Sodomi (sampai) Mati

Menarik menyimak sebuah tread di kaskus, isinya hasil chat kaskuser dan seorang maho (homo). Si kaskuser tadi berpura-pura sebagai penyuka sejenis. Dengan bodohnya si maho tadi malah percaya begitu saja. Poin menariknya, berdasar pengakuan si maho, yang masih pelajar ini, dia menjadi seperti itu gara-gara dulu waktu kecil menjadi alat ‘main’ oleh pamannya. Main disini dalam artian diajak aktivitas seksual, saya sendiri tidak mau membayangkan apa yang mereka lakukan.

Acung dua jempol untuk kaskuser tadi, dengan cerdiknya dia mengelabui si maho. Bahkan membuat si maho mau mengirimkan fotonya. Mision Complete, setelah mendapat foto kaskuser tadi mem-bully lawan bicaranya. Dan mengatakan akan menyebarkan fotonya di forum kaskus. Fotonya memang tersebar di kaskus, tapi saya tidak tahu foto tersebut memang si maho atau malah nipu-nipu?

Beberapa pekan ini publik diramaikan dengan kasus asusila yang menimpa anak-anak, seperti kasus pedofilia yang menimpa anak TK di Jakarta International School (JIS). Tersangka adalah cleaning servis di sekolah tersebut. Tersangka sendiri mengaku bahwa dirinya korban sodomi yang dilakukan oleh William James Vahey, seorang pedofil buronan FBI yang pernah mengajar di JIS selama 10 tahun.

Kesamaan antara cerita si maho diatas dengan tersangka pedofilia di JIS, mereka dulunya adalah korban pelecehan seks.

Saya tidak habis pikir, mengapa jika mereka dulunya adalah korban lantas tumbuh dewasa malah menjadi orang yang memakan korban?

Barangkali penyebabnya mirip dengan kaderisasi yang dilakukan oleh para senior kepada mahasiswa baru (junior). Para senior itu, ketika masih mahasiswa baru, menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari kakak tingkatnya. Ketika mahasiswa baru itu menjadi senior, mereka meniru kakak tingkat mereka, mengkader mahasiswa baru dengan cara yang hampir sama yang dilakukan oleh senior mereka sebelumnya. Begitu seterusnya, terjadi tiap tahun.

Para senior itu, seringkali mengatakan, “apa yang sekarang kalian rasakan, tidak sekeras yang dulu kami alami dik?” Jelas sekali alasan mereka ingin ‘balas dendam’.

Bagaimana dengan kasus pelecehan seksual yang menimpa anak-anak? Selain motif balas dendam, saat kecil mengalami pelecehan seks maka saat dewasa akan berpikir melampiaskan seks pada anak kecil. Saya pikir, seringkali korbannya anak-anak karena anak kecil adalah sasaran empuk. Kecil sekali mereka akan melawan.


Melihat menularnya tindakan pedofilia ini, sebagai bentuk pencegahan sudah sewajarnya jika pelaku pedofilia dihukum mati.

Secara hukum syara’, jika kekerasan seksual itu dalam bentuk sodomi, pelaku sodomi baik dia sudah menikah atau tidak adalah hukuman mati.

“Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi).” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi)

Bagaimana jika ada orang yang menolak diberlakukannya hukuman mati ini? Ah jangan-jangan orang tersebut adalah si maho. Anda kah? []

14 thoughts on “Sodomi (sampai) Mati

  1. Aku nggak ngerti knp kaskuser itu harus diacungi jempol krn berhasil mendapatkan foto si maho dan bahkan membully dan mengancam menyebarluaskan fotonya. Aku nggak mendukung kaum homo atau LGBT tapi tindak bullying, siapapun korbannya, menurutku itu nggak oke nggak asik dan justru harus dikasih 4 jempol kebawah. Shame on you kaskuser yg ngerjain si maho dan siapapun yg menyetujui tindakan bullying tsb.

    Sorry to say. Just my 2 cents🙂

  2. Luar biasa ini tulisan, semoga kasus-kasus di atas tidak terjadi lagi pada orang-orang yg normal dengan kodrat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

  3. Pengennya sih diberlakukan hukum mati untuk pelaku-nya, tapi yaaaa Indonesia bukan negara ber-prinsip syari’ah sih, jadi hukumannya penjara selamanya aja.

      • Memang penyakit menular, rata2 pelaku dulunya ngalami pelecehan seksual.. ya bs diisolasi, trus di bawa ke jalan yg benar..

      • ya aku anggap mereka memang sedang mengalami ‘sakit’, semakin disudutkan dan dilecehkan mereka akan semakin ‘sakit’. Kurasa paling bener obatnya adalah penanaman nilai-nilai agama pada pelakunya, mudah-mudahan bertaubat.

  4. kalau kata kang divan, orang yg kena kasus pelecehan atau pernah disodomi itu membuat kemungkinan dia untuk homo menjadi lebih besar,karena setahu saya setiap orang memiliki kecendrungan untuk melakukan tindakan yg binatang aja gak lakuin itu, ya ketika dia jadi korban, semakin besarlah kran terbuka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s