Blacklist

Saya baru saja mem-blacklist sebuah toko. Masalahnya, gas elpiji 3 kg yang dibeli di toko tersebut tidak sampai seminggu sudah habis. Biasanya pemakaian gas elpiji sekitar satu bulan. Kemungkinan cepat habisnya gas bisa karena kebocoran atau gas elpiji tersebut ‘oplosan’. Dugaan saya eplpiji itu di oplos. Pertama karena kalau bocor tentu mudah diketahui dari bau atau suara gas bocor, tapi itu tidak. Kedua, ketika awal membeli, segel tutup gas mudah dilepas tidak seperti biasanya yang saya harus menggunakan gunting untuk membukanya, ini tidak langsung copot saja.

Toko itu, tidak bisa saya sebut namanya, menambah daftar toko yang masuk blacklist saya. Sebelumnya ada toko-toko yang menjual minuman keras. Jika ada toko yang menjual barang lebih mahal daripada toko lainnya, saya kira itu masih taraf kewajaran, tidak perlu dimasukkan dalam blacklist saya.

Blacklist, anda tahu, semacam daftar yang tidak disukai. Apa saja yang tertulis di daftar itu lebih baik dihindari karena yang masuk di black list adalah mereka yang melakukan hal-hal buruk atau pernah merugikan anda. Selain toko, ada kategori blacklist lainnya seperti nama orang (tokoh), warung makanan, warnet (mulai jarang). Tokoh yang masuk blacklist saya, jika anda ingin tahu, seperti Bashar Assad (Presiden Syria), As Sisi (Presiden Mesir sekarang), Barrack Obama dan Bush (Presiden Amerika), Jalaluddin Rahmat (Syiah), Ulil Abshar Abdallah (JIL).

Assad, As Sisi, ataupun Bush merupakan orang yang bertanggungjawab meninggalnya ratusan atau bahkan ribuan umat Islam kerena kebijakan mereka. Jadi sangat pantas mereka masuk dalam black list. Bahkan bagi sebagian orang, mereka pantasnya masuk dalam deadlist. Untuk Jalaluddin Rahmat maupun Ulil, anda harus berhati-hati dengan pemikiran mereka. Mengikuti mereka, bisa-bisa anda menyimpang dari ajaran Islam.

Saya pikir, kita perlu mempunyai semacam blacklist. Fungsinya supaya mengingatkan kita atas keburukan-keburukan mereka, kita jadi tahu mana lawan mana kawan, atau setidaknya tidak melakukan kesalahan dua kali. Misal, saya mem-blacklist sebuah warung makanan karena saya pernah membeli nasi bungkus dan menemukan pada daging ayamnya terdapat ulat-ulat kecil (belatung). Dengan memasukkan warung tersebut dalam blacklist, kita tidak melakukan kesalahan dua kali dengan membeli makanan di warung tersebut meskipun ada teman yang mentraktir kita di warung itu. Lagipula, masih banyak warung yang lebih sehat yang bisa kita singgahi.

Tentu tidak fair jika saya hanya membuat blacklist, maka saya membuat ‘respectlist’ yaitu daftar orang-orang yang patut saya hormati karena kerja keras mereka atas usaha yang mereka capai. Mereka telah membantu banyak orang dan meningkatkan harkat hidup orang banyak. Mereka adalah inspirasi kehidupan. Di kegelapan malam saya tidak segan-segan untuk memohonkan kepada Allah agar menurunkan rahmat dan berkah kepada mereka. Siapa saja mereka? Yang pasti nama kedua orang tua saya masuk di dalamnya, bahkan di jajaran atas.

Saya harap saya tidak masuk dalam blacklist seseorang. Kalaupun ada, saya harap itu seperti bagaimana Amerika mem-blacklist Ust Felix Siauw untuk masuk ke Amerika. Ust Felix Siauw pernah dicekal di bandara internasional Amerika. Padahal kedatangan Beliau ke negeri paman Sam tersebut untuk memenuhi undangan ngisi pengajian. Justru karena pengajian itu barangkali Ust Felix tidak boleh masuk Amerika. Saya kira, Amerika seharusnya mem-black list karena saya termasuk orang yang anti demokrasi barat! []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s