Charlie Hebdo dan Ketidakmauan Tunduk Pada Kebebasan

Sepotong adegan dalam film, saya lupa judul filmnya, menggambarkan seseorang bocah berumur 5 tahun mengganggu kakak perempuannya yang berumur dua tahun lebih tua darinya. Kesal diganggu, sang kakak akhirnya memukul adiknya. Tentu saja ia menangis dan ketika itu pula ibunya datang, “kakak, jangan pukul adikmu!”

Adegan itu membekas dalam benak saya. Rasa-rasanya waktu kecil saya juga pernah melakukannya kepada kakak perempuan saya. Entah dogma darimana yang membuat saya berpikiran bahwa wanita adalah makhluk yang diciptakan untuk diganggu–kadang mereka memang suka ‘diganggu’.

Sang kakak tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Kalau tidak memukul adiknya, mungkin adiknya akan terus mengganggunya. Bahkan bisa jadi itu sebuah perangkap yang dibuat oleh sang adik supaya kakaknya yang baik itu dimarahi oleh ibunya. Licik bukan!

Tanggal 7 januari merupakan hari suram bagi negara Prancis. 12 orang, 10 diantaranya staff majalah Charlie Hebdo, meninggal di tempat karena dua orang pria bersenjata menyerbu masuk ke kantor majalah tersebut.

Charlie Hebdo–atau yang dalam bahasa Inggris dikatakan Charlie Weekly–adalah majalah Perancis yang memuat kartun-kartun satir. Majalah satir ini pernah memuat gambar karikatur Nabi Muhammad SAW dan memicu kemarahan umat muslim dunia. Belum ada kepastian bahwa pelaku penyerangan, yang diketahui muslim, melakukan penyerangan karena terprovokasi kartun yang dibuat oleh majalah tersebut.

Buntut dari peristiwa penyerangan ini, media dan para politisi Barat mengarang cerita di seluruh dunia bahwa para wartawan Charlie Hebdo tewas sebagai akibat dari perang melawan kebebasan berbicara. Insiden teror Charlie Hebdo juga berimbas pada kebencian umat Islam di Prancis. Granat dilemparkan ke masjid. Lubang peluru juga ikut ditemukan di salah satu jendela masjid di Le Mans.

Insiden Charlie Hebdo tidak ubahnya adegan adik kakak yang saya tonton. Charlie Hebdo, dengan kartun-kartunnya yang menghina, dapat memprovokasi siapa saja untuk balas dendam. Lagipula menghina bukanlah freedom of speech. Dan menghina Nabi Muhammad SAW adalah kesalahan fatal.

Di Perancis, kebebasan berbicara ataupun kebebasan berekspresi tidak lah benar-benar bebas. Kebebasan berekspresi hanya berlaku untuk sebagian orang dan tidak bagi orang lain. Perempuan muslim didenda apabila memakai niqab dan dilarang mengenakan jilbab ketika di sekolah.

Penyerangan dan main hakim sendiri, tentu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Tapi, seorang muslim, jangan mau menerima Nabi nya dihina dan tunduk pada kebebasan berbicara! []peta

freedom

3 thoughts on “Charlie Hebdo dan Ketidakmauan Tunduk Pada Kebebasan

  1. yahudi karena wataknya ndak pernah mau belajar dari masa lalu, pembangkangan-pembangkangan yang berakhir dengan laknat, terusir, jadi kera, dan banyak lagi.
    dan gambaran culas itu sedang ditiru sebagian pemimpin kita….. mari kita tunggu akhir dari drama ini.
    dan yang haq pasti menang meski orang-orang kafir tidak suka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s