Mang Tata sedang mengasah pisau pertama

Mang Tata Pengasah Gunting dan Pisau

“biar kecil tetapi halal, ketimbang para pejabat yang korupsi milyaran rupiah namun uangnya haram..”

Catatanku

Rumah saya hampir setiap hari didatangi orang-orang kecil yang mencari nafkah. Ada tukang sabit rumput, pedagang lauk impun, pedagang tahu, pedagang stroberi, ibu penjual ubi cilembu, pengamen, tukang rongsok, dan lain-lain. Selagi ada uang di rumah, saya beli dagangan mereka sekedar membantu melariskan dagangan, atau saya iyakan tawaran jasa yang mereka tawarkan.

Salah satu dari mereka adalah Mang Tata, yang secara rutin setiap tiga bulan datang ke rumah menawarkan jasa asah gunting dan pisau. Seperti kemarin pagi, dia datang menanyakan apakah akan mengasah gunting dan pisau lagi. Sebenarnya pisau dan gunting di rumah masih tajam-tajam, belum perlu diasah lagi, tetapi saya tidak tega untuk menolaknya. Mungkin Mang Tata sedang butuh uang, kata saya dalam hati.

Saya berikan benda-benda tajam di rumah, dua buah pisau dapur dan sebuah gunting rumput. Muka Mang Tata berbinar-binar menerimanya, dengan sigap dia putar batu gerinda, yaitu alat pengasah benda-benda tajam. Mulailah dia mengasah pisau dan…

View original post 382 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s