Baca Buletin Al Islam Aja Phobia

Aktivitas hari jumat itu biasanya tidak lepas dari mandi, memotong kuku dan tentu saja shalat jumat (bagi laki-laki). Kalau boleh menambahkan, tidak ketinggalan membaca buletin Al Islam yang memang biasa ditemui pas hari jumat dan tersebar di beberapa masjid.

Pertama kali bersentuhan dengan buletin Al Islam ketika saya masih bangku SMA. Buletin yang berwarna biru tersebut sengaja dibiarkan tergeletak di sudut-sudut teras masjid barangkali supaya jamaah bisa dengan mudah mengambilnya, termasuk saya. Cuman dalam buletin itu sendiri ada peringatan, “jangan dibaca ketika khutbah jumat berlangsung”, maka minggu-minggu berikutnya saya mengambil buletin Al Islam seusai shalat jumat. Anda tahu, jika mengambil Al Islam seusai shalat, saya tidak kebagian. Ya akhirnya saya ambil duluan, dilipat, dimasukkan dalam baju koko, kemudian dibaca kalau sudah sampai rumah. Hukum rimba berlangku dalam hal ini, siapa cepat dia dapat!

Abah saya, yang lulusan pesantren itu, tidak pernah melarang saya mengambil dan membaca buletin tersebut. Mungkin dalam pikiran beliau, “baguslah daripada bacaannya komik terus.” Dalam buletin Al Islam juga ada peringatan, “jangan diletakkan sembarang karena terdapat ayat suci Al Qur’an”. Karena itu setelah membacanya tidak kemudian saya buang, selesai baca saya simpan di laci kamar. Sampai saat ini kalau pulang kampung ke rumah, buletin-buletin lama itu masih ‘tersimpan’ dengan baik. Ya saya takut kualat jika membuang lembaran yang berisi ayat-ayat suci Al Quran, barangkali dengan menyimpannya bisa menjadi semacam jimat (karena ada ayatnya itu).

Selepas SMA saya melanjutkan studi (baca : kuliah) ke tempat yang jauuhh dari rumah. Jaraknya ratusan kilometer dari rumah, dan perlu menyabrangi lautan untuk sampai ke kota Surabaya (dari madura ke surabaya). Siapa nyana di tempat ini saya berjumpa lagi dengan buletin Al Islam. Sehabis shalat jumat biasanya nganggur, hanya tidur-tiduran di serambi masjid, yah tidak ada salahnya menyempatkan membaca buletin Al Islam.

Jika dicermati, buletin Al Islam itu mempunyai struktur pembangunnya. Mirip sebenarnya dengan sebuah makalah dimana kerangkanya paling tidak ada pendahuluan, pembahasan dan penyelesain. Begitu pula buletin Al Islam, hanya saja lebih simpel.

Pendahuluan biasanya terdiri dari pemaparan fakta, permasalahan atau sebuah persoalan yang sedang hangat dibicarakan dalam masyarakat. Pembahasan terdiri menjelaskan atau pemaparan fakta/persoalan yang kemudian dikaitkan dengan bagaimana Islam memandang fakta/persoalan tersebut. Diakhiri dengan penyelesain yaitu bagaimana solusi Islam atas persoalan itu.

Jika sering membaca buletin Al Islam, secara tidak langsung, buletin ini mengajak kita untuk berpikir ilmiah, berpikir sistematis. Saya pikir ini menjadi keunggulan buletin Al Islam dibandingkan buletin lainnya, selain keistiqomahan buletin tersebut yang tiap jumat ada.

Sayang baru kali ini saya membaca berita negatif tentang buletin Al Islam, di web muslimedianews.com (24/2). Diberitakan ada sebuah masjid yang melarang menyebarkan buletin Al Islam. Alasannya karena belum meminta izin kepada si pengelola masjid.

What!
Masa saya kalau mau shalat di masjid tersebut harus meminta izin terlebih dahulu, atau jika saya mau kencing di masjid (di toilet maksudnya) saya juga harus meminta izin. Bukankah masjid adalah punya kaum muslim, setiap muslim punya hak yang sama untuk memakmurkan masjid. Sedangkan tugas pengelola ya mengelola bukan sebagai pemilik masjid.

