Pulang Malu, Gak Pulang Rindu

“Pulang Malu, Gak Pulang Rindu.” Stiker berukuran besar yang tertempel di kaca belakang mobil angkot itu jelas menarik perhatian. Saya pikir, stiker itu sudah amat gamblang artinya, tidak perlu impretasi lebih untuk mencari makna dibalik kata stiker tersebut.

Sopir angkot, yang kebanyakan perantauan, punya keinginan untuk pulang kampung terutama saat-saat lebaran. Tapi pekerjaan sebagai sopir angkot yang gajinya tidak seberapa, seringkali menjadi penghalang untuk pulang. Bukan tidak ada uang untuk pulang, melainkan dirasa diri belum cukup sukses di perantauan maka ada rasa enggan untuk pulang. Tidak peduli dia sudah punya anak istri atau masih bujangan, rasanya kalau belum sukses, malu dengan bapak ibu di rumah, bertemu para tetangga, apalagi bertatap muka dengan pacar di kampung.

Sebenarnya saya juga mengalami sindrom “malu malarindu” tersebut. Tepatnya, ketika kuliah saya molor dan tidak ada kejelasan dengan nasib skripsi saya, saya malu untuk pulang ke kampung halaman, menemui bapak ibu di rumah, saudara, kerabat, tetangga, teman dekat, yang tiap kali pulang sering kali bertanya, “kapan lulus?”

Tapi pada akhirnya saya pulang juga. Damn dengan urusan kampus. Tidak peduli kata orang tentang kuliah saya. Saya harus pulang karena rindu masakan ibu. Saya harus pulang karena uang bulan sudah habis!

**

Saat ini, entahlah saya merasa ingin segera pulang. Bukan hanya pulang ke kampung halaman, tapi pulang ke kampung yang sejati. Kampung yang menjadi tempat selamanya saya akan tinggal. Jika sopir angkot, “pulang malu, gak pulang rindu,” saya sebaliknya rindu untuk ‘pulang’, malu kenapa tidak segera dipanggil untuk pulang.

Barangkali amal saya tidak seberapa sehingga masih disuruh revisi sampai amal saya siap untuk dibawa pulang. Barangkali kaki saya yang kotor masih belum pantas menginjak kesucian lantai surga, tapi Dia tidak tega menaruh saya di neraka. Dia sengaja melakukannya karena mencintai hamba-hambanya. Hanya saja, Engkau Maha Tahu bahwa diantara hamba-hambamu sudah rindu untuk pulang, rindu untuk berjumpa pemimpin para mujahidin (imamal mujahidin), penuntun petunjuk Ilahi (nashiral huda), penolong kebenaran (nashiral haqqi). Ya karimal akhlaq ya Rasulullah. []

6 thoughts on “Pulang Malu, Gak Pulang Rindu

  1. aku suka kata2mu yang bagian akhir. aku ingin pulang ke sana agar tidak banyak urusan, masalah dan tuntutan lagi, tapi gak boleh pulang dulu sebelum dijemput. nanti ditanya malaikat kubur:
    “ngapain pulang dulu? urusanmu belum selesai. malaikat mau belum menjemputmu. kalau kamu pulang dulu kamu gak boleh masuk surga. haram kamu masuk surga karena mendahului ketentuan Alloh.”
    dan kalau sudah di sana dan kondisi begitu gak bisa balik kesini lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s