Kecanduan Gadget?

Beberapa hari lalu, ketika balik ke Surabaya dari kampung halaman, saya lupa untuk membawa hardisk saya. Hardisk itu ketinggalan, dan yang saya ingat terakhir kali hardisk itu dipinjam oleh kedua adik saya untuk meng-copy film animasi. Saya yakin posisi hardisk itu masih tercolok di komputer adik saya.

Tanpa hardisk, anda tahu, membuat saya was-was. Hampir semua data penting ada di sana mulai materi kuliah, kerjaan, master software, film, lagu, dan file penting lainnya. Mengingat komputer adik saya rawan virus, saya was-was data saya akan hilang.

Terhitung empat hari saya tanpa hardisk. Hardisk itu saya bawa kemana-mana karena data kerjaan saya ada disana dan jika saya bosan saya bisa menonton film kesukaan saya kesekian kalinya atau sekedar menyetel mp3. Saya khawatir dengan tidak adanya hardisk, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Bagaimana dengan kerjaan saya? Apa yang akan saya lakukan di waktu senggang? Bagaimana jika ada yang minta data sedangkan hardisk saya tidak ada? Atau pertanyaan-pertanyaan lainnya gara-gara hardisk saya tidak ada.

Ternyata, kekhawatiran saya tidak terbukti. Selama empat hari itu hidup saya normal-normal saja. Justru ketergantungan saya terhadap hardisk, sepertinya membuat hidup saya tidak normal!


Tidak hanya hardisk, seringkali kita sangat tergantung dengan HP atau gadget. Atau kalau tidak mau dikatakan kecanduan. Menurut survei, orang Indonesia menghabiskan 9 jam ‘memolotin’ layar gadgetnya. Wajar, mulai dari bermain game, WhatsApp, Line, Instagram, Path, Facebook, Twitter, atau aplikasi lainnya semuanya dikerjakan dalam gadget kita. Saya bisa tahu karena saya pernah kecanduan.

Tapi itu tidak lagi. Pada titik tertentu saya sadar bahwa kehidupan saya dikendalikan oleh gadget. Sama seperti hardisk, saya membawa gadget kemana-mana. Apalagi komunikasi yang saya lakukan dengan teman-teman melalui grup WhatsApp. Ada ‘ketakutan’ sendiri jika tidak membawa gadget, saya akan ketinggalan informasi.

Saya pikir, kecanduan atau perasaan tidak nyaman ketika jauh dari gadget terbentuk dari kebiasaan kita. Coba lihat, setelah bangun tidur apa hal dulu yang kita pikirkan, “gadegt mana gadget?” Atau, keseringan kita bermain gadget tanpa ada batasan waktu, kecuali habisnya battery yang membuat kita untuk berhenti.

Saya bisa mengatasi kecanduan saya. Sebenarnya itu bukan murni datang dari saya sendiri. Tapi datang dari keterpaksaan. Saya terpaksa bermain gadget karena gadget saya rusak, tidak bisa dinyalakan. Sebaiknya saya membiarkan seperti itu saja tidak perlu saya servis.

Anda merasa termasuk dari orang yang kecanduan gadget, dan ada keinginan untuk berhenti. Mulai detik ini cobalah matikan gadget anda, itu lebih baik bukan daripada merusak gadget anda. Jika anda belum bisa jauh dari gadget, paksalah diri anda untuk menjauhinya. Kadang, memaksa diri itu perlu supaya tujuan kita berjalan sebagaimana mestinya. Positifnya, misal, anda mempunyai lebih banyak waktu untuk bersenda gurau dengan orang-orang terdekat anda. Anda tahu, tawa kita saat bercanda tidak bisa diwakilkan dengan sebaris text, “haha..” atau “wkwk..” []

7 thoughts on “Kecanduan Gadget?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s