atau makan di warteg yang ada korannya, disana bisa baca koran gratis–di rubrik ruang putih, ada penulis bertangan dingin, AS. Laksana. Gaya penulisannya dengan bercerita. Bercerita apa saja, tentang film, buku, ataupun kondisi sosial masyarakat saat ini. Mungkin karena disampaikan dengan bercerita, anda akan mudah mencerna tulisannya.

 Yang agak sulit dipahami adalah tulisan Goenawan Mohamad. Entah berapa banyak buku yang ia baca untuk menulis Catatan Pinggir–sebuah kolom yang berada di akhir majalah tempo. Ayu Utami menyebut tulisan GM adalah bahasa yang tak pernah usai. Mari saya kutipkan penggalan Catatan Pinggir, dari “Kalender”, 9 Januari 2011:

 “Lewat tengah malam, ketika kalender diganti, dan orang sadar lebih tua setahun, dan melihat kembali masa 12 bulan yang sebelumnya, dan mencoba berencana untuk tahun 2011, apa yang sebenarnya terjadi? Sebuah mimesis. Mungkin sebuah kelatahan.”

 Untuk urusan penulis bertalenta, Indonesia mempunyai stock yang melimpah. Dan kebiasaan buruk saya jika menjumpai tulisan yang cool, saya ingin menirunya. Namun saya sadar, meski saya meniru (catat: meniru bukan menjiplak) mereka toh tulisan saya tidak akan sebagus punya mereka. Begitu sebaliknya, jika mereka meniru tulisan saya, tidak sebagus bagaimana saya menulis (oi sadar diri!). Setiap penulis mempunyai ciri masing-masing. Dengan banyak ciri atau ragam kepenulisan, dan apabila terus berkembang, tidak terbayang cakrawala kesusasteraan Indonesia menjadi apa nantinya. Mungkin tidak berkembang, melihat harga buku tergolong mahal.

 Nah, siapa penulis favorit anda? []peta