Lupa Geodesi ?

Beberapa minggu lalu di sebuah acara yang di create alumni Geomatika, saya bertemu dengan salah satu dosen pengajar waktu kuliah. Beliau seorang profesor dalam bidang penginderaan jauh. Tidak banyak yang kami obrolkan, tepatnya kami hanya salaman dan setelah beliau tahu pekerjaanku, beliau berpesan, “Jadilah pengajar! Universitas Teknik Madura sedang buka jurusan pertambangan. Saudara bisa ngajar disana.” Saya katakan ke beliau bahwa saya tidak cocok jadi pengajar. “Ini bukan masalah cocok tidak cocok,” kata beliau, “tapi supaya ilmu Geodesi Saudara tidak hilang!”

Harus saya akui mulai lupa konsep Geodesi. Jika ditanya apa itu elipsoid, geoid, azimut, sudut nadir, KKH, KKV, elevasi, parameter, atau datum geodetik, saya perlu buka-buka diktat kuliah lagi untuk menjawabnya, atau setidaknya searching di google.

Pekerjaan saya saat ini di bidang pemetaaan. Masih berkaitan dengan Geodesi yang berbicara tentang spasial (keruangan). Cuman, entah beruntung atau apes, pekerjaan saya lebih bersifat administratif (mengurusi berkas-berkas), bukan teknis (pengukuran di lapangan).

Saya kira masalah serupa, lupa pelajaran kuliah, dialami pula oleh pegawai lainnya. Ada yang lulusan arsitek, dan saya yakin sense arsiteknya sudah memudar kalau tidak mau dikatakan menghilang. Ya karena itu tadi, tidak dilatih.

Saya tinggal menunggu waktu saja sense Geodesi saya menghilang. Beruntung hari ini saya berjumpa dengan senior satu almamater. Beliau angkatan 2000, beda 8 tahun dengan saya. Sebelumnya saya berjumpa dengannya ketika acara alumni. Tidak rugi saya datang waktu itu karena relasi saya bertambah. Pekerjaannya seorang konsultan dan sedang mengerjakan proyek peta garis pantai timur Surabaya.

Obrolan saya dengan senior ini yang membuat saya berpikir keras. Kata-kata teknis Geodesi seperti MLS, garis khayal, elevasi, berapa kali terlontar dan saya lupa-lupa ingat kata-kata itu. Bahkan mas nya ini berkomentar, “Si A bodoh. Masak dia orang Geodesi, tapi pertanyaannya seperti orang yang tidak paham Geodesi saja.” Saya tidak tahu persis bagaimana pertanyaannya, saya coba membela si A karena si A ini mbak senior, “Maklum mas, wong sehari-hari ngurus berkas.. lupa Geodesinya.”

Realitasnya pekerjaan kita tidak selalu sesuai dengan bidang kita saat kuliah, tapi bukan menjadi alasan untuk melupakan background sarjana kita. Kurang lebih 4 tahun kita ditempa supaya berpola pikir seorang geodet, arsitek, kimiawan, atau bidang lainnya. Pola pikir itu yang membuat kita ‘unik’. Berpikir dan memecahkan sebuah masalah dengan sudut pandang keilmuan yang kita kuasai itu.

Bagaimana cara supaya ilmu kita tidak hilang? Tidak ada cara lain kecuali dengan melatihnya, mendiskusikannya, atau seperti kata profesor saya itu, mengajarkannya. Mengenai mengapa saya mulai lupa konsep Geodesi, entah itu karena saya yang memang pelupa atau dulu saya belajar apa kog saat ini tidak membekas? []

3 thoughts on “Lupa Geodesi ?

  1. aku kuliah ekonomi, suka matematika, hobi ngeblog, suka nulis cerpen, kumpulnya sama jamaah islam. mau jadi apa …. ini nnati.bidang yang dkuasai dan ilmu yang jadi sudut pandang jadi campur. jadi kalau kamu lupa ilmu kuliah kamu karena satu hal, gak papa. aku lebih parah soalnya campur dari banyak bidang dan sudut pandang.

  2. Kalo ilmu pemrograman sama sekali dah ga pernah pake. Cuma keinget konsep berpikirnya ajasih saya. Jadi dosen emang cara terbaik biar ilmu tetep inget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s