#ReviewBuku : Give And Take

give and take Pendekatan Revolusioner untuk Meraih KesuksesanMereka yang paling banyak memberi tentu orang baik, tapi di sisi lain mereka terlihat sebagai orang yang lemah atau penurut. Karena sifat memberi itu, mereka dianggap akan kurang sukses baik dalam kehidupan pribadi ataupun profesional. Buku ini memutarbalikkan persepsi tersebut dari sukses terlebih dahulu dan menyumbang kemudian, menjadi orang yang memberi terlebih dahulu kerap berada di posisi terbaik untuk sukses di kemudian hari. Maka percayalah Anda bisa sukses dengan cara membantu orang lain.

Di tempat kerja, pemberi adalah makhluk yang relatif langka. Bagi mereka hubungan timbal balik harus lebih menguntungkan orang lain sehingga mereka lebih suka memberi banyak daripada apa yang mereka terima. (hal 5)

Untuk menjadi seorang pemberi, Anda tidak perlu melakukan pengorbanan luar biasa. Yang perlu Anda lakukan hanya berfokus untuk bertindak berdasarkan kepentingan orang lain, misalnya dengan memberi bantuan, memberi bimbingan, berbagi pujian, atau menjalin koneksi bagi orang lain. (hal 6)

Ada hal istimewa yang terjadi bila pemberi merah kesuksesan: kesuksesan menjalar dan mengalir ke bawah. (hal (13)

“Memberi adalah sifat saya, saya tidak mengharapkan imbalan; saya ingin membuat perbedaan dan memberi dampak, dan saya berfokus pada orang-orang yang bisa mendapatkan manfaat terbesar dari bantuan saya.” (hal 27)

Kita harus melihat jaringan sebagai sebuah kendaraan untuk menciptakan nilai bagi semua orang, bukan hanya untuk diri kita sendiri. (hal 67)

Pemberi tidak memikirkan apa yang bisa ia peroleh dari orang-orang yang ia bantu. Pemberi melakukannya agar bisa menciptakan lebih banyak peluang untuk memberi. (hal 68)

Fitur menentukan tentang cara Pemberi berkalaborasi: mereka memilih tugas yang mengutamakan kepentingan kelompok, bukan kepentingan pribadi mereka. (hal 89)

Penelitian ekstensif mengungkap, orang yang menyisihkan waktu dan berbagi pengetahuan mereka secara teratur untuk membantu rekan-rekan mereka lebih sering mendapat kenaikan gaji dan jabatan pada lingkup yang lebih luas… (hal 90)

Orang yang sangat berbakat cenderung membuat orang lain iri hati sehingga berisiko tidak disukai, dibenci, dikucilkan, dan dirongrong. Namun, bila orang berbakat ini juga pemberi, mereka tidak menjadi sasaran amarah. Sebaliknya, pemberi dihargai atas kontribusi mereka pada kelompok. (hal 91)

Pemberi cenderung melihat potensi pada semua orang. Secara otomatis pemberi akan menganggap orang lain sebagai orang berkembang; ia menganggap semua orang berbakat dan ia mencoba mengeluarkan yang terbaik dari mereka. (hal 123)

Mereka mampu bekerja jauh lebih keras dan lama ketika mereka memberikan energi dan waktu mereka karena senang dan peduli, daripada karena tugas dan kewajiban. (hal 212)

Pemberi cenderung bersikap rendah hati dan tidak nyaman menonjolkan diri secara langsung. (hal 246)

Paling menarik pada pemberi yang sukses: mereka meraih posisi puncak tanpa menyikut orang lain, mencari cara untuk memperbesar kue yang menguntungkan diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka. (hal 312)

Judul : Give And Take, Pendekatan Revolusioner untuk Meraih Kesuksesan

Penulis : Adam Grant

Penerbit : Gramedia

Jumlah Halaman : 363

Review : Yuk, Berhijab!


Sebenarnya ada perasaan ‘malu-malu mau’ pas membeli buku ini. Buku dengan sampul berwarna ungu, ber-cover wajah Muslimah, dan tulisan “Yuk, Berhijab!”. Biasanya jika mau membeli buku, saya mempertimbangkannya masak-masak. Tapi untuk buku ini saya langsung ambil saja dan segera ke kasir. Saat di kasir pun, saya berharap-harap cemas semoga mbak kasirnya tidak bertanya, “Mas mau berhijab?”

Tentu saja saya tidak ingin berhijab, karena itu diperuntukkan bagi Muslimah. Keperluan saya dengan buku itu, saya butuh ilmu tentang hijab syar’i (hijab sesuai hukum syariat). Ilmu yang saya pikir di masa yang akan datang perlu saya pahami dan saya ajarkan!

Buku “Yuk, Berhijab!” ini buku ke-5 yang saya punya dari karya Ust Felix Siauw. Buku yang se-genre dengan buku “Udah Putusin Aja!”, karena full gambar atau visualisasi. Visualisnya siapa lagi kalau bukan mbak @benefiko.

