Salahkan Golput?

Seorang teman di sosmed menulis status, “Pemilu kemarin tidak mau nyoblos. Sekarang meneriaki Presiden. Ingat, golputers punya andil besar memenangkan Jokowi.”

Terus terang pemilu kemarin saya termasuk golput. Golput bisa saja berperan dalam kemenangan Jokowi, seperti kata teman saya itu, tapi bisa juga memenangkan pak Prabowo bukan?

Ada banyak sebab mengapa orang memilih golput. Menurut saya dapat dikelompokkan 3 faktor, karena terpaksa, apatis, dan pemikiran. Terpaksa memilih golput, itu bisa disebabkan banyak hal mulai dari sakit ketika pencoblosan, tidak punya kendaraan ke TPS, tidak menerima undangan, sedang berada di luar kota, atau alasan teknis lainnya sehingga ia tidak bisa memilih.

Alasan berikutnya yaitu orang-orang yang apatis. Mereka tidak mau tahu dan tidak peduli terhadap pemilu. Siapa presidennya, mereka pun tidak mau ambil pusing.

Terakhir, golput karena hasil dari pemikirannya. Setelah mengamati realitas yang ada, mereka menarik kesimpulan untuk memilih menjadi golput dan konsisten dengan apa yang mereka yakini itu. Misal argumen yang menyebabkan ia golput, calon presiden selama ini bukanlah pilihan rakyat tapi dipilihkan oleh partai. Sistem pemilu memberlakukan pukul rata, tidak ada beda antara suara penjahat dengan seorang ulama yang memberi suara. Atau argumen, memilih wakil rakyat untuk menjalankan hukum buatan manusia itu bertentangan dengan akidah yang ia yakini, inil hukmu illa lillah, hak prerogatif membuat hukum hanya milik Allah SWT. Dan argumen-argumen lainnya.

Pada pemilu 2014 jumlah pemilih 190 juta dengan angka partisipasi: 72,18%. Hasil rekapitulasi KPU menetapkan pasangan Jokowi-JK memperoleh 53,15% dan Prabowo-Hatta 46,85%. Dilihat dari grafik, meski presiden terpilih adalah Jokowi, tapi kekuatan Jokowi untuk memerintah negeri ini hanya 1/3 saja. Sisanya dibagi rata dengan pendukung Prabowo dan pemilih golput. Tidak menutup kemungkinan pemilih golput akan beralih mendukung Jokowi, tapi melihat kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM hanya membuat mereka antipati. Di dalam pemilih golput sendiri, tidak ada data pasti berapa persen golput yang tergolong terpaksa, apatis, atau karena pemikirannya. Mereka yang memilih golput karena pemikirannya, saya yakin, jumlahnya tidaklah sebanyak 2 faktor tadi.

Kalau memakai logika teman saya itu, dia semestinya berpikir ulang. Kenaikan BBM merupakan kebijakan neo liberal. Ciri neo liberal, anda tahu, meniadakan subsidi termasuk subsidi BBM. Ketika dia ikut aktif dalam pemilu berarti dia ikut mengokohkan demokrasi, sekaligus ikut andil diterapkannya sistem ekonomi neoliberal, sistem ekonomi yang hanya kompatibel dengan sistem demokrasi! []

*sumber grafik dari Farid Gaban

2 thoughts on “Salahkan Golput?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s