Ibumu Ibumu Ibumu

Pesan mengagetkan mucul ketika saya menarik uang tunai di ATM. Di layar mesin ATM tertulis, “Maaf kartu Anda habis masa berlaku.” Dicoba di mesin ATM sebelahnya, sama saja. Saya baru tahu, kartu ATM mempunyai masa expired. Mau tidak mau saya harus mengurusnya di bank BNI Syariah terdekat.

Ketika ke Customer Service (CS) bank. Mbak CS bertanya nama ibu saya. Saya jawab, “Hj. Mahmudah”. Pertanyaan itu sepertinya lumrah ditanyakan oleh pihak bank sebagai verifikasi bahwa saya sebagai pemilik akun. Seingat saya, saya pernah ditanyakan pertanyaan yang serupa.

Rasanya sudah lama saya tidak menyebut nama ibu saya itu. Memang benar sehabis shalat, saya biasa mendoakan kedua orang tua saya. Tapi itu pun saya menyebutnya dengan ‘Aba’ dan ‘Ummi’, satu misal dalam doa saya, “Ya Rabb kasihi Aba saya, Ummi saya..”

Saya kira saya tidak perlu menyebut nama lansung. Allah SWT Maha Mengetahui, kepada siapa doa saya dipanjatkan. Tapi selepas kejadian dengan CS bank itu, saya pikir tidak ada salahnya menyebut nama kedua orang tua saya.

Teringat sebuah hadist, diceritakan datang seseorang kepada Rasulullah SAW. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ? Nabi SAW. menjawab, ‘Ibumu! Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ? Nabi SAW. menjawab, ‘Ibumu! Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW. menjawab, ‘Ibumu!, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi SAW. Menjawab, Bapakmu.”

Saya kira aplikasi dari hadist tersebut, kita harus 3x lipat berbakti kepada ibu. Dalam doa, ibu kita 3x lipat disebut daripada bapak. Menelepon ibu 3x lipat daripada bapak, hal yang saya akui sangat jarang saya lakukan.

Di telpon saya lebih sering mengobrol dengan Aba ketimbang Ummi. Dulu ketika musim kampanye capres, kami banyak mengobrol tentang kedua calon capres dan Aba saya berulang kali menyebut alasan beliau mendukung pak Jokowi. Semenjak adanya kebijakan menaikkan harga BBM, Aba saya tidak menyebut nama Jokowi lagi. Sedangkan dengan Ummi paling sekedar nanya kabar, atau bertanya sudah makan? Itu saja!

Mengaplikasikan hadist di atas tidak lah mudah, mungkin itu yang menyebabkan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Saking susahnya seseorang anak untuk berbakti kepada ibunya.

Kartu ATM saya sudah tidak ada masalah. Masalahnya kini, supaya disebut anak berbakti, apa saya harus transfer 3x ke Ummi! []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s