Ramah

Kisah Dr. Muhammad al-‘Areifi dalam bukunya Enjoy Your Life, ditulis oleh Dr. Areifi sendiri, mengajarkan cara mendapat respek dari orang lain. Sederhana saja, bersikaplah ramah!

Sudah tiga belas tahun Dr. al-‘Areifi bertugas menjadi imam dan khatib di Masjid Jami’ Akademi Militer Saudi Arabia. Selama itu, untuk sampai ke masjid tersebut, Dr. ‘Areifi harus melewati sebuah pintu gerbang yang dijaga ketat oleh seorang tentara yang bertugas membuka dan menutupnya.

Setiap melewati pintu gerbang itu, Dr. ‘Areifi, dari dalam mobilnya, selalu membiasakan diri dengan keramahan; selalu melambaikan tangan sebagai tanda salam dan melontarkan senyuman yang tulus kepada si petugas jaga.

Suatu hari, karena menerima banyak sekali sms yang masuk ke handphone hingga Dr. Areifi sibuk membaca sms dan lupa tidak melambaikan tangan serta melontarkan senyuman kepada si penjaga yang membukakan pintu gerbang.

Beberapa hari berikutnya, betapa terkejutnya Dr. Areifi ketika tiba-tiba seorang penjaga memberhentikan mobilnya terlebih dahulu dan tidak langsung membukakan pintu. Maka Dr. Areifi pun keluar dari mobil menghampiri si penjaga tersebut. Namun, si penjaga itu langsung menyapanya lebih dahulu. “Ya Syaikh…, apakah Anda marah kepadaku?” tanyanya.

“Soalnya, ketika saya bertugas beberapa hari lalu, Anda melambaikan tangan dan tersenyum kepada saya ketika Anda hendak masuk, tapi ketika Anda hendak keluar, Anda sama sekali tidak melambaikan tangan dan tidak menoleh sedikit pun kepada saya.”

Sontak, Dr. Areifi sadar bahwa penjaga ini adalah orang yang bertugas pada hari ketika Dr. Areifi lupa melambaikan tangan dan melontarkan senyuman beberapa hari lalu. Akhirnya, Dr. Areifi meminta maaf dan menjelaskan kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.

Akhlaq Dr. Arefi, bersikap ramah, membuat beliau menjadi pribadi yang disukai. Hal yang wajar, bukan, kita lebih menyukai orang yang bersikap ramah ketimbang orang yang wajahnya cemberut dan tidak tersenyum sedikitpun. Berada didekatnya bisa-bisa anda ikut cemberut!

Saya belajar dari kisah Dr. Areifi tersebut. Aturan tempat parkir di tempat saya bekerja, keluar dari parkir harus menunjukkan STNK. Tapi tiba giliran saya, saya dipersilakan lanjut tanpa menunjukkan STNK. Sedangkan pengendara lain, masih menunjukkan STNK motornya. Kenapa itu terjadi? Simple saja, saya meniru Dr. Areifi, bersikap ramah dengan menyapa pak penjaga parkir dan tersenyum tulus.

Keramahan adalah kunci pergaulan dengan orang lain. Memang bukan jaminan anda bersikap ramah, anda akan diperlakukan ramah juga. Justru yang bersikap ramah saja belum tentu mendapat perlakuan ramah dari orang lain, apalagi yang tidak bersikap ramah. Dan, tentu saja, seorang muslim bersikap ramah, sopan, lemah lembut, bukan karena manfaat dari bersikap seperti itu, tapi memang Islam memerintahkan umatnya untuk berakhlaq demikian.

Saya senang mengikuti tips dari Dr. Areifi. Saya yang sering lupa bawa STNK motor bisa leluasa keluar dari parkir! []peta

3 thoughts on “Ramah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s