(Bukan) Dunia Sophie

Di dunia hewan dikenal istilah hewan omnivora yaitu hewan pemakan segala. Barangkali dalam hal membaca, saya dapat digolongkan manusia “omnivora”. Pembaca segalanya, ya novel, majalah, newsticker di TV, tweet twitter, status facebook, kitab suci (Al Qur’an) dan lainnya. Saya melakukannya bukan karena saya suka tapi saya butuh. Sama seperti halnya Anda haus maka Anda minum. Kalau lapar Anda Makan. Kalau saya ingin tahu akan suatu maka saya membaca.

Karena ingin tahu kasus Pembunuhan Munir, saya membaca majalah Tempo edisi 8-14 Desember yang khusus membahas pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib. Dari sana saya tahu bahwa saksi penting atas pembunuhan Munir, Ongen Latuihamallo, mati tak wajar setelah bentrok dengan seorang akibat kecelakaan ringan di jalan raya.

Selain itu mantan ketua BIN A.M. Hendropriyono diduga ikut terlibat kasus pembunuhan Munir. Sampai saat ini Hendro tidak tersentuh atau memang tidak bisa, melihat Hendropriyono dikenal dekat dengan ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan merupakan Tim Transisi pemerintah?

Terkadang keinginan membaca muncul karena pengaruh lingkungan sekitar. Teman-teman saya membicarakan novel Dunia Sophie, novel filsafat yang katanya membuat pusing yang membacanya. Karena penasaran saya diam-diam membeli novel tersebut di toko buku. Cetakan terbaru novel tersebut mempunyai cover yang berbeda, tidak bergambar wayang.


Saya baru membacanya sampai 3 bab awal. Saya kira saya tahu mengapa novel itu membuat orang pusing. Di halaman 35 tertulis, “segala sesuatu yang ada harus ada permulaannya.” Bagi yang jeli, kalimat ini menyentuh konsep ketuhanan. Penulisnya, Jostein Gaarder, pintar sekali menaruh point di atas di bab pertama. Jika point ini disetujui, maka benteng keimanannya terhadap Tuhan dibuat rapuh semenjak bab pertama.

Tuhan, Anda tahu, mempunyai sifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir). Jika Tuhan berawal atau Tuhan menciptakan dirinya sendiri sebelum dia mempunyai “diri”, tentu Tuhan tersebut bukan Tuhan. Tidak mungkin Tuhan sebagai pencipta dan di sisi lain sebagai ciptaan (makhluk).

Novel itu juga mengkaji tentang eksistensi manusia. Darimana manusia berasal, untuk apa manusia diciptakan, dan kemana manusia setelah mati. Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani menyebut tiga pertanyaan tersebut sebagai uqdatul kubro (persoalan besar manusia). Jawaban atas uqdatul kubro akan menjadi aqidah. Orang tersebut akan menjalani hidupnya diatas jawabannya terhadap uqdatul qubro. Bayangkan jika seorang menjawab bahwa manusia ada dengan sendirinya (setelah melalui proses evolusi), tujuaanya di dunia untuk menguasai dunia (memenangi seleksi alam), dan setelah dunia tidak ada dunia lagi (akhirat). Saya kira akan lahir Hitler Hitler baru!

Saya belum melanjutkan membaca novel Dunia Sophie. Sangat menarik. Tapi sebaiknya saya membaca buku Mafahim Islamiyah karya Ustadz Hafidz Abdurrahman yang belum tuntas saya baca. Atau saya selesaikan dulu buku at-Tafkir. Ah bacalah apa yang ingin ada baca! []peta


 

6 thoughts on “(Bukan) Dunia Sophie

  1. terusin bacanya. aku udah baca empat tahun yang lalu. bagus. sampe waktu itu aku jadi demen filsafat. sekarang harus buang semua pemikiran itu. ya buat tau aja kayaknya sih boleh.

  2. Saya baca novel itu 12 tahun lalu untuk mata kuliah filsafat ilmu komunikasi. Alhamdulillah saya gak pusing, tapi jadi tahu muculnya ‘isme-isme’ dan para filusuf yang mencetuskan isme2 tsb di dunia ini.

    Selamat meneruskan membaca😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s