Barangkali karena terbiasa dengan membaca buku yang full text, saya merasa tidak nyaman dengan buku yang full visualisasi sedangkan di buku ini textnya minimalis dan padat. Saya rasa, dibandingkan “Udah Putusin Aja!”, buku “Yuk, Berhijab!” ini lebih banyak textnya. Wajar karena di buku ini memaparkan pendapat para ulama dan ahli bahasa Arab tentang jilbab dan kerudung.

Justru dengan banyaknya visualisasi, saya pikir saya tidak akan bosan membaca buku ini. Apalagi visualisasinya memang T.O.P B.G.T.
Read More »

[Review Buku] Udah Putusin Aja!


“Jaga Kehormatanmu, Raih kemuliaanmu..”

Cover buku dominan warna pink dengan gambar hati di ‘sobek-sobek’, jelas buku ini menjadi buku yang tak biasa. Melihat covernya saya pikir saya akan diajak untuk beromantis ria atau bermerah jambu ala Islam sebagai lawan dari model pacaran zaman sekarang yang sudah kelewat bebas tanpa batas. Namun anggapan saya sudah salah sejak baca pengantarnya, yaitu isi email salah seorang wanita yang mengaku telah disantap kehormatannya gara-gara aktifitas pacaran. Wanita tersebut kini tobat dan menanyakan jika ada pria mengajaknya menikah, apakah wanita tersebut harus bilang kalau tidak perawan lagi?

Bagaimana jika yang dialami wanita tersebut dialami oleh wanita yang anda kenal atau malah saudari anda? Marah, geram, sedih, prihatin karena masa depan mereka hancur.

Buku “Udah Putusin Aja!” ini mengupas tentang maksiat pacaran di dalam Islam dan bagaimana menghindarinya. Pacaran memang tak selamanya berujung pada zina, namun semua zina berawal dari pacaran!

Read More »

[Review Buku] Hafalan Shalat Delisa


Kejadian minggu pagi tanggal 26 Desember 2004, menjadi kenangan buruk bagi bangsa Indonesia atau bahkan dunia. Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh dan menimbulkan ribuan korban jiwa, menjadi memori pahit bagi siapa saja termasuk diri ku yang saat itu berumur 14 tahun. Bangunan rata dengan tanah hanya menyisakan puing-puing bangunan, mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana, gambaran yang aku dapat dari televisi. Setelah beberapa tahun, memori pahit itu terkenang kembali ketika membaca novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye. Jika dulu melihat berita tsunami di televisi sudah membuat sesak, kali ini aku sedikit banyak mendapat gambaran utuh tentang tsunami di aceh, bagaimana seorang ayah kehilangan anak-anak beserta istrinya atau seorang anak kehilangan saudara-saudaranya dan juga ibunya, dan itu membuat lebih terhentak lagi.

Kisah yang dimulai dengan keharmonisan dan kelucuan tingkah sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari ummi Salamah yang perhatian tetapi juga tegas dan abi Usman yang bekerja di perusahaan kapal asing yang baru pulang 3 bulan sekali dengan keempat putrinya, Fathimah si sulung, Aisyah yang jahil, Zahra yang pendiam dan si bungsu Delisa, berusia 6 tahun, tokoh utama kisah ini dan seorang gadis kecil polos dengan rambut curly, mata kehijauan, cerewet, suka bertanya, suka ngeles,suka warna biru, ceria, cerdas, dan yang suka manyun bin ngambek bila main sepak bola ditempatkan diposisi kiper karena dia ingin berada di posisi striker.Read More »

[Review Buku] The Power Of Kepepet


Ketika membaca buku motivasi atau ada training motivasi khususnya motivasi untuk menjadi entrepreneur, teori “The Power Of Kepepet (TEPOK)” seringkali disebut. Maka semakin penasaran lah diri ku untuk membaca buku TEPOK, eh gak ada ada petir gak ada hujan, ada teman yang memimjam buku TEPOK kepadaku. Tanpa basa-basi segera aku menyetel mp3 favorit, menyalakan kipas, mengambil batal, membaringkan badan dan Zz..Zzz.. (masalahnya ketika meminjam buku tersebut, sudah larut malam.)

Ketika membaca buku TEPOK dan selesai membacanya, jujur aku kecewa telah membacanya karena “kenapa tidak dari dulu”! hehe. Buku TEPOK yang ditulis Jaya Setiabudi atau biasa dipanggil ‘Mas J’ tersebut memang memprovokator atau bahkan dituntut untuk segera Action membuka usaha. Bagaimana caranya? ya buka dulu usahanya, mikirnya belakangan.

