4×6 atau 6×4?

Apabila ditanya mata pelajaran apa yang saya senangi? Saya akan menjawab, Matematika. Mata pelajaran yang mungkin bagi sebagian besar orang menjadi momok menakutkan. Justru bagi saya Matematika adalah mata pelajaran yang menyenangkan, buktinya nilai Matematika saya mulai sekolah sampai kuliah tidak jelek-jelek amat. Waktu kuliah, Matematika Geodesi saya mendapat nilai B. Barangkali karena kedua orang tua saya adalah seorang pedagang maka DNA hitung-hitungan sudah kental dalam diri saya.

Berhubung mata pelajaran yang lain misal Kimia, Fisika, dan Bahasa Inggris saya tidak ada apa-apanya, maka ketika pelajaran Matematika lah saya bisa menunjukkan eksistensi diri. Tiap guru mengajukan soal, saya coba unjuk tangan menawarkan diri untuk mengerjakan tapi guru saya menolak dan mengatakan, “Yang lainnya!”

Kesukaan saya terhadap Matematika mungkin tidak lepas dari peran guru SD saya, Pak Zinul. Beliau guru yang baik dan baru pindah ke sekolah kami. Dari beliaulah saya mengetahui bahwa Matematika itu menyenangkan.

Ketika kelas 6 SD, materi Matematika sampai pada pembahasan Luas dan Keliling suatu bidang. Sepertinya materi ini akan menjadi materi yang sulit. Tapi Pak Zinul menjelaskannya dengan mudah. Beliau menjelaskan konsep rumus Luas Persegi yaitu panjang (p) x lebar (l), dan sesekali bercerita tentang kaitannya materi yang sedang kami bahas dengan kehidupan sehari-hari. Misal kami bisa menerapkan konsep Matematika untuk mengetahui luasan layang-layang. Ilmu yang dimanfaatkan buat pamer kepada teman-teman seper-layangan.

Baru-baru ini ramai berita soal Matematika kelas 2 SD. Diberitakan seorang kakak protes kepada guru Matematika adiknya karena adiknya mendapat nilai 20. “Biasanya murid yang melakukan kesalahan, tapi kali ini saya merasa bahwa guru adik saya lah yang melakukan kesalahan,” tulis sang kakak dalam akun sosial media miliknya. Menurut sang kakak tidak ada bedanya antara 4×6 dan 6×4, toh hasilnya pun sama 24. Tapi justru yang membuat adiknya disalahkan adalah karena posisi angka 4 dan 6 terbalik.


Mana yang benar, 4×6 atau 6×4? Saya pikir penjelasan Prof Thomas Djamaluddin—Kepala LAPAN—ini sudah cukup menjelaskan, “Meski 4 x 6 dan 6 x 4 hasilnya sama 24, tetapi logikanya berbeda. Itu adalah model matematis yang kasusnya berbeda. Konsekuensinya bisa berbeda juga. Misalnya, Ahmad dan Ali harus memindahkan bata yang jumlahnya sama, 24. Karena Ahmad lebih kuat, ia membawa 6 bata sebanyak 4 kali, secara matematis ditulis 4 x 6. Tetapi Ali yang badannya lebih kecil, hanya mampu membawa 4 bata sebanyak 6 kali, model matematisnya 6 x 4. Jadi, 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 x 4, berbeda konsepnya dengan 6 + 6 + 6 + 6 = 4 x 6, walau hasilnya sama 24.”

Saya bisa memaklumi sang kakak yang menyalahkan guru Matematika adiknya karena menurut sang kakak, tidak ada beda antara 6×4 atau 4×6, toh hasilnya pun sama. Tidak dipungkiri kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang cenderung berorientasi pada hasil. Bahkan banyak orang memperoleh hasil dengan menghalalkan segala cara. Mempunyai uang banyak tapi hasil korupsi. Mempunyai jabatan tinggi tapi hasil dari menyogok atau membeli suara, dan banyak lainnya. Bedanya dengan sang kakak, dia masih mau mengajarkan adiknya. Kalau ia mau bisa saja ia menyuruh adiknya menggunakan ‘jalan pintas’ yaitu menggunakan kalkulator untuk mengerjakan tugasnya.

Berita soal Matematika kelas 2 SD ini mengingatkan saya pada sosok Pak Zinul. Sosok yang saya rindukan cerita-ceritanya. Pak Zinul tahu bagaimana membuat muridnya senang belajar dengan kemampuannya bercerita, kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh semua guru bukan! []

10 thoughts on “4×6 atau 6×4?

  1. Fenomena ini memang layak jadi ramai di dunia maya, sebab ternyata ada juga argumen yang membenarkan jawaban si anak SD. Argumen itu mengatakan bahwa si guru terlalu menekankan sifat linguistik dari operasi perhitungan itu, padahal operasi perkalian yang dia berikan kepada si anak SD bersifat komutatif (bisa ditukar-tukar urutannya).

  2. kamu suka matematika? aku juga suka. senengnya ketemu teman yg sama2 suka matematika. syabab lagi. kapan2 bisa diskusi aja.
    kalo menurutku 4 x 6 = 4 x 6 karena sifat komutatif. lalu ini untuk soal SD. anak SD belum tahu konsep abstrak. kasihan kalau dibebani abstrak gitu. terus gurunya tidak mengajarkan caranya dulu yang diminta gimana. jadi seharusnya tidak menyalahkan. sama seperti orang yang tidak tahu tidak bisa dihukumi salah. gurunya meninggalkan tanggung jawab mengajarnya, lalu memberi tugas tanpa memberi tahu aturan yang ia minta lalu ketika anak menjawab menurut anak atau kakaknya. bukankah itu arogan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s