Jilbabin Hati?

Niza Nurmalasari memutuskan untuk berhijab. Tidak ada yang fenomenal dengan kabar tersebut bukan, kecuali kalau kalian tahu bahwa Niza adalah mantan vokalis perempuan dari band death metal di scene metal Surabaya. Memang terasa ganjil jika ada cewek menyanyikan lagu beraliran metal. Mungkin bagi telinga kita seperti mendengar suara teriakan, teriak sana teriak sini. Tapi bagi penggemarnya, it’s rock!

Seringkali yang melekat pada band metal yaitu tatto dan mabuk-mabukan. Niza, yang diwawancarai oleh Underground Tauhid ini, tidak mengingkari hal tersebut. Ketika Niza ditanya mengapa ia memutuskan untuk berhijab, ia menjawab: “Entahlah, tiba-tiba hati saya tergerak. Saya dulunya setiap hari minum sampai mabuk nggak mikir kalau setelah kematian nanti perbuatan kita itu bakal dipertanggung jawabkan. Tiap pulang, ibu selalu marah-marah di rumah karena badan saya bau rokok. Pulang pagi udah biasa. Bahkan saya pernah dibilang ikutan pakai narkoba, dan di sangka macem-macem gara-gara beberapa kali pulang dalam keadaan mabuk. Astaghfirullah…”

“Waktu itu habis patah juga sih. Jadi hatinya belum bisa move on. Bahkan suatu hari sempat memutuskan bertatto, padahal dari dulu saya anti dengan tattoo. Kemudian saya sadar, dan akhirnya saya memutuskan memakai jilbab. Saya ingin berusaha jauh lebih baik. Doakan istiqomah,” lanjutnya.

Saya doakan semoga Niza dan juga wanita di luar sana yang baru memutuskan berhijab bisa diberi keistiqomahan oleh Allah Sang Pemberi Kemudahan. Doa saya juga bagi wanita yang belum berhijab, sekiranya mau berhijab, dan bagi yang sudah ber-“hijab” bisa menyempurnakan hijabnya. Bagi muslimah yang sudah mengerti kewajiban dan pentingnya berhijab, bisa menularkan “virus” berhijabnya kepada muslimah lainnya. Terakhir, bagi bapak-bapak, para lelaki, supaya senantiasa menasehati saudara perempuannya atau istrinya untuk berhijab.

Hijab, menurut yang saya amati, terdapat dua pandangan yaitu pandangan masyarakat itu sendiri dan hijab syar’i. Hijab menurut pandangan masyarakat yaitu “hijab” sebatas kerudung (khimar) dan pakaian penutup tubuh. Sayangnya, “hijab” ini seringkali masih ketat, transparan, menyingkap sebagian aurat yang seharusnya tertutup, atau kerudungnya model berpunuk unta.

Hijab syar’i adalah pakaian penutup aurat muslimah berdasar hukum syariat. Hijab syar’i, menurut Ust Felix Siauw di bukunya “Yuk Berhijab!”, merupakan pakaian rumah (al-tsaub) yang dirangkapkan jilbab di atasnya dan dilengkapi (khimar) yang menutup kepala, leher, hingga batas dadanya. Jilbab sendiri pengertiannya adalah baju kurung (milhafah, mula’ah, izar atau gamis).



Saya tidak habis pikir, mengapa ada yang beranggapan hijab syar’i ini hanyalah pandangan suatu kelompok tertentu. Meski hijab syar’i ini diadopsi oleh kelompok tersebut, bukan berarti hijab ini hanya diperuntukkan bagi kelompok tersebut. Hijab syar’i ini merupakan implementasi penjelasan para ulama dan ahli bahasa Arab tentang jilbab. Bisa dikatakan hijab ini adalah hijab yang islami. Dalam bukunya, Ust Felix memaparkan penjelasan para ulama tentang jilbab, seperti Ibn Katsir, Imam Al Qurthubi, Ibnu Rajab, dan Al Bira’i.

Kalaupun Anda mempunyai pandangan sendiri tentang hijab, selama pandangan tersebut Anda ambil dari pendapat seorang ulama, saya bisa menerimanya. Dan, saya akan mengatakan bahwa hijab tersebut adalah hijab yang islami.

Respek saya kepada Niza karena mau hijab tanpa nanti. Sedangkan rekannya yang lain, ada yang beranggapan, “percuma dihijab kepala dan badan kalau perbuatan masih maksiat, mendingan saya hijab hati dulu aja, deh!”

Saya tidak begitu paham dengan maksud hijab hati atau ‘jilbabin hati’? Kalau mau memakai logika ‘mendingan’, pilih mana, mendingan hijab dan taat, daripada nggak hijab dan maksiat?

8 thoughts on “Jilbabin Hati?

