Berhemat Dengan BBM

Berapa uang yang Anda keluarkan ketika membeli bensin di SPBU? Kalau saya biasanya Rp15.000, baik itu sebelum atau setelah BBM naik. Bedanya, dulu saya memperoleh 2 literan-an bensin habis dalam 3 hari. Sekarang dengan naiknya BBM saya hanya memperoleh 1,7 liter.

Saya termasuk pengguna BBM untuk ‘dibakar’. Saya menggunakannya bolak balik dari kontrakan ke tempat kerja, begitu tiap harinya. Saya katakan untuk dibakar, ternyata saya baru tahu, katanya, ada BBM yang digunakan untuk ‘senang-senang’. Contoh misal, BBM yang digunakan oleh pasangan muda mudi untuk pacaran, keluyuran keliling kota pamer kemesraan yang boncengangannya menempel seperti perangko. Ya walaupun digunakan untuk hal yang tidak produktif, pada dasarnya tetap saja BBM dibakar.

Naiknya harga BBM, membuat orang memutar otak melakukan penghematan. Ada yang mengurangi shopping, membawa bekal dari rumah ketimbang makan di warung, atau mungkin berhenti merokok. Bagaimana dengan saya? Hal yang terpikirkan oleh saya adalah beralih transportasi dari sepeda motor ke sepeda pancal. Tapi ide ini akan sulit saya realisasikan mengingat saya harus berangkat kerja sekitar jam 6 pagi. Padahal pada jam itu saya masih sibuk dengan urusan mandi, nyeduh kopi, beli sarapan, baca berita olahraga, atau aktivitas pribadi lainnya.

Naik sepeda pancal bukan hal baru bagi saya. 10 tahun saya tercatat sebagai pengguna sepeda pancal dari rumah ke sekolah. Jaraknya 10 km dan memakan waktu sekitar 30 menit. Bersepeda di desa saya suatu hal yang menyenangkan, kiri kanan jalan yang Anda lihat pematang sawah yang memanjakan mata dan menyegarkan rongga dada. Beda kalau saya naik sepeda pancal di kota besar seperti Surabaya ini, Anda harus bersahabat dengan asap motor.

Ide lainnya, saya naik angkutan umum. Tapi ide ini pun susah saya realisasikan. Kebiasaan ngetem angkot hanya akan membuat saya terlambat kerja. Belum lagi saya perlu 2 kali naik angkot. Tidak efektif dan efisien. Karena itu barangkali orang-orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada menggunakan jasa transportasi massal. Efeknya, tentu kebutuhan BBM akan turut membengkak.

Alasan pemerintah mengurangi subsidi BBM untuk mengalihkan pada sektor infrastruktur termasuk pembangunan transportasi massal. Justru alasan ini menurut saya tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya seperti wanita yang memilih menjadi (maaf) pelacur karena merasa yang mampu ia kerjakan hanya melacur. Padahal ia punya tangan untuk bekerja, tapi baginya satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk bekerja hanyalah yang dibawah perut.

Membangun infrastruktur tidak harus mengurangi anggaran subsisi BBM. Cara lain, memotong anggaran belanja aparatur negara termasuk di dalamnya kunjungan kerja (kunker) DPR ke luar negeri yang mencapai Rp140 miliar. Atau, cara yang radikal tapi tak apa demi kepentingan rakyat, memutus kontrak kerja dengan Freeport yang tiap tahunnya berpenghasilan Rp70 triliun. Itu pun kalau pemerintah punya nyali melakukannya. Anda tahu, kacung tidak akan berani menentang majikannya bukan!

Mau tidak mau dengan naiknya harga BBM saya harus berhemat. Apalagi belum ada tanda-tanda gaji akan ikut naik. Lalu bagaimana caranya 1,7 liter bensin bisa cukup untuk 3 hari? Oh, saya bisa mencari boncengan. []

2 thoughts on “Berhemat Dengan BBM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s