Beras Tanpa Diskriminasi

Bertambahnya usia, tentu perlu diimbangi dengan bertambahnya skills, misal skil untuk menulis cepat, baca kilat, atau memasak. Terkait yang disebut terakhir itu, tidak disaangka skil memasak saya berkembang pesat. Kalau dulunya cuman bisa masak air untuk membuat kopi atau nyeduh mie instan, sekarang bertambah bisa masak nasi dan menggoreng telur.

Bertambahnya skil memasak saya tidak lepas kepindahan saya ke kost yang baru. Disini, ada dapur umum yang bisa saya manfaatkan (ujicoba) untuk memasak nasi. Lauk pauknya, saya masih beli di luar. Menurut saya dengan masak nasi sendiri, selain lebih hemat, merupakan langkah awal untuk belajar resep masakan lainnya. Nanti bisa saya kembangkan untuk masak nasi goreng, nasi uduk, nasi kuning, nasi biryani, atau nasi pecel. Tidak lepas kemungkinan saya mencoba masak layaknya Chef Juna atau Chef Marinka di acara Master Chef. Tapi, sepertinya yang saya butuhkan bukanlah belajar memasak, tapi seseorang yang memasakkan untuk saya.

Beras saya beli di toko klontong langganan, lebih murah daripada yang dijual di super/minimarket. Lagipula kuaalitasnya tidak jauh beda antara yang dijual di toko klontong dengan minimarket. Bedanya, paling toko klontong menjual kualitas beras yang berbeda-beda. Saya lihat, ada empat kualitas beras berbeda yang dijual di toko klontong langganan saya itu.

Kualitas satu, per kilo Rp9700. Kualitas satu ini yang biasanya di jual di di minimarket. Kualitas dua, per kilo Rp9300. Selisih 400 perak dengan kualitas satu. Beda kualitas dua dengan kaulitas satu, pada kualitas dua Anda masih menemukan kerikil yang masih nyangkut di dalam beras.

Kualitas tiga, per kilo Rp8500. Dan kualitas empat, per kilo Rp8000. Beras kualitas tiga dan empat, saya belum pernah mencobanya, tapi Anda bisa membayangkan bukan kualitas beras tiga apalagi kualitas empat? Berkerikil dan berasnya masih perlu dicuci berulang-ulang supaya bersih. Dan tentu saja, kebanyakan yang membeli beras kualitas buncit ini dari keluarga elit (ekonomi sulit).

Saya berpikir, mengapa tidak satu kualitas beras saja yang dijual? Beras yang nyaman bagi kantong orang miskin, dan nyaman bagi perut orang kaya. Harga kualitas buncit tapi mutu berkualitas.

Hal serupa tidak hanya saya jumpai di kualitas beras, Anda bisa menemukan perbedaan ‘pelayanan’ itu di kereta api. Kereta api mempunyai kelas-kelas yang bisa dipilih oleh penumpang, kelas ekonomi, bisnis, dan kelas paling mahal kelas eksekutif. Siapa yang tidak ingin masuk gerbong eksekutif yang ber-AC. Di gerbong kelas ekonomi bukannya tidak ada AC, tapi AC di sana adalah ‘AC’ (angin cendela). Karena itu jika Anda tergolong berduit, Anda bisa memilih enaknya AC sesungguhnya. Sebaliknya jika Anda kaum ‘elit’, seperti pembeli beras kualitas empat tadi, Anda harus puas dengan AC ‘angin cepoi-cepoi’.

Saya benci mengatakan ini, tapi diluar sana masih banyak ‘dikriminasi’ yang bisa dijumpai antara kaum berduit dengan kaum ‘elit’. Di pelayanan pesawat terbang, bus, layanan pendidikan (sekolah), atau bahkan layanan kesehatan (rumah sakit).

Oh, saya lupa bahwa saya tengah berada di percaturan kapitalis global. Dimana semuanya di ukur dan di atur dengan uang. Mau urusan lancar dan nyaman, harus pakai uang. Kalau tidak punya uang, Anda harus sekuat mungkin bersaing mendapatkan uang. Tidak cukup itu, Anda harus mendapat sebanyak-banyaknya. Pada titik inilah, Anda akan terperangkap oleh penjara kasat mata yang berjeruji uang. Sampai pada akhirnya, Anda akan menyembah-nyembahnya layaknya tuhan.


Memang kodrat manusia ada yang kaya dan miskin. Tapi bukan berarti tidak mempunyai akses yang sama untuk memperoleh layanan sandang pangan dan papan yang layak. Anak orang miskin punya hak yang sama untuk memperoleh pendidikan layaknya sekolah-sekolah berisi anak orang kaya. Penumpang kereta ekonomi punya hak yang sama mendapat layanan selayak penumpang eksekutif. Saya tidak habis pikir, semenjak kapan Perusahaan Umum (Perum) Kereta Api menjadi Perseroan Terbatas (PT). Layanan kepada masyarakat bukan tentang untung atau rugi, seperti swasta, tapi memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada rakyat..

Untunglah, agama yang saya anut menghilangkan ‘diskriminasi’ tersebut. Misal, karena kulit saya sawo matang shaf saya di tengah, sedangkan kulit putih di shaf depan dan shaf paling belakang kulitnya yang paling hitam. Atau, yang kaya di shaf depan dan yang miskin dibelakang.

Bukan mustahil, era kapitalisme akan terganti oleh sistem Islam yang paripurna. Jika kapitalis memanusiakan kaum borjuis, maka Islam datang untuk memanusiakan manusia. Saat itu, jangan berharap Anda menemukan beras kualitas empat di pasaran, yang ada beras kualitas super untuk masyarakat yang sejahtera. Wallahu a’lam []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s