Muslim Yang Terkotak-Kotak

Saya bukan tipe orang yang suka terlibat diskusi. Kalau pun ada sebuah diskusi, saya lebih suka memperhatikan orang yang berdiskusi. Mendengarkan mereka adu argumen. Saling melemparkan logika-logika manis seperti kolak ubi. Analogi-analogi cantik secantik gadis Uzbekistan. Tapi tidak sampai beradu jotos seperti anggota dewan.

Melihat diskusi seperti itu otak saya ikut ‘mendidih’ karena memilah-milah pendapat mana yang kuat dan pendapat mana yang ngawur. Saya pikir itu bagus supaya otak kita tetap bekerja. Tetap berpikir. Kalau tidak, bisa-bisa anda termakan omongannya Aristoteles yang mengatakan “manusia adalah binatang yang berpikir”. Jika anda tidak berpikir, maka anda tinggal binatangnya!

Lha bagaimana jika saya yang terlibat diskusi? No Problem. It’s Okay! Terakhir saya terlibat diskusi dengan seorang wanita yang sedang mengambil magister psikologi di kota Gudeg. Diskusi yang saling memberi komentar pada tulisan saya ini tentang apakah Islam mengkotak-kotakkan muslim? Sebuah diskusi yang menarik!

Berawal dari pembahasan mengenai takmir masjid yang melarang menyebarkan buletin Al Islam karena sebelumnya tidak meminta izin. Memang secara etika, semestinya minta izin terlebih dahulu. Menjadi persoalan kemudian, mengapa setelah minta izin takmir masjid tetap tidak memperbolehkan? Diperparah dengan tidak memberikan alasannya.

Saya beranggapan tidak dapat izin menyebar buletin disebabkan buletin tersebut berasal dari luar ‘kelompok’ masjid. Ya meski masjid milik umat, tapi umumnya masjid itu terbagi antara ‘milik’ NU atau Muhammadiyah. Kebetulan buletin Al Islam tidak berasal dari dua ormas terbesar tersebut.

Menurut mbak magister, wajar jika takmir masjid melarang. Mirip seperti, apa mau masjid Sunni dimasuki buletin Syiah? Enggak kan?

Saya pikir tentu tidak mau. Tapi analogi tersebut terlalu ekstrem. Sunni dan Syiah (Alawiyah) mempunyai perbedaan akidah yang begitu jomplang. Analogi yang pas menurut saya, apa tidak boleh buletin Muhammadiyah masuk masjid NU? Atau sebaliknya? Buletin hti masuk masjid NU ataupun Muhammadiyah? Kemudian saya menambahkan, ayolah sudah bukan zamannya mengkotak-kotakkan masjid.

Saya pikir diskusi ini akan berakhir. Analogi yang saya berikan saya yakin tidak bisa dibalikkannya. Tapi kesalahan saya, mengapa saya bubuhi dengan mengkotak-kotakkan masjid.

“Pengkotak-kotakan masjid itu asalnya dari manusia yang terkotak-kotak. Runtuhkan dulu sekat manusia, baru bisa masjid jadi tempat yang bisa untuk muslim mana saja,” kata mbak magister.

Saya sepakat bahwa dalam diri (pikiran) manusia itu sendiri yang mengkotak-kotakkan. Saya pikir, itulah salah satu esensi turunnya islam, menghilangkan pengkotak-kotakkan pada manusia.

“Pengkotak-kotakkan di antara manusia itu kayaknya memang sudah sunatullah deh. Tapi kupikir, minimal, seharusnya Islam bisa mempersatukan muslim. Persoalan, orang-orang yang memisahkan diri sendiri dan membuat kelompok itu juga begitu pakai dalil. Mereka terkotak-kotak juga berdasarkan dalil. Apa lantas memang dari sananya Islam itu mengkotak-kotakkan muslim?”

Pada titik ini saya merasa ada perbedaan persepsi tentang pengertian “mengkotak-kotakkan”. Dalam persepsi saya, mengkotak-kotakkan itu adalah seseorang yang membuat kelompok sendiri, dan orang diluar kelompok itu tidak dianggap. Bahkan orang yang berada di luar kelompok adalah orang yang salah atau keliru. Saya merasa “pengkotak-kotakkan” dalam pandangan lawan diskusi saya, sebatas adanya perbedaan saja. Ya tentu saja tiap manusia ada perbedaan dan itu sudah sunnatullah.

“Apa lantas memang dari sananya Islam itu mengkotak-kotakkan muslim?”, jika dia mengaku berakidah Islam, apakah ada perbedaan mendasar antara Muhammadiyah, NU, hti, tarbiyah? apakah ada perbedaan mendasar antara mahzab Syafii, Hambali, Maliki? memang ada perbedaan dalil, cuman adakah perbedaan mendasar diatara mereka, selain bahwa akidah mereka tetap sama yaitu akidah Islam. Lantas perbedaan dalil ini yang “mengkotak-kotakkan” muslim, dengan pengertian “pengkotakkan” yang saya maksud. Apakah gara-gara perbedaan dalil, penganut mahzab Syafii tidak boleh membaca kitab Hambali.

Barangkali terkotak-kotaknya umat Islam mirip dengan terkotak-kotaknya anak-anak di taman kanak-kanak (TK). Mereka bisa terdiri dari ‘mahzab’ ayunan, pelosotan, atau ‘mahzab’ lari-larian. Kadang kelompok ayunan tidak memperbolehkan kelompok pelosotan, atau sebaliknya. Padahal kesamaan diantara mereka, sama-sama suka bermain.

Pengkotakan yang terjadi pada umat Islam, saya pikir dapat diminimalisir dengan kedewasaan berpikir. Perbedaan itu akan selalu ada. Tapi mengapa kita harus fokus pada pertidaksamaan daripada mencari persamaan. Bukankah umat Islam adalah umat yang dipersatukan oleh akidah Islam!

Saya tidak menganggap bahwa saya sendiri telah berpikir dewasa. Hanya saja, saya tidak mau bersikap kekanak-kanakan, karena dulu saya tidak makan bangku taman kanak-kanak. []

*terimakasih buat mbak magister atas diskusinya🙂

4 thoughts on “Muslim Yang Terkotak-Kotak

  1. menurut saya bukan akibat perbedaan dalil, tapi akibat perbedaan penafsiran.
    semestinya memang harus bisa bersikap dewasa, silakan saja dengan alirannya, asal jangan menjelek-jelekkan, jangan menjauhi, orang yang tidak sepaham.

  2. kadang juga gak ada yang salah, pergerakan/organisasi sudah bener, tp justru di beberapa anggotanya yg terlalu ekstrim menyikapinya.

    setuju..dewasa dalam menyikapi perbedaan, menurut sy ini better drpada (seolah-olah) acuh gak mau tau tentang banyaknya perbedaan diluar sana🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s