Rebutan Masjid!

Selalu menyenangkan bisa satu mobil dengan orang yang bisa ngedagel. Perjalanan jauh pun jadi tidak terasa, tidak begitu membosankan, karena dalam mobil ada canda tawa.

“Itu masjid Muhammadiyah,” kata teman saya yang duduknya di tengah itu. Saya duduk di jok belakang bersama dua orang lainnya.

Tak lama kemudian, kembali teman saya itu mengatakan, “Itu masjid NU.”

“Kamu kog bisa tahu,” sahut teman saya yang lain.

“Gampang. Lihat cat masjidnya, kalau dominan biru maka masjid itu dikelola oleh Muhammadiyah. Jika dominan warna hijau, dikelola NU.”

Kami yang mendengarnya hanya tertawa cengengesan. “Kalian tahu,” kata dia lagi, “Warna masjid juga menandakan bentuk dukungan kepada partai politik tertentu!”

Kami makin tertawa cengengesan. Saya benci mengatakan ini, tapi kata teman saya itu ada benarnya.

Memangnya apa beda antara masjid yang dikelola si itu, masjid itu dikelola si ini. Jelas beda. Saya pikir, siapa yang mengelola masjid akan sangat berpengaruh terhadap ‘kultur’ masjid. Misal, jika masjid dikelola NU, pada shalat shubuh akan ada qunut. Sedangkan pada masjid Muhammadiyah, qunut ditiadakan. Dan perbedaan ‘kultur’ lainnya.

Hal yang krusial, terkait pengajian dan siapa ustad yang mengisi pengajian. Saya amati, pengajian masjid NU akan diisi oleh ustad nadhiyin. Begitu pula dengan masjid Muhammadiyah. Jarang terjadi persilangan, yaitu ustad Muhammadiyah akan mengisi di NU atau sebaliknya. Bahkan, masjid tersebut tidak mau menerima ustad di luar pengelola masjid. Kalau NU ya NU, Muhammadiyah ya Muhammadiyah.

Sebelum renovasi, masjid di kampus saya catnya berwarna putih. Apakah artinya masjid di kampus saya netral? Sepertinya tidak. Meski masjid berwarna putih, bukan ‘biru’ apalagi ‘hijau’, tapi masjid kampus saya dikelola oleh teman-teman Tarbiyah. Dan mereka mempunyai afiliasi partai sendiri. Bukan partai ‘biru’ apalagi ‘hijau’.

Sayang, saya amati, masjid kampus saya itu tidak jauh beda dengan masjid ‘biru’ dan ‘hijau’. Perihal lebih menerima ustad di kalangan mereka sendiri ketimbang ustad dari luar.

Kini, masjid kampus saya sudah renovasi. Catnya diganti dengan dominasi warna hijau. Tidak hanya pergantian cat, ternyata jajaran pengelola masjid juga berganti ‘hijau’. Setelah berganti hijau, apakah masjid saya akan bersikap sama seperti masjid ‘hijau’ lainnya? Saya tidak tahu perkembangannya, karena saya bukan warga kampus lagi. Apapun itu, yang jelas setelah renovasi, masjid lebih fresh.

Bagaimana dengan ‘warna’ masjid dekat saya tinggal? Ini juga saya tidak tahu, kebetulan saya baru pindah ke tempat kontrakan saya yang sekarang. Lagipula, masjidnya baru dibangun. Lantai dua masih tahap pengerjaan. karena tahap pengerjaan itu, warna catnya saya kira akan berganti lagi.

Saya tidak begitu peduli dengan warna masjid, apakah dia biru, hijau, ataupun putih. Asalkan jangan warna yang mencolok seperti hitam lebam, merah menyala, biru dongker. Secara estetika, saya pikir warna tersebut tidak artistik apabila dijadikan warna dasar masjid.

Terkait masjid dekat kontrakan saya, saya mendapat berita duka dari teman satu kontrakan. Inna lillahi wa inna ilahi roji’un, bapak yang biasa memakai baju koko warna merah jika shalat berjamaah di masjid, dikabarkan meninggal dunia. Semoga seluruh amal jariyah beliau diterima disisiNya dan keluarga diberi kesabaran. Aamiin. Saya yakin, di alam sana beliau tidak akan ditanya, “Kamu shalatnya di masjid yang warna ‘biru’ atau ‘hijau’?” []

15 thoughts on “Rebutan Masjid!

  1. Aku nggak bisa mbayangin kalau orang tarbiyah buat masjid. Partainnya kan warnanya dominan hitam. Kalau ikut logikamu ini, nanti masjidnya bakal dicat hitam.🙂 Just kidding.

    Btw, di tempat tinggalku, masjid muhammadiyah dicat ijo lo. Sudah dua yang aku lihat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s