Mata Dan Kaki Yang Berada Di Surga

Mempunyai rasa iri, saya pikir, itu perlu. Tentu iri dalam artian positif. Misal, iri kepada orang yang berilmu sehingga kita termotivasi untuk belajar lebih giat lagi. Iri kepada ahli ibadah yang membuat kita malu jika melihat amal ibadah kita selama ini. Jadi, iri yang maksud adalah perasaan tidak nyaman ketika melihat diri tidak sebaik orang lain, kemudian berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Tiap ada orang hebat, tiap itu pula rasa ‘iri’ muncul di hati. Apalagi diluar sana masih banyak orang yang lebih baik daripada saya. Contohnya ketika saya lihat video di youtube tentang seorang anak yang hafiz Qur’an. Anak itu bernama Mu’adz dan ia tuna netra. Coba bayangkan, anak yang buta saja bisa hafal Qur’an sedangkan saya yang bisa melihat, sudah berapa juz yang sudah saya hafal. Tidak, tidak, sudah berapa surat yang sudah saya hafal?

Saya semakin tidak ada apa-apanya dihadapan Mu’adz ketika mendengarkan perkataannya, “Maha Suci Allah, aku bersyukur atas nikmat kurniaNya ini. Walau dalam shalatku, aku tak pernah meminta kepadaNya agar diberikan kembali penglihatan ini kepadaku..”

Ketika ditanya, “Tidakkah engkau ingin minta kepada Allah (untuk bisa melihat)?”

“Aku berharap agar keadaan aku ini (yang buta) menjadi HUJAH bagiku di Hari Kiamat kelak sewaktu bertemu denganNya. Agar Dia mudahkan perhitunganku daripada AZAB siksaNya. Dan sewaktu aku berdiri dihadapanNya. Aku tahu, aku akan merasakan TAKUT serta MENGIGIL…”

“Dia akan bertanya kepada ku, ‘Apa yang enagkau telah perbuat dengan AL-QUR’AN?’ Aku berharap Dia akan mudahkan perhitunganNya terhadapKu.. Dan Allah merahmati sesiapa yang Dia kehendaki! Tetapi Allah telah merahmatiku sebegitu banyak sekali dengan Al Qur’an.”

Lihat, anak itu memang buta, tapi tidak membutakan hatinya untuk melihat karunia Allah yang lain. Sedangkan banyak umat Islam yang bisa melihat, tapi hatinya buta akan rahmat Allah kepadanya.

Di acara Konferensi Islam dan Perababan (KIP) Kota Banyuwangi, ada sosok wanita yang mambuat saya iri. Namanya Ibu Dwi, jika dilihat foto yang tersebar di facebook, beliau mempunyai kecacatan di kakinya. Tapi kecacatan itu tidak menghalangi beliau menghadiri acara KIP. Bukankah acara seperti itu ramai dengan banyak orang, tidak kah beliau merasa minder dan lebih memilih untuk ‘bersembunyi’? Saya rasa, kecintaan beliau terhadap Allah dan Rasulullah mengalahkan segala-segalanya, kemudian memilih datang ke acara KIP dan bersama ribuan orang lainnya menyerukan Indonesia segera menerapkan aturan-aturan Allah, karena #IndonesiaMilikAllah.


Mu’adz, dan juga Ibu Dwi, merupakan sosok yang patut kita tiru. Dari Mu’adz saya belajar bahwa setiap orang yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Ibu Dwi mengajarkan kecacatan fisik bukan halangan untuk memperjuangkan agama Allah.

Mata Mu’adz sudah menunggunya di surga. Kaki Ibu Dwi juga sudah menunggunya di surga. InsyaAllah. Sekarang, bagaimana dengan mata dan kaki kita? []

Nb: Foto diambil saat beliau menghadiri acara Konferensi Islam dan Peradaban di Banyuwangi Jatim. Saya pribadi, tidak ada maksud untuk mengeksplotasi apapun dari gambar ini.

3 thoughts on “Mata Dan Kaki Yang Berada Di Surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s