Loyalitas Kerja

Pernah bekerja di dua perusahaan, kesamaan dua perusahaan tersebut: tidak banyak karyawan yang bertahan lama. Saya sendiri misalkan, memilih resign dari perusahaan sebelumnya. Alasannya, menurut saya, manajemen perusahaan tersebut buruk. Banyak problem di proyek. Tapi perusahaan tidak mau tahu. Mereka hanya ingin dengar: proyek jalan!

Tapi manusia bukanlah mesin—dan mesin bukan manusia–jika ada masalah butuh penyelesaian. Masalah yang menumpuk, dan tak terselesaikan akan menjadi beban. Pada suatu titik, ketika manusia mencapai limitnya beban itu tak tertampung. Efek paling ringan: capek.

Tapi berbeda 180 derajat dengan tempat saya bekerja sekarang yang lebih enjoy. Cuman itu tadi, kog karyawan lama pada keluar.

Pertanyaan tersebut terjawab setelah saya bertemu dengan salah satu mantan karyawan. Kebetulan saya mengenalnya dan ketika ada proyek (hanya proyek kecil-kecilan lumayan menambah uang saku), saya mengajak beliau. Saya sempat bertanya, “Pak kog sampeyan keluar? Karyawan yang lama juga pada kemana?” Beliau menjawab, “mas,” mengambil nafas sejenak, “kalau hasil proyek perusahaan yang limpah ruah itu di bagi-bagi, siapa yang mau keluar?”

Mengejutkan. Akankah saya bernasib sama? Menanggalkan loyalitas. Bukankah percuma loyalitas, jika loyalitas yang kita beri tidak ada harga. Entahlah, yang perlu saya lakukan adalah bekerja sebaik mungkin. Mungkin suatu saat (direktur) perusahaan akan merubah kebijakan. Atau jangan-jangan karyawan lama itu yang tidak sabaran, terburu-buru keluar?

Tapi bekerja adalah ibadah, harus dilakukan dengan ikhlas dan tulus. Pernah Rasulullah bertanya soal tangan Muadz bin Jabal yang kasar. Setelah dijawab bahwa itu akibat setiap hari dipakai bekerja untuk keluarga, Rasulullah memuji tangan Muadz seraya bersabda, “Tangan seperti inilah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”.

Bekerjalah. Bekerjalah untuk mendapat ridho-Nya. Kalau malah menjauhkah: tinggalkan! []peta
*sumber gambar: koleksi pribadi

5 thoughts on “Loyalitas Kerja

  1. Lama nggak mampir, baca soal kerja-kerja begini, cocok nih buat saya yg baru terjun ke dunia kerja. Bagi fresh graduate seperti saya, kesempatan pertama adalah yg pertama harus saya ambil. Dan belajar banyak ttg kerja. Nggak berani keluar masuk begitu, belum ada pengalaman eh. Nanti dibilang kutu loncat lagi. Gimana pun kondisinya, niatkan lillahi ta’ala saja dan do the best. InsyaAllah banyak hikmah disana dan hal yg bisa disyukuri🙂 eh kok curhat begini jadinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s