Berhenti Halaqah?

Salah seorang teman blogger bertanya kepada saya. Teman yang belakangan saya tahu berada satu jamaah gerakan yang sama dengan saya. Dia bertanya, “Sebaiknya aku nerusin halaqah nggak ya?”

Saya tipe orang yang tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan orang lain. Biasanya saya akan menjawab, “Ya terserah kamu, kamu yang jalanin kog?” Tapi kali ini saya kira perlu memberi sedikit penjelasan.

Saya hampir lupa bagaimana saya sampai tergabung dalam kelompok jamaah ini. Awalnya saya ikut kajian. Mungkin karena materi kajian itu sangat menarik maka saya mengikuti secara rutin. Tidak berapa lama saya ditawari untuk halaqah — kajian keislaman yang terdiri dari 1-5 orang saja dan dipimpin oleh satu musrif (mentor) diadakan dua jam sekali selama satu minggu. Tentu saja saya mengiyakan. Waktu itu saya sedang semangat-semangatnya mempelajari Islam.


Lama ikut halaqah, sedikit banyak saya jadi tahu seluk-beluk dari jamaah yang saya ikuti. Untuk apa jamaah ini dibentuk dan tujuan dari halaqah yang saya ikuti. Pada titik ini, saya rasa struktur berpikir saya mulai terbentuk sehingga saya mempunyai semacam ‘pisau bedah’ untuk memilah pemikiran-pemikiran di luar sana, apakah pemikiran itu diterima oleh akal sehat saya atau tidak. Termasuk pemikiran-pemikiran dari jamaah yang saya ikuti. Dan sejauh ini, akal sehat saya tidak menemukan hal yang patut untuk ditolak.

Saya bersyukur dipertemukan dengan jamaah ini, oleh mereka — musrif-musrif saya — saya disesatkan di jalan yang benar. Menurut saya, keputusan saya untuk ikut halaqah adalah keputusan yang tepat dan penting dalam hidup saya. Bisa jadi, kalau saya ikut kajian keislaman kelompok lain mungkin saya benar-benar disesatkan sebagaimana orang-orang yang ikut kajian dari kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL), mereka menjadi orang-orang berpikir liberal dan merongrong agamanya sendiri.

Lalu kenapa teman blogger saya itu mau berhenti? Katanya ada perbedaan tujuan dari mengapa ia ikut halaqah dengan tujuan halaqah itu sendiri. Menurutnya, dia ikut halaqah supaya menjadi pemuda muslim alim bijaksana sedangkan halaqah itu sendiri bertujuan untuk menjadikan ia nanti seorang pengemban dakwah. Padahal dia tidak mau menjadi pengemban dakwah!

Dakwah, Anda tahu, adalah kewajiban tiap individu muslim. Dakwah pula merupakan ‘pekerjaan’ utama para Nabi dan Rasul yaitu menyampaikan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah SWT. Anda tergabung dalam jamaah atau tidak, kewajiban berdakwah akan terus melekat dalam diri Anda. Justru tergabung dalam jamaah dakwah lebih mudah, Anda terbantukan karena dibekali ilmu dan ada yang selalu mendorong Anda untuk berdakwah.

Jika berbicara dakwah dalam lingkup kelompok, maka kita berbicara peranan apa yang bisa kita ambil. Jika Anda mampu, Anda bisa menjadi seorang narasumber atau orator dakwah. Kalau pun belum sanggup, Anda bisa berperan di hal lainnya. Misal, menulis materi dakwah, atau sekedar menyiapkan panggung untuk aktivitas dakwah — ini biasa yang saya lakukan🙂. Apapun itu, sekecil apapun peran Anda, itu sangat dibutuhkan untuk keberhasilan dakwah. Sebagaimana motor tidak akan berjalan tanpa busi. Kecil tapi sangat menentukan.

Terakhir, jawaban untuk teman blogger saya itu, “Kamu sudah dengar penjelasanku kan! Ya akhirnya terserah kamu, kamu yang jalanin kog?” Mungkin teman blogger saya itu bertanya balik, apa pernah terbersit dalam kepala saya untuk keluar dari jamaah? Pernah, dan itu akan saya lakukan jika Hizbut Tahrir tidak lagi memperjuangkan tujuannya yaitu melanjutkan kehidupan Islam dengan diterapkannya syariah dan ditegakkannya Khilafah. []

2 thoughts on “Berhenti Halaqah?

  1. aku membacanya. kena deh. jad pembahasan di ruang publik. jadi malu. lewat balas komentar aja gimana?
    ya, kemarin dikasih tau sih dakwah itu kewajiban individu yang tercantum dalam Al-qur’an QS An-nahl :125. ikhwanku bilang jadi pemuda alim ulama itu boleh. cuma ulama sekarang pasif, menunggu orang lain minta tolong memecahkan masalah mereka, sedangkan pengemban dakwah itu ulama yang aktif. pengemban dakwah itu aktivis yang benar-benar peduli dengan masalah umat walau aktivitas individu dan jamaahnya nggak setiap hari bikin aksi.jamaah dakwah itu berkorban melakukan banyak aktivitas untuk umat agar umat kembali ke jalan yang benar, ke dalam kehidupan yang islami, yang rdiridhai Alloh ta’ala. mereka adalah pahlawan, penerus risalah Nabi Muhammad SAW. mereka adalah agen perubahan, agent of change. real change. true revolution.

  2. Artikel mantap dan menginspirasinbagi orang yg membacanya halqah acdalah kajian yang akan membawa pencerahan terhadap pemikiran manusia. salam islam dan perjuangan untuk antum🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s