Puasa Lalu

Ramadhan yang berkah itu akan segera berlalu. Entah iman sudah bertambah atau tetap seperti dulu. Hal pasti, tiga tahun terakhir ini saya mengalami suasana Ramadhan yang berbeda; sebagai mahasiswa, pekerja kantoran dan sekarang pekerja lapangan. Adalah Ramadhan 1434 H, Ramadhan terakhir sebagai mahasiswa.

Ada kerinduan sendiri dengan dunia mahasiswa–diskusi panjang dan alot kadang tanpa solusi. Ramadhan pada tahun itu saya ingat, ketika tengah menunggu adzan magrib untuk menyantap takjil pemberian masjid, teman saya yang juga mahasiswa tingkat akhir itu berujar, “tidak ada gunanya Tuhan memasukkan iblis ke dalam neraka. Iblis dari api begitu pula neraka, bisa jadi disana iblis malah mandi sauna.”

Atau dia bertanya begini, “mana letak keadilan Tuhan, ketika langsung memvonis iblis sebagai penghuni neraka sedangkan kepada manusia walau dia pernah membuat salah sebesar gaban asal bertaubat masih punya kesempatan masuk surga?”

Saya tidak meladeni. Pertanyaan yang dia lontarlan bukanlah pertanyaan kehidupan yang harus dicari jawabnya. Menemukan jawabannya pun tidak akan memperbaiki kualitas hidup.

Berbeda dengan uqdah al qubro (pertanyaan besar yang pasti setiap manusia mempertanyakan) yang menurut syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, jawaban atas persoalan ini menghasilkan akidah; darimana manusia berasal, apa tujuan manusia diciptakan, kemana setelah kehidupan. Pertanyaan tersebut harus dijawab. Kabar buruknya, salah menjawab salah pula menjalani hidup.

Contoh misal, anda percaya bahwa pohon beringin—yang besar dan rindang itu—sebagai sumber asal muasal makhluk hidup dan manusia pertama lahir dari akarnya yang kuat. Bisa jadi anda akan menyembah pohon beringin itu, walau pada akhirnya ia tidak memberi apa-apa kecuali getahnya yang bisa dibikin lem layangan.

Tapi menjalani Ramadhan sebagai pekerja kantoran terasa adem ayem. Rutinitas baik sebelum dan selama Ramadhan tidak jauh beda kecuali pengurangan jam kerja. Masuk kantor pagi, duduk manis di depan komputer, jam istirahat leyeh-leyeh di masjid, kembali ke kantor agak sore, duduk manis lagi, kemudian pulang.

Satu hal patut saya syukuri bahwa Ramadhan pada tahun kemarin secara kuantitas tilawah paling banyak. Anda tahu, membaca dan mendengarkan Al Qur’an bisa menggetarkan hati orang-orang beriman, dan sekaligus menghadirkan tanda tanya–termasukkah saya didalamnya?

Berbeda 180 derajat, rutinitas di lapangan rasanya mempersingkat waktu ternasuk ketika Ramadhan kali ini. Tiba-tiba Ramadhan mau berakhir, dan sepertinya target untuk melampaui kuantitas tahun kemarin tidak tercapai.

Saya pikir, di bulan Ramadhan ini memang perlu ada pengurangan jam kerja–di tempat saya kerja tidak ada. Memang itu regulasi dari tiap perusahaan, tapi pemerintah bisa mengaturnya. Dan memang itu tugas pemerintah–membuat nyaman dan aman rakyatnya.

Tapi alasan pengurangan jam kerja bukan karena sedang berpuasa dan berefek pada menurunnya produktivitas kerja, melainkan ada waktu lebih untuk beribadah. Para pekerja proyek mulai tukang cor, besi, lantai, dinding, dan tukang las, banyak dari mereka yang tidak berpuasa. Padahal bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Malaikat memintakan ampunan untuk orang yang berpuasa selama berpuasa hingga berbuka.

Maka ironi para pekerja itu tidak dapat berpuasa karena pekerjaan. Di sisi lain pintu-pintu neraka Jahannam ditutup, sementara syaitan dibelenggu. Tapi, nampaknya oleh manusia, syaitan berwujud regulasi tidak dibelenggu. []peta

One thought on “Puasa Lalu

  1. memang ramadan kemarin ini terasa singkat…
    saya yang belum bekerja saja merasa seperti itu…
    apalagi anda yang waktunya di habiskan di kantor.

    btw nice post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s