Trigger Mengingat Mati

Teman saya bukan seorang perokok, tapi kemana-mana dia membawa korek api dalam tasnya. Ketika saya tanya untuk apa korek tersebut. Ia jawab, “korek ini buat jaga-jaga kalau ada orang yang mau merokok tapi tidak bawa korek.” Dia melanjutkan, “biasanya lewat meminjam korek ini terjadi obrolan, dan yah akhirnya kita bisa saling kenal.”

“Ooo..,” kata saya.

“yah selain itu, korek ini bisa sebagai pengingat mati, panasnya api dari korek saja kita tidak kuat apalagi panasnya api neraka.”

Saya terdiam. Mengambil nafas, sedangkan kata teman saya tadi terus terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Ingat mati, ingat akhirat, ingatlah surga neraka! Bukankah setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan abadi yang bernama akhirat? Lalu kenapa saya kadang lupa mengingatnya, atau pura-pura ingat?

Saya jadi ingat mahkota sultan Mehmed II atau lebih dikenal Muhammad Al Fatih. Anda tahu, di gambarnya, Muhammad Al Fatih memakai ‘mahkota’ yang cukup besar berwarna putih. Belakangan saya tahu kenapa mahkota tersebut berukuran besar. Rahasia di balik mahkota tersebut, sebenarnya mahkota tersebut adalah kain kafan yang kemudian dijadikan mahkota. Tujuannya memakai mahkota (baca: kain kafan), supaya sultan selalu ingat bahwa ia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Kain kafan yang dijadikan mahkota itu lah yang nantinya menjadi pakaian terakhir sultan.

Sultan Muhammad Al Fatih

Mengingat mati adalah motivasi terbaik. Dengan mengingat mati, kita tahu bahwa umur kita terbatas. Dengan begitu, kita akan berupaya memaksimalkan sebaik mungkin waktu yang kita miliki Bekerja se-produktif mungkin. Menghasilkan karya-karya besar. Atau melakukan ibadanya se-khusyuk mungkin.

Jika teman saya selalu membawa korek sebagai pengingat mati. Muhammad Al Fatih dengan mahkotanya. Lalu bagaimana dengan saya? Kalau saya tidak perlu ‘repot-repot’ melakukan dua hal diatas. Karena secara ‘default’ manusia mempunyai pengingat bahwa cepat atau lambat umurnya sebentar lagi, yaitu uban.

Konon, uban adalah tanda bahwa peringatan bahwa hidup di dunia tidak pernah lama. Ya di umur saya yang mendekati seperempat abad ini, saya lihat sudah ada uban. Bagaimana perasaan saya melihat uban tumbuh di kepala, sedih atau malah senang? Campuran antara keduanya. Senang karena uban ini, barangkali, tanda bahwa Sang Maha Kuasa ingin ‘bertemu’ dengan saya. Sedih karena amalnya saya ternyata belum seberapa untuk menghadapNya.

Ya, saya harus lebih masiv lagi beribadah. Lebih giat lagi bekerja. Meningkatkan produktivitas kerja. Memperhaatikan kuantitas dan kualitas karya (tulisan) saya. Dan, itu berawal dari mengingat mati.

Saya sarankan anda melakukan hal yang sama. Menemukan trigger yang mengingatkan anda akan kematian. Tapi jika anda menganggap kehidupan dunia lebih penting dari akhirat, ya silakan anda lakukan sesuka hati! []

6 thoughts on “Trigger Mengingat Mati

  1. Renungan kedua pagi ini yang saya baca dan akhirnya tahu juga surban (mahkota) dari Al Fatih ternyata kain kafan dan kesederhanaan perumpaan korek api🙂

  2. Subhanallah..
    Iya, suka tidak suka perjalanan kita di dunia pasti akan berakhir..
    Kalau saya menjadikan bunga lily sebagai pengingat kematian, karena sering digunakan sebagai karangan bunga buat orang meninggal..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s