Bayar Parkir Enggak Ya?

Tulisan ini saya tulis bukan karena saya tidak mau bayar uang parkir, cuman saya berpikir begini, saya bayar uang parkir apa karena motor saya parkir di “lahan” punya tukang parkir atau saya bayar sebagai jasa tukang parkir telah menjaga motor saya?

Jika alasannya yang pertama, bayar karena telah memakai lahan si tukang parkir, wait! Tunggu dulu apa benar lahan tersebut punya si tukang parkir? Tidak masalah jika parkirnya berada di supermarket, mall, gedung atau tempat yang khusus untuk parkir, tapi bagaimana dengan lahan yang sebenarnya ruang publik tapi dimanfaatkan oleh tukang parkir untuk mengeruk keuntungan.

Ruang publik merupakan milik umum, pemiliknya adalah pemerintah atau lebih tinggi lagi tingkatnya yaitu milik Allah SWT karena bumi ini pun dalam kepemilikanNya. Lalu atas dasar apa, si tukang parkir ngaku-ngaku sebagi pemiliknya.

Bagaimana dengan alasan kedua? Ini pun terasa ganjil. Jika kita membayar uang parkir karena rasa aman yang diberikan oleh tukang parkir, itu artinya lingkungan kita berada adalah lingkungan yang tidak aman, banyak maling motor berkeliaran. Lalu kemana para aparat kepolisian, bukankah tugas mereka untuk memberi rasa aman!

Entahlah dari dua alasan tersebut, alasan mana yang dipakai oleh tukang parkir. Kadang saya kesal juga, keluar dari minimarket ada uang parkir, habis dari warung makan juga di minta uang parkir padahal saya makan seirit mungkin tapi akhirnya boros juga karena bayar uang parkir.

Jika disuruh bayar parkir, meski berada di ruang publik, saya membayarnya. Hanya saja, saya anggap itu sedekah. Bagaimanapun, saya pikir, tidak ada orang yang mau jadi tukang parkir. Kalau bisa mengatur nasib, tentu tukang parkir itu lebih memilih menjadi anggota DPR, menteri, atau PNS, ketimbang tukang parkir yang hidupnya tidak mapan-mapan dan tidak bisa memperkaya diri. Tapi repot juga kalau tidak ada tukang parkir, karena cuman tukang parkir yang bisa menyuruh pejabat untuk mundur!

5 thoughts on “Bayar Parkir Enggak Ya?

  1. “Bagaimanapun, saya pikir, tidak ada orang yang mau jadi tukang parkir”.

    Kalau di Semarang sedikit berbeda lho, justru banyak yang memilih menjadi tukang parkir ketimbang profesi menjaga toko atau sejenis.

    Bahkan banyak yang memilih menjadi pengemis. Di Semarang ‘mengemis’ itu profesi yang terkoordinir dengan jam kerja dan penempatan yang teratur.

    Mari berhitung, di warung yang makan yang ramai minimal ada 50motor/ hari jika dikali dengan Rp.1000/motor tiap kali parkir, minimal sudah mendapatkan 50.000/hari. Untuk hitungan sebulan Rp.1.500.000. Untuk daerah Semarang dengan UMR Rp.900.000 rb-an. Maka nominal tersebut termasuk kategori cukup. Ketimbang menjadi pegawai orang dan ritme pekerjaan yang berat.

    Saya rasa, sah-sah saja setiap orang menjadi tukang parkir atau bahkan pengemis. Setiap orang punya hak memilih jalan hidup. Tapi saya juga sepakat dengan penulis, bahwa untuk ruang publik harusnya ada regulasi yang jelas. Tidak perlu dipungut biaya parkir. Karena lahan publik bukan milik siapa-siapa, kecuali Allah. Pemerintah mengolah dan mengkoordinir lahan tersebut untuk kepentingan publik.

  2. Halo bung, tulisannya cukup menarik. Tapi menurutku ada beberapa logika yang aku belum paham. Iya ini buminya Allah, tapi kan boleh kita manfaatkan sebesar-besarnya sebagai “khalifah” di muka bumi? Tukang parkir atau presiden, sama-sama khalifah buat hidupnya sendiri kan? Hehehe.

    Salam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s