Kritik Aja!

Kritikan ternyata bisa mengganggu aktivitas kita. Setidaknya itu berlaku pada saya, sebuah kritik mengganggu produktivitas saya dalam menulis. Barangkali itu bukan sebuah kritikan, melainkan komentar biasa yang biasa orang komentari. Cuman, saya menganggapnya sebuah ‘kritikan’.

Kritikan (dengan tanda petik) itu berawal dari tulisan terakhir yang saya tulis di blog ini. Tulisan yang sebenarnya kumpulan status yang saya tulis di facebook. Status yang menertawakan realitas zaman. Bukan zaman tepatnya, tapi kelakuan manusia sang penghuni zaman. Misal saya tulis, “Kita hidup di zaman, meyakini agama sebagai pengatur kehidupan, tapi menjalani hidup dengan memisahkan agama dari kehidupan.”

Ada lagi, “Kita hidup di zaman, percaya kepada Tuhan Sang Pembuat Aturan, tapi menggunakan aturan yang dibuat manusia sebagai pegangan.” Tulisan itu jelas bentuk sindiran kepada manusia yang saat ini hidupnya cenderung sekuler. Mereka mengaku beragama, tapi mengambil yang enak-enak dari agama dan membuang aturan yang tidak enak dari agama.

Tidak disangka, sindiran saya itu mendapat kritik. “Maaf, jangan mencela zaman. Mencela zaman sama saja dengan mencela Allah yang menakdirkan zaman seperti ini. Kalau kita orang beriman, tidak ada yang perlu kita khawatirkan, sedihkan, atau miriskan,” kritiknya.

Saya kira, saya tidak sedang mencela zaman, tapi mengingatkan manusia atas paham sekuler yang ia anut.

Pada titik ini, saya sadar bahwa sindiran hanyalah sindiran. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah sindiran? Perubahan apa yang bisa dilakukan dengan sindiran? Jika memang benar ingin mengingatkan, maka fokuslah pada mengingatkan. Jika mau melakukan perbaikan, maka fokus pada perbaikan, jangan hanya menyindir. Celakanya, tulisan saya selama ini sekedar sindiran.

Tulisan, menurut saya, terbagi dalam tiga level. Level pertama, tulisan yang sekedar cerita saja. Level berikutnya, tulisan yang mengungkit suatu masalah. Dan, level terakhir yaitu tulisan yang tidak hanya memaparkan sebuah masalah tapi menawarkan solusi.

Berada di level berapa tulisan saya? Saya kira tulisan saya berada pada level satu atau dua. Tidak pernah saya menulis sampai level tiga. Level tiga membutuhkan pengetahuan yang mumpuni, analisis yang tajam terhadap masalah yang dihadapi, dan dipengaruhi oleh ideologi yang dianut. Orang yang berideologi kiri (sosialis) akan berbeda sudut pandang dengan mereka yang berideologi langit (Islam).

Saying, pemikiran saya belum terstruktur. Ideologi yang anut belum mengakar kuat. Masih banyak lagi yang perlu saya pelajari. Saat ini, saya harap kalian cukup puas dengan tulisan saya yang sekadarnya itu.

Saya sedang berproses untuk meng-upgrade tulisan saya. Bukan menaikkan level, tapi mengoptimalkan level satu yang biasa saya tulis. Tulisan level satu tapi berisi level dua atau tiga. Tulisan yang berupa cerita tapi mengandung masalah dan solusi di dalamnya.

Kadang untuk upgrade diri (tulisan), kita memerlukan kritik. Kritik, saya pikir, semacam rem yang tidak membuat Anda berhenti, tapi menjaga agar Anda tidak keluar jalur. Thanks your critic! []

#KangenNulis

9 thoughts on “Kritik Aja!

    • Saya bermaksud bersikap konstruktif dan ini sebenarnya prinsip yang saya tanamkan pada diri saya sendiri. Apakah ingat pepatah diam itu emas? Ingat Rasul pernah berkata bahwa nanti ada orang celaka karena mulutnya?

      Zaman dahulu orang bicara hanya dengan mulut (karena buta huruf, tak bisa menulis, dsb). Zaman sekarang orang bicara dengan mulut, juga dengan “tulisan”. Prinsip etika dan moral yang diterapkan pada mulut agar membicarakan hal-hal yang baik dan bermanfaat saja atau diam, ada baiknya juga diterapkan pada tangan yang melahirkan tulisan-tulisan kita, entah itu artikel di blog atau status Facebook. Hakikatnya, menulis itu = bicara. Menjaga lisan = menjaga tulisan.

      Sama seperti kita yang punya kebebasan berbicara, kita juga punya kebebasan menulis. Tapi, tidak semua hal sebaiknya kita tulis. Apa yang baik dan bermanfaat untuk ditulis berbeda-beda kriterianya bagi setiap orang (subjektif), karena itu ada baiknya Peta mulai menetapkan bagi diri Peta sendiri, apa saja yang boleh dan tidak boleh saya tulis, demi menjaga tulisan.

      Jika Peta tanamkan dalam hati, saya ingin bisa menulis level tiga, insya Allah, Allah akan membimbing Peta, agar tulisan-tulisan Peta tidak sekedar berisi reaksi atas peristiwa atau fenomena, tetapi mengandung pelajaran bagi siapapun yang membaca. Itu memang tidak mudah, tetapi sepanjang diniatkan semacam itu, insya Allah pahala berbuat kebaikan sudah mengalir.πŸ˜€ Semangat kita menulis kebaikan dan manfaat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s