Gelembung Suara

Angka pertemanan saya di facebook, sudah mencapai sekitar 1000 orang lebih. Tidak jauh beda dengan follower saya di twitter yang sekitaran angka 1000. Kebetulan saya pengguna dua social media populer tersebut.

Jujur saja di dunia nyata, saya tidak yakin apakah pertemanan saya sudah sebanyak seperti yang ada di dunia maya. Rasa-rasanya saya berteman tidak sebanyak layaknya pertemanan di dunia maya.

Bagaimana saya mendapat teman maya sebanyak itu? Entahlah seingat saya, sebagian dari mereka add pertemanan kepada saya, saya tidak begitu mengenal mereka tapi apa salahnya saya menerima request pertemanan tersebut. Hal yang sama terjadi pada twitter, mereka follow saya maka saya follow balik.

Kenapa mereka meng-add saya? Saya pikir, karena mereka mengenal saya tergabung pada komunitas atau minat yang sama. Jika melihat teman dunia maya saya, setidaknya mereka masuk dalam kelompok yang ada hubungan keluarga dengan saya (jumlahnya kecil), teman sekolah (baik itu SD, SMP, SMA, entah itu pernah sekelas atau cuman karena pernah satu sekolah, maupun teman se-kampus), komunitas yang saya ikuti (misal puisi, komunitas rindu syariah dan khilafah, serta penikmat buku), terakhir kelompok yang sama sekali tidak teridentifikasi (biasanya adalah para pedagang online, yang ingin mempromosikan dagangannnya dan tentu pertemanan mereka tidak saya approve).

Sebenarnya hal sama juga saya lakukan, meng-add orang yang tidak saya kenal. Mengapa saya melakukannya? Pertama karena kami memiliki minat atau pemikiran yang sama, dan yang penting saya kira status yang dia tulis sangat menarik untuk diikuti.

Titik point yang ingin saya sampaikan adalah pertemanan saya di dunia maya itu tidak benar-benar riil alias tidak menunjukkan realitas pertemanan sebenarnya selayaknya yang terjadi di dunia nyata (ya namanya saja dunia maya).

Hanya saja prinsip ini, tidak riil-nya suatu hubungan pertemanan, mirip dengan apa yang terjadi pada pemilu. Pemenang pemilu adalah orang atau partai yang paling banyak pendukungnya, paling banyak suaranya, atau dengan kata lain paling banyak di coblos. Katakanlah sebuah partai mendapat satu juta suara. Pertanyaannya, riilkah partai tersebut mendapat satu juta suara?

Terus terang saya meragukannya, melihat faktanya di beberapa daerah terjadi penggelembungan suara, belum lagi mereka-mereka yang terkena serangan fajar. Katakanlah mereka mendapat satu juta suara, tanpa penggelembungan suara atau embel-embel serangan fajar, apakah satu juta suara tersebut benar-benar bentuk dukungan? Benar-benar setuju dengan visi misi atau ide yang ditawarkan partai? Bukankah ada kemungkinan dalam satu juta suara tersebut ada orang yang sekedar mencoblos, setelah mencoblos merasa tidak terikat dengan partai, tidak mau tahu jika sesuatu terjadi dengan partai, misalnya digulingkan!

Kasus ini saya amati terjadi pada Mesir. Bagaimana Presiden Mursi sebagai pemenang pemilu dengan memperoleh 51,7% suara atau total memperoleh 13.230.131 suara rakyat Mesir, tapi dengan mudahnya digulingkan oleh Jenderal As Sisi (semoga Allah SWT melaknatnya). Memang terjadi protes dan demonstrasi atas penggulingan Presiden Mursi. Hanya saja demontrasi yang terjadi di jalanan, tidak menampilkan bahwa Presiden Mursi pernah didukung oleh 51,7% suara rakyat Mesir. Malah sebagian rakyat yang sekuler, yang jumlah tidak seberapa, dapat menyerang balik untuk menurunkan Presiden Mursi.

Apa yang terjadi pada Mesir menjadi pelajaran bagi partai manapun, untuk benar-benar mendapatkan dukungan yang riil, yang tidak saja mengandalkan hasil coblosan. Khususnya bagi gerakan yang menginginkan tegaknya kehidupan islam di negeri ini. Misal, katakanlah gerakan ini sudah mendapat dukungan riil dari 100 orang, menurut saya ini lebih baik ketimbang mendapat 1000 suara tapi kita tidak tahu dari 1000 suara tersebut berapa orang yang benar-benar mendukung kita.

Kalau jumlahnya cuman 100 orang, bagaimana bisa Islam tegak di negeri ini? kenapa tidak. Tegak tidaknya Islam, atau kemenangan Islam terwujud bukan disebabkan jumlah orang yang mendukung, tapi berkat pertolongan Allah SWT. Tugas kita hanya mengajak orang untuk mendukung tegaknya kehidupan Islam. Dalam bahasa ust Felix Siauw, “lakukan Dakwah! Dakwah! Dakwah!” kalau bahasa ust Rokhmat S. Labib, “terus lakukan Kontak! Kontak! Kontak!” Atau musrif (baca : mentor) saya bilang, sudahkah melakukan ‘kontak’ hari ini? Oh men. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s