Kapan Kawin ?

Salah satu fase dalam hidup sudah saya, menyelesaikan studi di perguruan tinggi, sudah saya lewati. Efeknya, ketika lebaran kemarin tidak ada lagi teman ataupun kerabat yang bertanya, “Kapan lulus?” Tapi sayang muncul pertanyaan lainnya, “Kapan kawin?”

Ketika ditanya ‘kapan lulus?’, biasa saya jawab dengan santai. Dengan agak malas saya jawab, “Ya in sha Allah secepatnya!” Kapan itu dan seberapa cepat? Saya tidak tahu. Jawaban sekedarnya itu akan saya pakai pula untuk menjawab pertanyaan ‘kapan kawin?’ atau mungkin pertanyaan kapan lainnya.

Jujur saja rasa kesal itu ada ketika ada yang bertanya ‘kapan lulus?’ apalagi pertanyaan itu tidak hanya satu atau dua kali, tapi berulang-ulang kali. Saya pikir pertanyaan itu sama seperti halnya seseorang menanyakan, “kapan makan?” saya kira pertanyaan itu tidak perlu di ulang-ulang, karena si penjawab pun pasti mau makan. Jadi bersabarlah atau berangkali tukang tanya ini hadir memang untuk melatih kesabaran.

Jika dipikir-pikir, selama hidup barangkali saya akan ditanyai; ‘kapan lulus?’, ‘kapan kawin?’, ‘kapan punya anak?’ atau ‘sudah berapa anaknya?’, dan mungkin pertanyaan terakhir ‘kapan mati?’.

Terkait pertanyaan ‘kapan punya anak?’, saya baru tahu salah satu ustad kenalan saya menunggu 13 tahun lamanya untuk mempunyai anak. Fakta itu saya ketahui ketika saya bersilaturahmi ke rumah beliau. Saya tidak bisa membayangkan penantian beliau selama 13 tahun untuk mendapatkan seorang anak dari istrinya. Entah sudah berapa pertanyaan ‘kapan punya anak?’ yang beliau terima. Akankah beliau kesal, seperti saya, karena terus ditanya kapan? kapan? dan kapan?

Kata beliau, beliau menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan santai saja sebagaimana santainya seorang mahasiswa akhir ketika ditanya ‘kapan lulus?’. Barangkali beliau menjawabnya seperti saya, “Ya in sha Allah secepatnya!” Kapan itu dan seberapa cepat? Saya yakin beliau juga tidak tahu.

Ah, kuliah saya hanya molor satu tahun. Itu tidak ada apa-apanya dibanding kesabaran sepasang suami istri yang ‘molor’ 13 tahun untuk punya anak. Usaha keras saya untuk lulus kuliah, tidak bisa dibandingkan dengan usaha ‘keras’ suami istri itu. Diluar sana, masih banyak orang yang Allah SWT muliakan karena kesabarannya yang luar biasa. Tapi tentu saja, saya tidak bisa sesabar itu, menunggu 13 tahun misalkan, untuk bisa duduk di pelaminan. []peta

*menurut bayangan kalian, apa yang akan kalian lakukan jika 13 tahun lamanya tidak punya anak?

13 thoughts on “Kapan Kawin ?

  1. ya. pertanyaan “kapan lulus?” “kapan nikah?” aku juga sering ditanyai. 2 tahun belum lulus juga gara2 molor. kalau “kapan mati?” ampun deh. emang pingin cepet mati ya?
    nanti kalau sudah a’dzo dan qosam jadi hizbiyin baru aku nikah. biar solih dulu. kan istrinya sudah solihah jadi suaminya harus solih juga.

  2. Ini dia urutannya: “kapan lulus?”, lalu “kapan menikah?”, setelah menikah “kapan punya anak?”, dan setelah punya anak satu “kapan nambah lagi?”. kalau dua anaknya perempuan “kapan punya anak laki-laki?”.

    Pertanyaan begitu ndak akan ada habisnya, memang:mrgreen:

  3. Kalau dalam 13 tahun usia pernikahan, saya belum juga punya anak, saya ngga bisa membayangkan apa yang akan saya lakukan atau memprediksinya sekarang. Ngga bisa.😦

  4. kalau saya pas ke rumah tetangga sempat ditanya lulus SMP ya? atau iki SMA ta? iki mbakyu ne opo adikke (saya kan udah lulus kuliah, adek masih kelas 6 SD)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s