Tegur Aja!

Kali ini bukan kritik lagi tapi sebuah teguran. Anda tahu, teguran lebih tinggi levelnya ketimbang kritik. Kalau kritik tidak ubahnya sebuah tanggapan maka teguran berupa peringatan atau bahkan kecaman. Mungkin itu bukan teguran, tapi komentar biasa yang orang lain biasa beri komentar. Hanya saja, saya membacanya sebagai teguran, dan seperti kritik yang saya terima, saya juga siap terhadap ‘teguran’.

Teguran (dengan tanda petik) itu masuk di tulisan blog ini. Tulisan tentang celaan saya terhadap wanita (nona) yang memperlihatkan (maaf) pahanya. Bukan ditujukan pada si nona tepatnya, tapi pemikiran si nona yang tidak merasa bersalah ketika memakai hotpans atau rok mini. Jika ingin merubah si nona tadi, saya pikir perlu ditunjukkan dulu kesalahan berpikirnya. Apa benar rok mini adalah pakaian masa kini? Atau itu perangkap dari budaya barat untuk menjebak muslimah, yang malah sebaliknya diwajibkan untuk menutup aurat.

Tidak dinyana, saya mendapat teguran atas celaan saya itu. “Lagi-lagi, yang disalahkan perempuan saja. Tolong menulislah yang berimbang, salahkan juga laki-laki yang tahu apa yang benar, tetapi bukannya mendakwahkan secara ma’ruf bagaimana berhijab yang benar kepada keluarga dan teman-teman di kampus, sekolah, atau tempat kerja, justru berpandangan miring menyalah-nyalahkan perempuan yang mungkin belum mengerti manfaat berhijab atau bagaimana berhijab yang benar. Ajaklah laki-laki yang mengerti untuk ikut mendakwahkan hijab.” Kemudian ia menulis, “Meskipun tahu yang benar, laki-laki yang abai juga akan diseret oleh perempuan untuk masuk ke dalam neraka.”

Apa ada yang salah dengan komentar di atas? Tidak, saya kira tidak. Saya akui tulisan saya tidak berimbang. Seperti tertulis di komentar, seharusnya saya juga menyoroti laki-laki (termasuk saya) yang tidak memberi tahu bagaimana berhijab yang benar.

Mengapa wanita muslim tidak memakai hijab? Saya pikir, jawabannya kalau bukan karena ketidaktahuan mengenai perintah memakai jilbab, bisa jadi wanita tadi tahu perintahnya tapi tetap tidak memakainya, bisa karena kurang nyaman dengan berhijab atau terkendala dengan aturan di tempat kerja.

Saya pernah bertanya kepada teman angkatan saya waktu kuliah, kebetulan adiknya juga kuliah satu kampus dan adiknya itu berkrudung. Saya bertanya kepada teman saya itu, mengapa ia tidak ikut memakai krudung seperti adiknya? Bukan jawaban yang saya terima, malah sikap bahwa ia tidak ingin membahasnya (sambil geleng-geleng kepala dan menutup kuping).

Masalah hijab sepertinya menjadi isu sensitif bagi para wanita. Berkaca pada pengalaman saya dengan teman angkatan saya itu, saya jadi tidak mau banyak ikut campur dengan hijab cewek yang saya temui. Berdasar pengetahuan saya, banyak hijab yang dikenakan belum sempurna. Punuk untanya masih terlihat, atau meski memakai hijab tapi lekuk tubuh mereka masih terlihat jelas. Bahkan, tidak ada beda antara yang berhijab dengan yang tidak berhijab, paling bedanya cuman di kerudungnya saja.

Apa yang saya lakukan setelah melihat semua itu? Tidak ada. Saya akui, saya belum pernah memberikan satu lembar kain pun kepada perempuan yang belum berhijab. Saya juga belum pernah memberikan secarik kertas berisikan nasihat manfaat hijab kepada perempuan yang belum berhijab. Yang bisa saya lakukan, mencela mereka dengan tulisan-tulisan saya. Saya minta maaf untuk itu, kesalahan saya adalah mengeneralisasi bahwa mereka yang pamer aurat atau tidak berhijab karena mereka sadar memilih untuk tidak berhijab, padahal masih banyak wanita di luar sana yang tidak berhijab karena ketidaktahuan mereka. Mengapa kita marah kepada mereka, karena tidak pakai hijab, padahal mereka sendiri tidak pernah diajarkan memakai hijab.

Kasusnya, barangkali, sama dengan ketika saya ujian akhir semester. Saya kesal dengan soal ujiannya, mengapa materi yang belum diajarkan dosen tapi dijadikan soal? Kekesalan saya semakin menjadi karena saya mendapat nilai jelek, dan tentu saja saya yang salah, bukan dosennya.

