Nothing

Jika sudah minggu malam susah untuk mengajak Peta keluar, pada jam segitu, badha isya, Peta ada jadwal baca Qur’an di kontrakannya. Maksudku, Peta mengikuti program Tahsin dan Tahfiz yang diadakan oleh penghuni kontrakan itu sendiri. Aku tahu, sebenarnya dia alasan saja mengikuti program itu, supaya dia punya alasan untuk tidak jalan keluar denganku!

“Maaf Mi, malam ini aku gak bisa keluar,” katanya.

“Ya aku tahu. Kamu ada hafalan Qur’an kan! Sudah hafal berapa juz kamu?” tanyaku.

“Hafal berapa juz! Busyet, juz 30 saja belum Mi.”

“Lha terus kamu ngapain saja disana?” Peta tidak menjawabku. Diam. Tidak ingin perkataanku tadi menyakitinya, aku bilang, “Ya, yang penting kamu sudah berusaha Pet!” kataku dengan tertawa cengengesan.

“Itu yang aku pikirkan Mi, jadi apa yang aku lakukan selama ini. Ustazdku itu sering tanya, apa ada yang mau setoran hafalan. Apa ada yang mau setoran. Begitu terus selama beberapa minggu ini. Aku diam saja, wong aku belum hafal. Untung ustadznya pengertian, mungkin di tempat lain, kepalaku bisa dijepit dengan kaki saking bandelnya.”

Mendengar penuturan Peta, aku tertawa lagi. Peta mengambil nafas dan melanjutkan lagi, “apa yang selama ini aku lakukan? Jangan-jangan aku tidak melakukan apa-apa alias nothing. Buktinya aku tidak hafal-hafal,” kata Peta.

Raut muka Peta berubah serius, terlihat dia sedang berpikir keras. ‘Tidak melakukan apa-apa’, aku mengerti apa yang dimaksud Peta. Coba bayangkan di akhirat kelak, ketika manusia disidangkan dengan persidangan yang seadil-adilnya, karena bukan mulut yang berbicara tapi kaki tangan kita yang berbicara. Tangan ini diperkerjakan untuk apa, kemana kaki ini dibawa melangkah, ditempat-tempat haramkah? Nanti tangan kaki kita yang berbicara langsung dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Saat-saat yang menentukan, dimana seseorang itu akan berpenghuni, apakah penghuni surga atau neraka?

Jika penghuni surga, selamatlah ia. Sebaliknya, jika berpaspor neraka, celakalah ia. Lalu dikemanakan waktu hidupnya semenjak dia lahir sampai dikuburkan? Sama artinya ia ‘tidak melakukan apa-apa’ yang bisa membawanya ke pintu surga. Seperti halnya Peta, sebenarnya dalam satu minggu dia beraktifitas dan mengerjakan segala sesuatunya tapi menurut pandangan ustadznya, Peta ‘tidak melakukan apa-apa’.

“Oi Mi,” Peta memanggilku, “Mungkin senin malam saja kita keluar, lagipula kamu masih punya hutang ke aku.”

“Hutang.” Kata itu terngiang di kepalaku. Aku melangkahkan kakiku, dan berpaling kepada Peta, “Gak jadi Pet, udah ya!”. []

3 thoughts on “Nothing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s