Jadi teringat akan usaha yang jatuh bangun (banyak jatuhnya daripada bangunnya), yang pernah aku rintis mulai jualan Madu Sumbawa, Kaos Sablon, agen tiket pesawat, agen sekaligus jualan buku dan sekarang jasa pembuatan aplikasi android. Dan yang aku dapat sekarang adalah hutang, hutang yang baru bisa aku lunasi jika menyisihkan sebagian uang bulanan selama 15 bulan berturut-turut. Jujur saja aku mau menyerah, tapi setelah membaca buku TEPOK semangat ku untuk mempunyai usaha bangkit lagi yang sebelumnya entah sembunyi dimana. Aku sadari proses yang aku jalani selama ini, ternyata bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pengalaman hidup dari entrepreneur sukses yang sampai pada titik bangkrut kuadrat. Lalu untuk apa sekarang aku menyerah, seperti kata bijak dalam buku TEPOK “Bangkrut bukan berarti kiamat, tapi kiamat pasti bangkrut. Selama belum kiamat, jangan takut bangkrut!”

Motivasi ku untuk membuka usaha sebenarnya sederhana saja, jika punya usaha dan itu berjalan, maka akan ada banyak waktu luang yang bisa aku habiskan umtuk membaca buku. Berikut kata-kata favorit dalam buku tersebut.

  1. Lebih baik kecil jadi bos, daripada gede jadi kuli! (hal. XI)
  2. Kuli kerja kuli dapat makan. Kuli nggak kerja nggak dapat makan. Kalau boss, nggak kerja pun dapat makan (hal. XI)
  3. Jika dalam kondisi yang kepepet dan tidak diberikan pilihan untuk ‘tidak bisa’. Manusia akan berpikir dan mencari jalan ‘bagaimana harus bisa’ (hal. 3)
  4. Manusia telah diciptakan dengan potensi luar biasa, di luar apa yang kita pikirkan. Hanya saja potensi tersebut seringkali keluar pada saat kondisi terdesak (hal. 3)
  5. Kondisi kepepet adalah motivasi terbesar di dunia! (hal. 4)
  6. Fungsi visi adalah memberikan arah, sedangkan The Power Of Kepepet mendorong untuk bergerak (hal. 5)
  7. Rasa takut sering kali mampu mengeluarkan potensi diri kita yang terpendam (hal. 8)
  8. Ketakutan hanyalah bayangan, HADAPI untuk mengalahkannya (hal. 10)
  9. Seringkali apa yang Anda yakini lebih kuat daripada fakta yang ada (hal. 12)
  10. Hati-hati dengan apa yang kita pikirkan, karena itu bisa menjadi kenyataan (hal. 13)
  11. Kehidupan Anda tidak akan berubah hanya dengan membaca, tapi dengan ACTION (hal.20)
  12. Kesuksesan Anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dari diri Anda sebelumnya (hal.24)
  13. Kualitas hidup kita tergantung pada kualitas pertanyaan kita kepada diri sendiri (hal. 27)
  14. Pikiran kita seperti saklar ON/OFF. Jika Anda mengatakan BISA, otak Anda akan mencari jalan, BAGAIMANA HARUS BISA. Sebaliknya jika Anda mengatakan TIDAK BISA, maka akan menutup kemungkinan berpikir untuk bisa (hal. 28)
  15. Salah satu cara mempercepat impian adalah dengan menginderakannya (hal. 35)
  16. Musuh terbesar dalam mencapai tujuan adalah penundaan. Kenapa banyak orang suka menunda? Karena ketakutan! Takut gagal, takut ditolak, takut kecewa, takut diejek, dan segala macam ketakutan yang lain (hal. 43)
  17. Apa pun bisnisnya, mulai adalah lebih baik daripada mikir terus (hal. 45)
  18. Bangkrut bukan berarti kiamat, tapi kiamat pasti bangkrut. Selama belum kiamat, jangan takut bangkrut! (hal. 54)
  19. Kegagalan sesungguhnya adalah ketidakberanian untuk mencoba (hal. 71)
  20. Bisnis kita jalan, kita jalan-jalan (hal. 76)
  21. Cari jalannya. Jika buntu, ciptakan jalan baru! (hal. 79)
  22. Pengusaha tak harus Pintar, tapi Pintar cari orang Pintar! (hal. 89)
  23. Seringkali pintu peluang terkunci. Anda harus mengetuk-ngetuk, mendobrak, ke samping kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah, sampai pintu itu terbuka! (hal. 93)
  24. Lebih gampang menggali potensi Anda, daripada mengubah diri Anda (hal. 96)
  25. Tim yang bagus bukanlah tim yang memiliki kemampuan yang sejenis, namun tim yang saling melengkapi (hal. 97)
  26. Yang punya ilmu ibarat punya ‘peta-nya’, bisa sampai lebih cepat karena paham jalannya (hal. 104)
  27. Banyak orang tanya “Bisnis apa yang BAGUS?” jawabnya, “Bisnis yang bagus adalah yang DIBUKA, bukan ditanyakan terus!” (hal. 118)

Judul : The Power Of Kepepet

Penulis : Jaya Setiabudi

Penerbit : Gramedia

Review by peta