Saya agak syok membaca berita itu, mungkin saya tidak terkejut jika yang melarang menyebar buletin Al Islam adalah seorang pendeta karena nyebarnya di gereja. Biksu melarang karena nyebarnya di kuil. Tapi ini kan di masjid, ‘rumah’nya orang islam dan buletinnya sendiri bernama Al Islam, bukan Al Kristen apalagi Al Budhish.

Lagipula jika ada hal-hal aneh dalam masjid, tentu jamaah akan bertindak. Misalkan ada yang nge-band di masjid, tanpa menunggu takmir masjid atau pengelola masjid, jamaah akan segera bertindak. Saya akan bantu gebukin, gebukin orangnya. Jamaah otomatis akan bertindah ofensif jika ada hal yang menodai kesucian masjid termasuk jika ada buletin yang ‘terlarang’.

Si pengelola masjid tidak menjelaskan mengapa beliau melarang penyebaran Al Islam, kecuali keterangan “hendak mengganti pancasila”. Mungkin si pengelola pernah membaca buletin Al Islam yang isinya tentang mengganti pancasila. Jika benar demikian, saya pikir cara yang fair adalah membuat tulisan tandingan yang isinya berupa tanggapan/sanggahan terhadap isi buletin Al Islam.

Misal, membuat tulisan yang memberi tanggapan bahwa buletin Al Islam pada edisi jumat lalu ada kesalahan ayat, kurang huruf alif. Atau lebih tinggi levelnya, membuat tulisan yang menyanggah dan menunjukkan kesalahan pemikiran buletin Al Islam termasuk pemikiran si penulis buletin Al Islam. Tidak hanya buletin Al Islam tapi semua buletin/selebaran yang memang secara pemikiran keliru atau menyimpang dari Islam.

Justru dengan adanya feedback atau tanggapan balik, baik itu secara lisan maupun tulisan, ini dapat melahirkan diskusi-diskusi hangat. Saya pikir hal ini sangat bagus untuk perkembangan khazanah pemikiran Islam. Jadi tidak hanya melarang ini menolak itu tanpa didasarkan alasan yang logis. Kalau menolak karena alasannya “poko’e nggak boleh”, wah masih suram dunia khazanah pemikiran Islam kita bray! []

24 thoughts on “Baca Buletin Al Islam Aja Phobia

  1. Kayaknya, minta izin untuk menyebarkan buletin itu wajar deh. Biar takmir masjidnya tahu kan, itu dari mana datangnya. Kalau ada apa-apa, jelas siapa yang akan bertanggung jawab, bukan takmir masjidnya. Misal ada apa-apanya itu nih begini: tiba-tiba saja buletin lima rim disebar begitu saja di masjid tanpa pemberitahuan. Kan kasihan takmirnya.

    • yup hal yg wajar kudu minta izin. yg gak wajar itu, udah minta izin kmudian tetap gak boleh karena asal buletin bukan dari kelompoknya.😐

      klo masih gak boleh, gk masalah sih. masih banyak masjid yg lain. #akurapopo

  2. Sebenarnya yang ngelarang itu punya alasan, tetapi kurang berani mengungkapkan-mungkin karena merasa alasannya kurang kuat. Makanya, sebaiknya, kalo memang tak setuju dengan paham HTI (buletin Al-Islam), ya pengurus masjid kreatif, dunk, yakni dengan bikin sendiri buletin jumat-nya.

    Saya setuju dengan kekonsistenan Al-islam dalam menyebarkan kebaikan lewat buletin. Tapi kekonsistenannya menyalahkan sistem demokrasi, menurut saya tak layak mereka disebut telah ber-Islam kaffah…:)

      • Kalau begitu, tambah wajar lagi kalau ada takmir masjid tertentu yang melarang. Mungkin nggak seekstrem ini ya, tapi apa mau masjid sunni dimasuki buletin syiah? Nggak kan?

      • hhi emang wajar y..
        ekstrem itu mah😐, sunni dan syiah alawiyah itu sudah beda akidah. yg pas itu, emang gk boleh buletin Muhammadiyah masuk masjid NU? atau sebaliknya? atau hti masuk masjid NU ama Muhammadiyah? come on guys, udah gak zamannya kotak2in masjid..

