Fragmen Perjalanan

Motor saya yang selalu ‘selamat’ melewati tingginya pasang banjir di Surabaya, akhirnya mogok juga. Mogok dalam perjalanan pulang ke kampung halaman di Madura sana.

Motor saya mogok tepat setelah keluar dari pintul tol jembatan suramadu di sisi pulau Madura. Setelah coba oprek sendiri, buka busi, starter kaki, masih tetap tidak mau jalan malah asap keluar dari knalpot. Saya menyerah!

Dari banyaknya stand yang berjejer di sepanjang jalan berjualan aneka macam souvenir khas Madura, dari layangan, kaos, celurit, petis, dan entah apa lagi. Tapi saya cuman butuh satu, bengkel. Dan itu tidak ada sama sekali, kecuali dari kejauhan sana ada papan tertulis bengkel, hanya saja untuk mobil atau truk. Ah mobil dan motor tidak jauh beda, coba saja!

Bapak pemilik bengkel bersedia memeriksa motor saya. Di bukanya busi, masih ada letupan. Di bukanya selang, bensin masih masuk. Cuman mesin tidak ada konversi, bapak bengkel pun menyerah.

Jam di hp menunjukkan angka 16.30, saya harus segera ambil keputusan. Pilihan paling logis, membawa motor saya ke bengkel terdekat dan meneruskan perjalanan saya menaiki bis. Cuman bengkel terdekat setidaknya 10 km lagi. Alamak!

Saya pasrah saja menuntun motor sejauh 10 km, sebelum akhirnya datang seorang bapak berkopiah putih datang ke bengkel truk itu. Saya bertanya ke bapak itu, bengkel terdekat. Kata beliau bengkel terdekat paling masih 10 km lagi. “Kalau mau”, kata bapak “keponakan saya bekerja di bengkel.”

“Orangnya ada pak? Kalau ada, bisa minta tolong, pak.”

Bapak berkopiah putih itu mengangguk. Karena tidak bawa HP, beliau menjemputnya di rumah.

Sekitar 10 menit bapak tersebut tiba. Pria yang duduk di belakang, turun dan dengan sigap memeriksa motor saya. Busi dibuka, oli diperiksa, persis seperti yang dilakukan bapak bengkel sebelumnya. “Motornya tidak ada konversinya mas? Saya harus memeriksa mesin motor.”

“Masnya bisa perbaiki?”

“Bisa, tapi perlu saya bawa ke rumah saya.”

Otak saya berpikir keras, alarm waspada tetap disiagakan. “Baik mas, saya ikut  ke rumah sampeyan.” Rumahnya agak masuk ke perkampungan. Sebagian besar rumah warganya masih dari bilik kayu.

Tiba di rumahnya, saya menanyakan kira-kira biaya yang dibutuhkan. “Nanti saya minta notanya.” Setelah mendapat no hp, saya berpamitan melanjutkan perjalanan.

Beberapa bis lewat tapi tidak ada yang berhenti untuk mengangkut saya. Malah yang berhenti sebuah truk. “Pak,” kata saya dengan wajah memelas, “bisa minta tolong ikut sampai pertigaan sana.” Sopir mengangguk. Tanpa basa basi saya naik. Di pertigaan, daerah langker, saya bisa naik minibus elf.

Truk melaju, dan saya otak saya berpacu, “motor saya aman nggak ya? []peta

*be continued..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s