Ketika Teman Menyapa

Smartphone saya berdering, eh maaf bergetar. Tidak lama, hanya satu tiga detik artinya ada pesan masuk. Saya tidak langsung mengambil smartphone saya itu dan memeriksa notifikasi. Ada aktivitas yang penting yang segera saya lakukan: B.A.B.

Oh ternyata ada teman yang whatsapp.

“How are you bro?” tanyanya.

“I’m Alhamdulillah sae my big brother. How about you?” tanya saya. Saya sengaja memanggilnya “big brother” karena bagi saya dia itu orang besar, nanti saya ceritakan.

“Alhamdulillah baik. Sibuk apa sekarang bro?”

“Nggak sibuk apa-apa. Lagi nggak ada proyek, jadi sementara beralih profesi menjadi pengacara.” Kemudian lanjut percakapan basa-basi lainnya, sehingga akhirnya saya bertanya, “tumben nyapa bro?”

“Kangen”.

Eits, saya membalas jawabannya itu dengan emotion sedang ketakutan. Mungkin karena lama di offshore, orientasi seksnya berubah. Itu sekelibas muncul dalam benak saya. Tapi saya rasa jawabannya itu sudah pas, kami sudah lama tidak bertemu dan alasan apalagi selain melepas ‘kangen’.

Dia orang penting dibalik karir saya sebagai mahasiswa. Dulu ketika awal-awal kuliah, laporan mulai menumpuk dan harus dikerjakan dengan bantuan komputer, dia yang membantu saya. Saya waktu itu masih katrok dengan yang namanya komputer. Menyalakannya saja masih kebingungan, kenapa tombol power di CPU sudah dinyalakan tetapi Windows XP-nya tidak muncul-muncul. Nah dia ini yang ngasih tahu, kalau tombol power monitor juga perlu dinyalakan. Betapa katrok-nya saya, terlebih dia adalah mahasiswa perantauan dari Indonesia Timur, tepatnya NTB (atau NTT entahlah).

Semester dua, dia naik pangkat menjadi komandan tingkat (komting) bagi angkatan kami. Amanah yang berat tapi saya bersyukur bukan saya yang ditunjuk (sori brother). Semenjak dia jadi komting, rasanya kami jadi terpisah. Dia jarang menginap di kost saya. Dan saya tidak suka main di kostnya (karena kostnya itu sarang alias tempat ngumpul senior atas). Tapi dari jauh, saya memperhatikannya dan banyak belajar darinya tentang: kepemimpinan dan tanggung jawab. *terima kasih big brother

Sejak awal bertemu sepertinya kami sudah punya ikatan emosional. Seingat saya, ketika kami perjalanan pulang dari ospek warga, waktu itu sekitar jam sebelas malam, dia memuji saya karena berani melawan senior atas. Saya tersanjung (padahal saya keder juga). Kami sering mengobrolkan perlakuan warga, tentu dengan emosi. *karena itu saya bilang kami punya ikatan emosional

Tapi dia juga perantauan, jauh dari orang tua bahkan kadang baju untuk kuliah saja pinjam (sori bro aku tahu rahasiamu). Mungkin itu juga yang mendekatkan kami, sama-sama perantuan dan butuh teman (yang bisa dipinjami uang).

Akhir chat itu, kami berencana akan saling video call setidaknya tiap akhir bulan. Rasanya kurang puas jika cuman chating. Tanpa bisa lihat muka yang mungkin sudah mulai berisi dan menyesuaikan pepatah “maju perut pantat mundur”. Rutinitas kerja seharusnya bukan alasan untuk tidak saling menyapa, atau terputusnya silaturahmi. Apalagi kita sama-sama perantauan, perantauan di dunia fana. Maka perlu saling menjaga,  mengingatkan, dan mendoakan. []peta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s