Demokrasi Anti Islam

Tidak dipungkiri, ada kalangan dari umat Islam yang mengklaim bahwa demokrasi adalah bagian dari Islam, atau Islam adalah agama yang demokratis. Tidak sedikit artikel atau buku yang dikeluarkan untuk menjelaskan kaitan demokrasi terhadap Islam. Meski sistem demokrasi dianggap sistem yang paling baik saat ini, bukan berarti demokrasi tidak menuai kritik. Kritik datang dari tokoh Inggris Winston Churchil (mantan Perdana Menteri) yang mengatakan, “Demokrasi adalah kemungkinan terbutuk dari sebuah bentuk pemerintahan.”


Dalam sejarahnya, berdasar buku Ilusi Negara Demokrasi disusun oleh Farid Wadjdi, dkk (2009:296), kemunculan demokrasi terinspirasi fakta negara kota (polis) di kota Athena Yunani pada sekitar tahun 450 SM yang mempraktikkan pelibatan seluruh warga kota dalam proses pengambilan keputusan. Konsep Yunani Kuno tersebut digali kembali di Eropa pada ‘zaman pencerahan’, yakni era perlawanan terhadap kekuasaan gereja dan kaisar (pada zaman pertengahan) yang sarat dengan penyimpangan dan penindasan terhadap rakyat dengan mengatasnamakan agama (baca : gereja). Oleh karena itu, muncullah gerakan reformasi gereja yang menentang dominasi gereja, dan menghendaki disingkirkannya agama dari kehidupan, dan menuntut kebebasan. Puncaknya adalah Revolusi Prancis tahun 1789 yang berujung pada sekularisasi, yakni upaya kompromistik untuk memisahkan gereja dari masyarakat, negara, dan politik.

Pada masa itu, orang mencari suatu model agar kekuasaan tidak dimonopoli oleh satu orang, keluarga kerajaan, kaum bangsawan atau penguasa gereja. Ironisnya, satu-satunya bahan yang tersedia bagi para pemikir di Abad Pertengahan adalah dari sejarah Yunani Kuno. Dari sejarah itu mereka belajar bahwa di kota Athena tempo dulu diterapkannya satu sistem, yaitu seluruh warga kota turut serta dalam proses pengambilan keputusan. Sistem tersebut dianggap sistem yang baik oleh para pemikir Abad Pertengahan waktu itu. Mereka yang sedang tertekan oleh kediktatoran para raja dan kaum bangsawan serta penguasa gereja kemudian mengadopsi sistem Athena tersebut dan mempopulerkannya dengan nama “demokrasi”.

Demokrasi berasal dari kata demos artinya rakyat dan cratein yang berarti pemerintahan. Abraham Lincoln (1809-1865) mendefisikan demokrasi sebagai “goverment of the people, by the people, for the people”, suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Sistem demokrasi, bagi pemikir barat, merupakan sistem yang paling baik. Bagi mereka lawan dari sistem demokrasi adalah sistem otoriter atau totaliter (monarki dan teokrasi). Padahal ketika demokrasi diterapkan di masyarakat Athena, Aristoteles, Filosof Yunani waktu itu berpendapat, “Pemerintahan yang didasarkan pada pilihan orang banyak dapat mudah dipengaruhi oleh para demagog (penghasutan terhadap orang banyak dengan kata-kata yang dusta untuk membangkitkan emosi rakyat) dan akhirnya akan merosot menjadi kediktatoran.”

Peradaban Islam yang mencapai puncak kejayaannya pada abad pertengahan tidak perlu menerapkan sistem demokrasi untuk menjadi peradaban yang maju. Peradaban Islam yang gemilang itu tidak menerapkan sistem demokrasi melainkan sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Perbedaan utama demokrasi dengan sistem pemerintahan Islam dalam hal kedaulatan. Jika dalam demokrasi kedaulatan ada di tangan rakyat (manusia) artinya pembuat hukum adalah manusia dan manusia hidup dengan aturan yang dibuatnya itu. Berbeda dengan Islam, kedaulatan ada di tangan syara. Penguasa dipilih hanya untuk menjalankan hukum syariat. Sistem pemerintahan Islam yang diterapkan 13 abad lamanya mampu membawa kesejahteraan tidak hanya umat Islam tapi juga umat manusia, sebagaimana intelektual barat menulis, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu pun telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannnya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasaan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah, dan seni mengalami kejayaan luar biasa…” (Will Durant – The Story of Civilization)

Demokrasi, anda tahu, mempunyai antibodi untuk menjaga eksistesinya. Masih segar dalam ingatan kita mengenai pelengseran presiden Mursi. Mursi yang menang telak dalam pemilahan umum yang demokratis itu, dilenserkan karena terindikasi ingin menggati hukum sekuler Mesir dengan hukum syariat. Demokrasi tidak menghendaki pihak-pihak yang ingin menggerogoti sistem demokrasi, walau itu harus dengan cara-cara yang tidak demokratis sekalipun.

Jika anda menganggap demokrasi bagian dari Islam, bisa jadi anda akan ditertawakan oleh penggagas demokrasi. Dilihat dari sejarahnya, tidak ada sangkut paut Islam dengan munculnya demokrasi. Tapi, saya pikir mereka malah senang jika kita menganggap demokrasi adalah Islam itu sendiri. Mereka senang jika umat Islam tersekulerkan! []

5 thoughts on “Demokrasi Anti Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s