    • “asalnya dari manusia yang terkotak-kotak..” iya berarti dalam diri (pikiran) manusia itu sendiri yg mengkotak2an. saya rasa, salah satu esensi turunnya islam, menghilangkan pengkotak2an pada manusia

      • Pengkotak-kotakkan di antara manusia itu kayaknya memang sudah sunatullah deh. Tapi kupikir, minimal, seharusnya Islam bisa mempersatukan muslim… Persoalan, orang-orang yang memisahkan diri sendiri dan membuat kelompok itu juga begitu pakai dalil. Mereka terkotak-kotak juga berdasarkan dalil. Apa lantas memang dari sananya Islam itu mengkotak-kotakkan muslim?

      • bentar biar clear, pengertian “mengkotak-kotakkan” apa dulu nih.. dlm persepsi sya, mengkotak-kotakkan itu adalah seseorg yg membuat kelompok sendiri, dan org diluar kelompok itu tdk dianggap. bahkan org yg berada di luar kelompok adlh org yg salah/keliru.

        “Apa lantas memang dari sananya Islam itu mengkotak-kotakkan muslim?”, jika dia mengaku berakidah Islam, apakah ada perbedaan mendasar antara Muhammadiyah, NU, hti, tarbiyah? apakah ada perbedaan mendasar antara mahzab Syafii, Hambali, Maliki? memang ada perbedaan dalil, cuman adakah perbedaan mendasar diatara mereka, selain bahwa akidah mereka tetap sama yaitu akidah Islam. Lantas perbedaan dalil ini bisa “mengkotak-kotakkan” muslim dg pengertian saya diatas.. apakah gara2 perbedaan dalil, penganut mahzab Syafii tdk boleh membaca kitab Hambali..

  3. Kebetulan di masjid tempat saya bekerja selalu intens dengan buletin yang berwarna biru ini karena banyak para aktivis dakwahnya menjadi DKM dan saya juga pasti mengambil selembar untuk dibaca dan dibawa pulang ke rumah. Buletin ini menyeru masyarakat untuk menerapkan syari’at Islam dan ini adalah seruan yang mulia, akan tetapi sangat disayangkan selain menyeru masyarakat untuk menerapkan khilafah bulletin ini juga terkadang mem-provokasi masyarakat agar bersikap antipati terhadap penguasa-penguasa muslim saat ini sehingga pada beberapa masyarakat awam akan terjadi gejolak. Bagaimana jika pemimpin negeri kita yang menganut sistem demokrasi ini adalah orang yang amanah dan berlaku baik ? Bukankah menurut sang pendiri organisasi ini “jika kondisi pemerintah melakukan kebaikan maka haram disebarluaskan, akan tetapi jika pemerintah melakukan kekeliruan maka wajib dicerca habis dan disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat’ ?

    Sependapat dengan mas Hasan, saya sendiri setuju dengan pola penyebaran kebaikan melalui penyebaran buletin. Hanya saja saya kurang setuju dengan cara mereka yang terkadang menyerang secara membabi buta terhadap lawan yang bersebrangan dengan faham mereka. Mungkin juga karena para pengurus masjid tidak ingin terjadi gejolak di jamaahnya atau mereka tidak berani bicara secara langsung karena kurangnya landasan melawan opini mereka sehingga terjadi pelarangan buletin tersebut.

    Hanya sebatas opini saya saja…
    CMIIW

    • “jika kondisi pemerintah melakukan kebaikan maka haram disebarluaskan, akan tetapi jika pemerintah melakukan kekeliruan maka wajib dicerca habis dan disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat’ ? –> wah kurang tw klo yg ini, anda bisa klarifiakasi langsung ke pimpinan organisasinya.🙂

  4. cihui, saya juga kenal Al-islam pas smk kelas 1, bantuin nyebar2nya di masjid dekat sekolah sebelum acara rapat rohis… saya setuju banget tentang tersrukturnya tulisan di Al-Islam, membuat kita berfikir teratur dan terstruktur, fakta-masalah-lalu solusi

    disini malah kami dapat “sarang” dimasjidnya organisasi lain, kalau yg iri plus cemburu ya kita sama tau aja mas… yang penting tetap berjuang nyebar Al-Islam.. eh :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s