“Perbaikan bagi perempuan tidak akan terjadi jika laki-laki hanya bisa menyindir, mengkritik, dan menyalahkan perempuan. Perbaikan bagi perempuan, tidak akan terjadi jika perempuan yang lain, yang keadaannya atas kehendak Allah sudah lebih baik, hanya bisa menertawakan, mencela, dan membenarkan tindakan menyindir, mengkritik, dan menyalahkan yang dilakukan laki-laki,” tegurnya. Ditutup dengan komentar, “Malulah kepada Allah, bagi laki-laki yang cuma bisa berbicara-menulis mengeluhkan keadaan kaum perempuannya.”

Pada titik, saya disadarkan bahwa saya tidak boleh diam terhadap kondisi muslimah saat ini. Rasul SAW pernah bersabda, wanita adalah tiang negara jika wanitanya baik maka baiklah negaranya, dan apabila wanitanya rusak, maka hancurlah negaranya.” Saya harus berbuat lebih ketimbang hanya menyindir. Saat ini, yang terbesit dalam kepala saya, akan saya sebar sebanyak mungkin pamlet, booklet, brosur, artikel mengenai hijab.

Semua orang tentu ingin hidup di masyarakat yang baik, untuk mewujudkannya saya pikir kita tidak perlu segan untuk menegur mereka yang merongrong kebaikan itu sendiri.

Butuh Peran Negara

Menurut kalian, jika pamlet tentang pentingnya memakai hijab tersebar kemana-mana? Ceramah pengajian isinya tentang hijab semua? Apakah di jamin para wanita muslim akan memakai hijab? Saya kira tidak. Apabila ingin semua muslimah memakai hijab, perlu dibuat aturan yang mewajibkan memakai hijab. Jika negara bisa membuat aturan wajibnya memakai helm, saya pikir hal serupa juga bisa dilakukan oleh negara untuk mewajibkan memakai hijab. Negara tidak boleh tinggal diam, atau menunggu negara rusak dulu baru bertindak untuk ‘menyelamatkan’ wanita! []


Kapan yah, cewek ditilang karena tidak memakai hijab

11 thoughts on “Tegur Aja!

  1. Memakai jilbab itu juga diperlukan kesadaran. Bagaimana cara mengetuk kesadaran seseorang? Kita bisa menasehati dengan berbagai cara.. Jujur, kalau dinasihati oleh lawan jenis secara langsung, perempuan biasanya cenderung merasa malu (tidak mau mendengarkan). Coba aja, Kak, pakai cara yang tidak secara langsung (sehalus mungkin) menjaga perasaan perempuan yang belum berjilbab. Misalnya, dengan cara bercerita; biasanya cara ini cukup ampuh🙂

  2. ya, aku pernah bahas itu di cerpenku juga. terus terang tokoh utama cewekku, Wika Nurviana beberapa kali didakahi temannya yang muslimah yg namanya Laika tapi gak mau.
    mungkin perlu halaqoh dulu, dakwah aqidah dulu baru jalan. itu rencanaku. kalo nasehat praktis, nanti aku cari2 kisah wanita yang akhirnya berhijab.

  3. saya rasa sikapmaspeta itu udah betul, untuk memberikan sebuah solusi kita kan harus menjelaskan realita mereka sekarang adalah rusak bukan? realita rokmini dan baju ketat itu rusak kan? kalau mereka gak merasa rusakdengan realitanya yg sekarang mereka jalani, mereka gak akan tergerak untuk berubah kan? untuk berhijab kan?

      • bukakah kegundahan kita, sikap mengkritis dan ketiaksenangan kita akan realitas yg tak sesuai dengan islam juga sudah merupakan penampakan keimanan kita? menampakan kalau kita ingin merubah realitas? menampakkan kalau kita tidak senang dengan realitas? mas peta hanya akan menyiksadiri dengan anggapan2 seperti, saya punpernah di kick sejadi2nya, pernah di kritisi, saya memang menerima sekaligus mengkoreksi diri saya, sekaligus mengkoreksi yang mengkritik saya, dan saya temukanlah bahwa beberapa dasar cara pandang kita berbeda dengan si pengkritik, maka saya sampaikan apa yg tidak setuju dari dia, namun saya terima kebenaran dari dia,misalnya tulisan mas peta minim solusi, nggak usah di gubris kayaknya,justu ketika saya sampaikann solusi menurut kita malah tetap dikritisi, seperti kata ustadz abay, mengharap semua orang suka dengan tulisan kita, suka dengan diri kita adalah nihil, saya dan kita mari sibukkan diri perkuat argumen, pisau analisa, dan segalanya agar sesuai dengan islam, selebihnya biar jangkrik2 berbunyi, sebagai pengganti soundtrack tulisan kita🙂

        #I Think🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s