Kemerdekaan yang Hakiki?

Beragam perlombaan diadakan untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-69, mulai lomba makan kerupuk, panjat pinang, tarik tambang, balap karung, atau lomba lainnya. Saya sudah lama tidak mengikuti perlombaan semacam itu, terakhir kali saya mengikutinya ketika duduk di bangku sekolah dasar.

Kalau saya tidak keliru, tidak ada perbedaan antara lomba Agustusan antara zaman saya dulu dengan yang ada sekarang. Jenis-jenis lombanya pun masih sama. Entah mungkin termasuk tradisi yang ingin dilestarikan sehingga tiap tahunnya lomba itu-itu saja yang diadakan.

Seiring bertambahnya usia, saya bisa memaknai nilai-nilai yang terkandung pada perlombaan tersebut. Misal lomba makan kerupuk, saya pikir itu ingin menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dulu, bagaimana susahnya makan sehari-hari walau itu sekedar makan kerupuk. Anak-anak masa sekarang setidaknya bisa merasakan kesusahan yang pernah dialami oleh kakek neneknya, dengan harapan muncul rasa syukur atas kemerdekaan yang diraih –terlepas bagi sebagian orang mencari sesuap nasi tetap saja masih susah.

Hanya saja, jika kesusahan di zaman penjajahan itu digambarkan dengan lomba makan kerupuk, apa tidak bisa lomba tersebut diganti, misalkan dengan lomba makan ubi. Menurut saya itu lebih mengenyangkan daripada makan kerupuk. Lagi pula lomba makan ubi dapat disosialisasi sebagai bahan makanan alternatif pengganti nasi yang bagi rakyat Indonesia sudah tertanam mindset “tidak makan nasi tidak makan apa-apa” yang sudah mendarah daging.

69 tahun Indonesia merdeka, bukan berarti pertanyaan “apakah Indonesia sudah merdeka?” tidak terdengar lagi justru beberapa tahun belakangan ini semakin santer terdengar. Melihat kondisi Indonesia saat ini yang tidak mempresentasikan sebagai negara merdeka. Ambil contoh, SDA negeri ini tidak lagi dikelola oleh anak bangsa sendiri tetapi 70%-nya dikuasai oleh perusahaan asing. Efeknya, 70% pendapatan negara bersumber dari pajak rakyatnya sendiri. Sedangkan kekayaan negeri ini malah dinikmati pihak luar, persis para penjajah dahulu ‘merampas’ kekayaan Indonesia.


Jika ditanya apakah kita sudah menjadi bangsa merdeka? saya pikir belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan hakiki, menurut saya, ketika tidak ada seorang pun atau suatu hal apapun yang menghalangi seseorang untuk bertaqwa kepada Allah SWT.

Anda tahu, ketaqwaan terkait erat dengan sejauh mana seorang muslim terikat dengan hukum syariat. Sayangnya saat ini umat Islam tidak dapat menjanlakan syariat secara menyeluruh (kaffah). Dalam bidang ekonomi, umat Islam tidak bisa melepaskan diri dari sistem ekonomi neo-liberal yang ditopang perbankan ribawi (non-riil), untuk kemudian beralih kepada sistem ekonomi Islam yang ditopang perdagangan jual beli (riil). Atau masih banyak syariat lainnya di bidang politik, hukum, pemerintahan yang tidak dapat diterapkan. Dan tentu saja institusi yang menerapkan syariat secara kaffah adalah Khilafah.

Barangkali Anda resah ketika saya menyebut kata ‘Khilafah”, gara-gara pemberitaan ISIS di media massa. Anda tahu, Khilafah yang dideklarasikan oleh ISIS tidak memenuhi syarat berdirinya Khilafah. Kekhilafahan semestinya memiliki wilayah secara otonom. Sedangkan yang dikuasai oleh ISIS adalah sebagian wilayah Suriah dan sebagian wilayah Irak. Jadi wilayah itu sesungguhnya masih berada di dalam kewenangan Suriah dan Irak.

Umat Islam seharusnya ‘iri’ dengan pemeluk agama Nasrani karena mereka mempunyai pemimpin spiritual tertinggi yakni Paus. Meski demikian, umat Islam tidak perlu meniru sistem Ke-Paus-an karena Islam mempunyai sistem Khilafah sebagai kepemimpinan umum umat Islam baik itu spiritual atau pemerintahan. Mungkin Anda akan berpikir, akan sangat susah untuk mengembalikan sistem Khilafah yang runtuh pada tahun 1924. Susah memang, tapi umat Islam akan terus susah tanpa adanya Khilafah bukan! []peta

*jadi apa definisi merdeka menurutmu?

4 thoughts on “Kemerdekaan yang Hakiki?

  1. Di komplek saya udah gak ada lagi tujuh belasan.. bhuhuhu.. padahal dulu saya panitia.. Memang bangsa ini udah salah urus.. kompleks banget kayaknya deh masalahnya.. Kalopun saya jadi presiden, pasti saya pusing sendiri mesti ngeberesinnya mulai dari mana.. hehe..

  2. Mas Peta benar. Kita belum bisa dikatakan merdeka secara hakiki. Kita merdeka hanya di bidang politik semata. Di bidang ekonomi, budaya, dan lain-lain kita masih tergantung dan didikte oleh pihak luar negeri. Dan itu adalah tugas generasi saat ini dan mendatang untuk menuntaskan kemerdekaan. Dirgahayu RI….

  3. sependapat. negara kita akan merdeka hakiki kalau tidak ada intervensi dari luar negeri. bebas menentukan kebijakan politik sendiri. bebas mengelola ekonomi sendiri. bebas mengatur pergaulan sosial, budaya pendidikan rakyat sendiri tanpa intervensi asing. tapi sekarang bidang ekonomi dikuasai asing. terus tontonan budaya dan budaya anak mudanya niru2 barat.
    kemerdekaaan hakiki akan bisa diwujudkan kalau negara kuat, mandiri dan ideologis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s