  1. sayangnya ada yg bilang kalau jibab gamisan itu “jilbab afiliasi”🙂
    padahal tidak mau mengkotak-kotakkan muslim, tapi mengkotak-kotakan pemahaman tentang hijab kepada kelompok tertentu,🙂

    keep istiqomah menyampaikan dakwah mas..🙂

    • Bukan jilbab afiliasi, jika itu mengacu pada tulisan saya yang Muri baca, melainkan “jilbab ideologis”. Ciri-cirinya perempuan yang hijabnya sekedar karena ideologi, begitu keluar dari kelompok dengan ideologi tersebut, model hijabnya ganti untuk menandakan dia bukan lagi bagian dari kelompok itu, bisa lebih besar, bisa lebih kecil.

      Peace🙂

  2. Maaf ya Peta, komentar-komentar saya sejak kemarin tentang topik hijab bukan karena saya ingin membuat rusuh. Saya akhirnya pun menulis tentang topik yang sama. Saya tidak hendak membuat orang mengadopsi isi pikiran saya. Saya ingin mengajak pembaca saya berpikir. Dasarnya: hendaklah kita beragama dengan ilmu. Yang namanya ilmu bukan hanya ilmu agama, melainkan juga ilmu dunia, seperti ilmu sosial.

    Persoalan berhijab bukan hanya persoalan agama, melainkan juga persoalan sosial bahkan psikologi, politik dan ekonomi. Memang sumbernya dari perintah Allah dalam Al Quran, tetapi ketika itu sampai di masyarakat, kita tidak bisa berharap setiap orang memiliki pemahaman, interpretasi, dan penerapan yang sama. Jika kita sungguh-sungguh ingin mendakwahkan perempuan untuk berhijab, sebagai pendakwah, keluarga atau teman, ada baiknya kita sedikit mau “repot” memahami faktor-faktor yang di atas itu sebagai bagian dari ikhtiar kita. Harapannya, dakwah hijab tidak menghadapi benturan yang serius sehingga menimbulkan resistensi atau bahkan penolakan yang keras dari target, gara-gara kita cuma bisa menyeru harus ini dan harus itu, tetapi tidak memahami siapa yang kita seru, bagaimana situasinya, apa kebutuhannya, dan sebagainya.

    Secara psikologis, perempuan tidak suka diajak berhijab jika caranya dengan disindir-sindir, dicela, ditakut-takuti, dan diancam ini dan itu. Kita sulit membuatnya memahami pentingnya berhijab jika dalam dakwah kita menonjolkan kasus macam, “Tuh, akibat tidak berhijab, perempuan X diperkosa orang.” “Perempuan tidak berhijab itu seperti permen dirubung lalat.” Yang seperti itu membuatnya sangat mungkin resisten seperti: “Laki-laki saja yang pikirannya ngeres! Coba kalau pikirannya tidak kotor, saya aman di mana-mana. Lihat di Barat, perempuan pakai baju apa saja bebas dan aman.” Berhijab itu salah satu manfaatnya memang menjaga perempuan, tetapi tujuan perintah berhijab itu kan bukan agar perempuan tidak diperkosa, melainkan takwa. Bisakah kita berdakwah dengan cara yang “membesarkan hati/ encouraging” bagi perempuan? Membuatnya melihat kemungkinan-kemungkinan yang baik dari berhijab? Pikirkan ini.

    Secara sosial-politik, hijab sebagai pakaian tidak hanya benda material tanpa arti. Ia punya simbol, sama seperti pakaian hitam berarti pakaian kematian, seragam merah putih adalah pakaian pendidikan. Hijab dalam variasinya adalah simbol bagi banyak hal, menandakan banyak hal, termasuk petunjuk akan ideologi tertentu. Orang terkadang sudan mengerti ideologi apa di balik pakaian tertentu, macam PDIP itu kaos merah, Golkar kuning, dsb. Hijab pun demikian. Hijab model, warna, dan ukuran tertentu menyimbolkan sesuatu. Jika kita mengajak perempuan berhijab, hijab macam apa yang kita dakwahkan padanya? Pikirkan ini. Apakah kita akan mendakwahkan hijab sesuai pemahaman agama yang kita yakini menurut mazhab/ kelompok/ ideologi kita, atau sesuai dengan yang diyakininya dalam ruang hidupnya, misalnya di lingkungan NU atau Muhammadiyah?

    Secara ekonomi pun perlu diperhatikan. Perempuan dari keluarga miskin tidak berpakaian sama seperti perempuan dari keluarga kaya. Mereka yang kaya bisa membeli kain untuk membuat pakaian atau uang untuk membeli hijab. Mereka yang tidak punya uang memakai apa saja yang ada di rumah mereka. Apakah kita akan mendorong mereka untuk membuat/membeli rok jika mereka cuma punya celana dan jilbab yang dijual di pasaran? Katakan solusinya adalah dengan menjadi dermawan untuk mereka, tetapi apakah selamanya akan begitu? Pikirkan ini.

    Silakan mengatakan berpikir begini merepotkan, tetapi sebagian orang memang perlu mengambil tugas memikirkan masyarakat secara utuh. Semoga agama bisa ditegakkan dengan ilmu, karena memang seharusnya begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s