Mendukung-Mengkhianati Islam(isme)?

Di kitab Nidzomul Islam (Peraturan Hidup Dalam Islam) Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani –semoga Allah SWT merahmati beliau – tertulis Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yang mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya, dengan dirinya dan dengan manusia sesamanya. Hubungan manusia dengan Khaliq-nya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya tercakup dalam perkara akhlaq, makanan, dan pakaian. Hubungan manusia dengan sesamanya tercakup dalam perkara mu’amalah (aturan-aturan dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, sosial) dan uqubat (sanksi).

Dari pengertian di atas bisa dilihat bahwa Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia. Tidak hanya mengatur masalah hubungan manusia dengan Tuhannya (ibadah). Akan tetapi Islam juga mengatur dan menyelesaikan permasalahan hubungan manusia dengan dirinya maupun dengan sesamanya (muamalah).

Berangkat dari sini, dapat dipahami bahwa Islam tidak hanya konsep teologis tapi seperangkat ideologis. Islam bersama ideologi lainya, Kapitalisme dan Sosialisme, masih eksis dan diadopsi oleh beberapa negara sebagai ideologinya. Kecuali Islam, tidak ada satupun negara yang mengembannya sebagai ideologi. Terakhir Khilafah Ustmani yang tercatat menjadikan Islam sebagai ideologi pemerintahan. Kapitalisme sendiri di emban oleh Amerika, sedangkan Uni Soviet atau Korea Utara dengan Sosialismenya.

Anda tahu, sudah watak ideologi untuk menyebarkan paham ideologinya. Mereka akan berusaha menjadikan ideologi yang mereka anut sebagai ideologi yang memimpin dunia. Amerika misalnya, mereka menginvasi, baik itu softpower maupun hardpower, negara-negara berkembang seperti di sektor ekonomi (liberal), dan politik (demokrasi). Jika cara softpower tidak berhasil, mereka tidak segan-segan untuk mengerahkan militer. Contohnya Iraq, dengan alasan proses demokrasi, Amerika menginvansi Iraq dengan kekuatan militernya. Ironis, untuk sebuah proses demokrasi Amerika melakukan cara-cara yang tidak demokratis!

Cara yang dilakukan Amerika sampai saat ini cukup berhasil. Hampir seluruh negara di dunia menerapkan sistem politik demokrasi. Perekonomian dunia pun mengarah pada neo-liberal. Ciri-cirinya adanya deregulasi dan privatisasi. Deregulasi yaitu mengurangi campur tangan pemerintah terhadap bidang apapun yang memiliki potensi untuk menghasilkan profit. Privatisasi yaitu menjual aset-aset termasuk aset strategis demi alasan efisiensi. Penerapan ekonomi neo-liberal bisa dirasakan di Indonesia, 70% sumberdaya alam di negeri ini dikelola oleh perusahaan asing. Atau, bisa kita lihat ketika kenaikan BBM dimana salah satu alasannya adalah menyesuaikan harga BBM di dalam negeri dengan mekanisme harga pasar (bebas).



Penerapan sistem demokrasi maupun ekonomi liberal bukannya tidak ada kritik, justru kritik itu semakin nyaring terdengar belakangan ini karena bukannya mensejahterakan masyarakat global malah membuat masalah baru. Demokrasi yang berasaskan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, nyatanya hanya pepesan kosong belaka. Faktanya, demokrasi berasaskan dari korporasi, oleh korporasi, untuk korporasi. Demokrasi hanya menjadi alat oleh kapitalis untuk mengeruk keuntungan. Sistem ekonomi liberal pun hanya menguntungkan segelintir orang saja yaitu para para pemilik modal.


Ketika ideologi Kapitalisme ini mulai disebarkan, disaat itulah ideologi ini berbenturan dengan umat Islam yang mempunyai ideologi sendiri yaitu ideologi Islam. Benturan terjadi karena secara asas (akidah) Islam bertolak belakang dengan ideologi kapitalisme yang akidahnya adalah sekulerisme (pemisahan agama dengan persoalan kehidupan). Sedangkan dalam islam, tidak ada pemisahan antara agama dengan persoalan kehidupan umatnya.

Barat mulai khawatir dengan mulai munculnya gerakan Islam (Islamisme) yang menjadikan Islam sebagai ideologi gerakannya. Dalam perspektif barat, Islamisme diartikan sebagai gerakan yang anti-Barat, anti sekularisme, anti demokrasi, dan dianggap anti modernisme. Gerakan ini muncul untuk mengalahkan barat dan menggantikan peradaban barat.

Saya pikir, tujuan dari Islamisme bukanlah untuk mengalahkan barat. Tapi bertujuan untuk mengamalkan Islam secara kaffah. Bagaimanapun seorang muslim terikat dengan islam baik secara vertikal (hubungan dengan Allah SWT) maupun secara horizontal (hubungan dengan dirinya dan sesamanya).

Dalam tatanan lebih tinggi, Islam memerintahkan umatnya untuk bertaqwa secara individu, masyarakat maupun negara yaitu dengan menjalankan aturan-aturan Allah SWT. Ketaqwaan ini lah yang dapat mengantarkan umat Islam mendapat ‘berkah’ dari Allah SWT, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit & bumi…” Ketaqwaan kepada Allah inilah yang akan memancarkan peradaban Islam dan dengan sendirinya memadamkan peradaban barat yang secara akidah sudah rapuh.

Islamisme, menurut saya, adalah gerakan yang tujuan utamanya bukan mengalahkan dominasi barat, tapi untuk menjalankan Islam secara kaffah baik dalam tataran individu, masyarakat, dan negara. Ideologi Islam menjadi motor gerakan ini. Tentu saja untuk menjadi islamis ( pendukung islamisme) anda harus menjadi muslim yang baik, mengutip kata teman saya, yaitu muslim yang mengalahkan hawa nafsu yang menguasai, mengalahkan bisikan-bisikan setan yang mengajak untuk berbuat dosa, mengalahkan diri yang cenderung pada egoisme, sifat-sifat tercela, malas menggunakan akal, malas memperbaiki diri, dan malas beramal. Pertanyaannya, anda memilih sebagai muslim saja atau islamis? Oh, saya pikir itu bukan untuk dipilih tapi dijalankan! []

3 thoughts on “Mendukung-Mengkhianati Islam(isme)?

  1. I like your post, five stars!

    Persoalan kita adalah bagaimana agar Islam sebagai suatu gerakan bergerak ke tujuan dengan orientasi yang seharusnya; bagaimana agar Islam ada dalam motif yang menggerakkan kita, dalam cara yang dengannya kita berproses/ bergerak, dan dalam tujuan yang hendak dicapai.

    *Btw, rasanya benar-benar bermanfaat kalau bisa berinteraksi dengan pemikiran dan tulisan. Tampaknya seperti monolog, tetapi kita ini sedang berdialog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s