Dakwah Dengan Menulis?

    Dulu saya follower sebuah blog. Pemilik blog adalah seorang penulis yang telah menghasilkan tiga buku dan satu novel. Saya suka membaca tulisannya terutama karena gaya penulisannya yang tergolong unik—menggunakan bahasa sarkasme. Tapi blog itu sudah lama tidak di update lagi, belakangan saya tahu bahwa pekerjaan pemilik blog tersebut bukanlah murni seorang penulis tapi bekerja di perusahaan swasta. Dan kebanyakan tulisan kerennya itu dia tulis ketika masih kuliah. Saya rasa saya sudah tahu mengapa blog itu tidak update lagi—sibuk dengan pekerjaan.

    Hal serupa sepertinya terjadi dengan saya. Saya juga mempunyai blog, dan blog itu sudah lama tidak saya update. Alasannya, ya saya sudah cukup sibuk dengan pekerjaan saya. Deadline ditempat kerja cukup menyita waktu dan—yang krusial—menyita pikiran saya. Saya kira itu juga terjadi pada penulis favorit saya itu. Seharian sibuk dengan pekerjaan dan malamnya terlalu capek untuk menyentuh tuts keyboard. Ditambah ia sudah berkeluarga. Barangkali daripada bergelut dengan pikiran sendiri dan tidak ada yang menjamin tulisan yang dihasilkan nanti akan dibaca orang, lebih baik waktu senggang yang ada dihabiskan untuk menggoda istri bukan! Mungkin saya juga akan melakukannya.

    Di tiap tulisan yang saya tulis, saya berusaha menyelipkan nilai tertentu di dalamnya. Entah selama ini nilai tersebut tersampaikan atau tidak. Tulisan saya adalah dakwah saya, atau tepatnya syiar saya. Menurut saya, perlu dibedakan antara syiar dan dakwah. Dakwah merupakan tindakan menyeru seseorang untuk beriman kepada Allah SWT. Ini dilakukan secara face
to face, yakni interaksi lansung. Tidak satu arah layaknya tulisan, poster, spanduk, atau pun gambar.

    Syiar memang bagian dari dakwah. Hanya saja anda tidak bisa mengandalkan tulisan untuk mengubah persepsi seseorang terhadap Islam. Atau mencukupkan diri dengan tulisan, dan meninggalkan kontak dakwah.

    Coba perhatikan negara-negara barat, memang benar mereka menguasai segala macam media mulai media massa sampai elektronik, dan media-media tersebut digunakan untuk ‘mensyiarkan’ paham mereka—misal demokrasi. Tapi tidak ‘syiar’ saja yang mereka lakukan, mereka juga berani ‘mendakwahkannya’ sebagaimana presiden Bush pernah sampaikan, “Jika kita mau melindungi negara (AS) dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi”. Maka jangan heran di negeri ini mulai dari Presiden sampai tingkat camat, dalam pidatonya tidak ada yang tidak menyebut demokrasi. Negara yang berdemokrasi dianggap dapat memberikan kebebasan dan kesejahteraan. Padahal demokrasi tidak menjamin apa-apa kecuali kepentingan negara barat (Amerika) dapat terjamin.


    Tulisan saya adalah syiar saya, seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Cuma apabila saya tidak menulis, apakah saya tidak melakukan syiar? Sayangnya memang benar demikian. Entahlah apa saya harus menganggapnya hal biasa atau sesak karenanya. []peta

5 thoughts on “Dakwah Dengan Menulis?

  1. Hhhmmm.. demokrasi.. padahal yang banyak belum tentu benar.. yang benar tentu saja yg bhub dgn AlQur’an & Sunnah (dihubungin krn post-nya bahas dakwah & syiar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s