Abah

Dad goes on beautiful date with his baby daughter. Video yang manis. Sungguh. Sepertinya video untuk memperingari hari Ayah. Dan video itu jelas membawa pesan: ayah akan selalu menjadi cinta pertama bagi putrinya.

Saat menonton video itu sekelibas memori dengan Abah saya muncul. Aneh memori yang hadir, akan perjalanan pulang setelah mengunjungi pesantren tempat Abah dulu mondok. Waktu itu, Abah bercerita, “dulu embahmu (ibu Abah) untuk bisa menemui Abah, berjalan kaki ke pondok.” Waw. Bukankah jarak pesantren dengan rumah embah minim 30 km? Saya ingat sisa perjalanan diisi dengan diam. Saya mereka-reka pengorbanan embah saya. Tapi entah apa yang dipikiran Abah.

Masih tanda tanya, kenapa Abah tidak memasukkan kami anak-anaknya untuk mondok. Begitu pula pertanyaan kenapa Abah memilih menjadi seorang pedagang ketimbang menjadi guru ngaji. Hal ini diceritakan langsung oleh adik kandung Abah sendiri bahwa dulu Abah adalah guru ngaji, atau bisa dibilang kiai di kampung. Tapi Abah memilih membuka toko dan menjadi pedagang.

Hidup adalah pilihan. Saya kira Anda bisa beramal shalih dengan menjadi seorang guru ngaji. Atau beribadah kepada-Nya lewat berdagang. Mungkin pilihan kedua yang Abah saya pilih.

“Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi,” sepertinya Abah saya paham betul makna (hadist) lemah tersebut. Beliau terapkan kepada kami anak-anaknya, bahwa kami anak-anaknya harus lebih baik dari ayahnya. Dan, itu beliau buktikan.

Saya seorang sarjana.  Gelar yang tidak dimiliki oleh Abah saya—dan gelar yang tidak mungkin bisa saya raih tanpa peran Abah saya itu. Pada titik ini mungkin perkara soal eksak, saya lebih mumpuni. Tapi tidak dengan ilmu agama.

Kita tahu beliau alumni pondok pesantren. Entah berapa kali kitab kuning yang gundul itu beliau baca. Disini saya kalah telak. Satu hal yang suatu saat nanti perlu saya perbaiki.

Di hari Ayah, mungkin hadiah termanis untuk seorang ayah: mengetahui bahwa anaknya sudah jauh melampui dirinya. []peta

Tanggal 13 Oktober 2015, posisi di Randuharjo dan dalam keadaan homesick.

One thought on “Abah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s