Bakar Jerseymu!

Saya tidak sedang menyuruh anda membakar jersey kesebelasan sepak bola yang anda dukung. Mungkin gara-gara tim anda tidak lolos liga Champions. Tidak menjadi juara liga, atau pelatihnya baru saja dipecat!

Toh kalau saya meminta anda membakar jersey, anda akan mengatakan, “Gila kamu! Eman bro. Jersey ini harganya muahal”. Siapa bilang jersey harganya murah, apalagi yang original. Bukan jersey yang dijual abang-abang pinggir jalan, beli dua dapat satu.

Harga jersey ori ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Sedangkan jersey bajakan, atau kata lainnya jersey KW dengan kualitas super, paling murahnya 90 ribu. Saya bisa tahu karena teman satu kontrakan saya ada yang kolektor jersey.

Cuman saya tidak menyangka, di depan mata saya sendiri teman saya itu dengan sadar diri membakar koleksi jerseynya. “Gila kamu?” kata saya. “Daripada kamu bakar kenapa tidak hibahkan ke aku saja!”

“Jangan bro, haram,” katanya. Saya menggarukkan kepala. “Kata ustad saya, membeli atau memakai jersey KW itu hukumnya haram. Karena jersey KW itu melanggar hak paten jersey aslinya.”

Saya geleng-geleng kepala. Barusan benar yang ngomong adalah teman saya. Teman yang saya tahu penggemar berat game PES.

Apakah haram membeli atau memakai jersey KW (bajakan)? Saya tidak tahu. Dalam kasus teman saya itu, dia bukannya bodoh menerima begitu saja kata ustadnya tadi. Tapi dia sendiri saya yakin juga tidak mempunyai dasar yang membolehkan membeli jersey KW. Daripada kena dosa, lebih baik jerseynya yang dia korbankan.

Terlepas haram tidaknya membeli jersey KW, saya menaruh respek terhadap teman saya itu. Betapa dia begitu cepat untuk menjalankan syariat. Jika dalam posisi dia, saya tidak yakin akan membakar jersey milik saya! Belum jelas apakah haram atau tidak, dia sudah segera meninggalkannya. Bagaimana dengan hal yang benar-benar diharamkan?

Dewasa ini, entah sudah banyak keharaman yang pernah saya lakukan. Bukannya saya sengaja melakukannya, tapi ada bentuk keharaman yang mau tidak mau saya terpaksa melakukannya. Misal, mau pinjam uang ke bank. Mau tidak mau, saya harus mengambil bunga (riba). Ketika naik motor kemudian ada yang nyalip saya, dan saya dipaksa (maaf) melihat paha perempuan yang sepertinya sengaja dipamerin. Jangankan paha, melihat rambut (aurat) wanita sudah bentuk keharaman tersendiri.

Semoga Allah SWT memaafkan atas keharaman yang ‘terpaksa’ saya lakukan. Setidaknya dosanya tidak lebih besar dari dosa yang sadar diri dilakukan.

Saya harus mencontoh teman saya itu yang takutnya kepada dosa membuatnya rela membakar jerseynya. Cuman, saya kira jerseynya sudah habis tapi kemana-mana dia masih pakai jersey. Bahkan lebih ngejreng warnanya, lantas yang dia bakar jersey apa? []

4 thoughts on “Bakar Jerseymu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s