Bergaul Dengan Ahmad Dhani

Karena sang Kakak, kuping Peta remaja akrab dengan musik mancanegara. Wong saban malam, sebagai pengantar tidur yang disetel lagu Barat. Tapi toh telinga Peta terbiasa juga dengar yang inggris-inggris. Awalnya terasa asing di telinga tapi kelama-lamaan beradaptasi, terus ikut-ikutan nyanyi layaknya penyanyi British tapi  cengkok madunten.

Maka pernah dalam satu malam diputar nomor-nomor dari Bonjovi, RHCP, Linkin Park, Aerosmith, GnR’s, sampai albumnya Santana sang dewa gitar. Komposisi lokal juga ada, mau yang agak rock seperti Dewa, yang kental rocknya semacam Jamdrud, yang easy listening tinggal pilih antara Padi atau So7?

Namun makin kesini kebiasaan mendengar musik itu mulai tergantikan dengan mendengar murottal dari qori yang nge-‘pop’ seperti Mishary Rashid Alfasy atau agak nge-‘blues’ seperti Abdul Basith. Mungkin itu efek karena ikut mentoring atau bahasa kekinianya : #YukNgaji.

Selain selera bermusik, pandangan politik ikut berubah. Misal dulu ia sering menyanyikan lirik lagu Dewa yang ada di kaset Tape, sekarang emoh gara-gara Ahmad Dhani sang pentolan menginjak kaligrafi lafadz Ilahi.

Tapi setiap orang punya hak untuk hijrah. Siapa nyana Ahmad Dhani buat nasyid bertemakan perjuangan. Coba dengarkan syairnya, “Dan kitalah Khalifah/ Khalifah kebangkitan…. Tak ada satu kekuatan selain kekuatan dari Allah/ Dan tak ada daya upaya selain pertolongan Allah”

Kita tidak perlu heran. Mungkin interaksi Ahmad Dhani dengan Habib Rizieq saat mengawal aksi 212, menjadikannya mendadak islami. Ahmad Dhani membuktikan sabda Baginda Rasul, bila berteman dengan pedagang minyak wangi bisa jadi mendapat bau harum darinya. Adapun berteman tukang pandai besi, bisa jadi akan membuat pakaianmu terbakar.

Maka golek konco orang alim, supaya ikut jadi orang alim. Tapi Peta sepertinya tidak demikian. Ia malah ingin berteman dengan personil D’masiv supaya ‘Jangan Menyerah’, atau belajar kepada Koes Plus biar tahu caranya ‘Hati Senang Walaupun  Tak Punya Uang.. ‘ []