Review : Yuk, Berhijab!


Sebenarnya ada perasaan ‘malu-malu mau’ pas membeli buku ini. Buku dengan sampul berwarna ungu, ber-cover wajah Muslimah, dan tulisan “Yuk, Berhijab!”. Biasanya jika mau membeli buku, saya mempertimbangkannya masak-masak. Tapi untuk buku ini saya langsung ambil saja dan segera ke kasir. Saat di kasir pun, saya berharap-harap cemas semoga mbak kasirnya tidak bertanya, “Mas mau berhijab?”

Tentu saja saya tidak ingin berhijab, karena itu diperuntukkan bagi Muslimah. Keperluan saya dengan buku itu, saya butuh ilmu tentang hijab syar’i (hijab sesuai hukum syariat). Ilmu yang saya pikir di masa yang akan datang perlu saya pahami dan saya ajarkan!

Buku “Yuk, Berhijab!” ini buku ke-5 yang saya punya dari karya Ust Felix Siauw. Buku yang se-genre dengan buku “Udah Putusin Aja!”, karena full gambar atau visualisasi. Visualisnya siapa lagi kalau bukan mbak @benefiko.

Barangkali karena terbiasa dengan membaca buku yang full text, saya merasa tidak nyaman dengan buku yang full visualisasi sedangkan di buku ini textnya minimalis dan padat. Saya rasa, dibandingkan “Udah Putusin Aja!”, buku “Yuk, Berhijab!” ini lebih banyak textnya. Wajar karena di buku ini memaparkan pendapat para ulama dan ahli bahasa Arab tentang jilbab dan kerudung.

Justru dengan banyaknya visualisasi, saya pikir saya tidak akan bosan membaca buku ini. Apalagi visualisasinya memang T.O.P B.G.T.

Sedikit kejutan di awal buku, cover depan gambar Muslimah berkerudung lebar. Tapi ketika buka lembar berikutnya, Muslimah tersebut memakai sarung tinju. Wew!

Saya pikir buku ini cukup gamblang menjelaskan tentang kewajiban untuk menutup aurat bagi wanita, jilbab, kerudung, mahram, kehidupan khusus dan kehidupan umum bagi para perempuan, dan berbagai pandangan miring terhadap wanita. Yang menarik, bagaimana Ust Felix meng-counter alasan dari para wanita yang biasanya enggan memakai hijab. Misal,

“Saya nggak mau hijab! Hijab itu kan kuno.” | Lha, coba lihat itu zamannya Flinstones, lebih kuno lagi, nggak pake hijab.

“Saya kemarin liat ada yang berhijab, tapi malah nyuri!” | So what? Yang nggak hijab juga banyak yang nyuri, nggak ada korelasinya kali.

“Susah cari kerja kalo pake hijab!” | Lalu membantah perintah Allah demi kerja? Emang yang kasih rezeki siapa, sih? Bos atau Allah? Dan bosmu bisa nggak kasih gaji yang bisa beli surga?

“Itu kan, nggak wajib dalam Islam?” | Kalo nggak wajib, ngapain Rasul Saw. perintahin semua Muslimah nutup aurat?

“Kalo belum panggilan Allah?” | Allah bahkan udah perintahkan bukan hanya manggil! Kita aja kadang nggak mau denger.

Dan alasan-alasan lainnya..

Buku ini cocok buat kamu Muslimah yang belum berhijab tapi ingin berhijab, yang ingin menyempurnakan hijabnya, atau ingin mendakwahkan hijab syar’i, buku ini bisa menjadi referensi. Cocok juga buat lelaki yang …. *isi sendiri*

Berikut kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Fashion jadi pembenaran untuk menjadi murahan, seni jadi alasan untuk tanggalkan harga diri. Atas nama tren, wanita-wanita berlaku tanpa rasa malu (hal. 21)
  2. Walau lelaki dilebihkan Allah untuk memimpin wanita, bukan berarti lelaki dibolehkan bertindak semena-mena (hal. 42)
  3. Islam adalah agama yang memandang wanita sebagai makhluk nan agung, mereka harus terlindung dengan jilbab dan kerudung. Islam bukan bermaksud memasung, tetapi agar wanita terhormat dan terlindung (hal. 52)
  4. Yang tidak ada batasan aurat hanya di hadapan suami sendiri (hal. 58)
  5. Kerudung bukanlah pengganti keindahan rambut, hingga dibentuk menyerupai rambut, bahkan dibentuk segala rupa untuk mendapat perhatian lebih daripada sekedar rambut (hal. 114)
  6. Hjiab bukanlah pelarian bagi fashion yang tetap ingin disebut islami (hal. 117)
  7. Tidak akan selesai bila kita mendengarkan manusia tentang apa yang harus kita lakukan pada diri kita. Ucapan yang paling sesuai bagi kita tentu dari Pencipta, karena Dia yang tentukan neraka atau surga (hal. 132)
  8. Karena muslimah sudah cantik sejak ia bersyahadat, dan hijab menandakan keindahan yang tak bisa diperlihatkan aurat (hal. 133)
  9. Hijab bukanlah pernyataan “aku sudah baik” atau “aku tiada dosa”. Hijab sederhana, hanya pernyataan “aku ingin taat” (hal. 140)
  10. Tidak semua Muslimah itu melakukan yang salah karena memang bermasalah. Kebanyakan Muslimah melakukan yang salah karena belum diberi tahu mana yang benar. Walaupun tentu belajar itu ada masanya. Tidak selamanya salah bisa dilegitimasi dengan alasan belajar (hal. 142)

Judul            : Yuk, Berhijab!

Penulis            : Felix Y. Siauw

Visualis & Ide cerita    : Emeralda Noor Achni

Penerbit        : Mizania

Review by Peta

10 thoughts on “Review : Yuk, Berhijab!

  1. Saya sudah berhijab, tapi entah sudah syar’i atau belum. yang jelas hijab yg saya kenakan tidak pake tutorial. Jadi hanya jilbab lebar panjang sederhana. Sering dipanggil ibu2 sih, padahal masih usia masih 25. hehe..

    rasanya saya perlu beli buku ini…
    terimakasih reviewnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s