Mahasiswa Bekerja

Jalan yang jauh dari bisingnya kendaraan itu jalan kampus. Saya sering melalui jalan itu, sebagai jalan alternatif ketika akses jalan utama mulai ramai dengan hiruk pikuk pengendara yang berangkat kerja. Jam 7 pagi kampus masih sepi, mungkin mahasiswanya masih menempel di kasur atau kasurnya yang tidak bisa lepas dari mahasiswa, seperti saya dulu.

Saya sebenarnya enggan untuk melewati jalan ini, tapi pepohonan yang rindang dan setia melambai tiap kali datang, adalah kesejukan kecil di pagi hari yang tidak boleh terlewat. Jika mulai banyak kendaraan yang melewati jalan kampus, lamban laun jalan ini tidak ada bedanya dengan jalan umum, bising dan macet. Apabila di kampus nanti ada aturan kendaraan bermotor tidak boleh lewat, saya rasa saya akan mendukungnya tapi tidak sekarang!

Kekesalan saya, mulai banyaknya mahasiswa yang membawa mobil ke kampus. Bukankah kost mereka tidak jauh dari sekitaran kampus, tapi bawaannya mobil. Nanggung jika bawa mobil, mengapa tidak sekalian saja membawa truk. Poster lowongan kerja yang tertempel di tiang-tiang listrik area kampus, pasti keliru nempel, mahasiswa sini sudah hidup mapan, tidak butuh uang tambahan untuk mencukupi kebutuhan.

Mahasiswa bekerja adalah sebuah kebanggaan, apalagi dia memenuhi kebutuhannya selama kuliah dari hasil bekerja, tidak melulu mengandalkan kiriman dari orang tua, seperti beberapa teman saya. Mereka menjadi pengajar les untuk anak SD-SMP. Dari satu kali pertemuan yang saya ketahui mereka dapat paling minim Rp20,000,-. Lumayan untuk jatah makan selama satu hari setengah.

Selama kuliah, riwayat bekerja saya adalah pekerjaan kasar, sebagai porter dalam proyek pengukuran, dan juga menjadi pelayan di sebuah Cafe.

Menjadi seorang porter lapangan atau pelayan membuka mata saya akan susahnya mendapat uang. Selama kuliah, tiap bulannya saya mendapat kiriman dari kakak saya yang sudah bekerja. Bekerja sebagai porter lapangan mengingatkan saya akan pekerjaan kakak saya itu yang juga orang lapangan, tentu berat dan capek. Ya, sejak itu yang bisa saya balas untuk kakak saya adalah mendoakan yang terbaik untuk kakak saya seperti rezekinya diperlancar, kalau tidak lancar saya juga yang berabe.

Pengalaman yang tidak mengenakkan menjadi seorang pelayan cafe, mengambil piring-piring kotor yang dibiarkan tergeletak begitu saja. Belum lagi makanan yang tidak habis dimakan, terlalu sayang makanan seenak ini harus dibuang mungkin apabila dikasih kepada pengamen jalanan mereka akan banyak-banyak berterimakasih kepada saya. Tahu susahnya menjadi pelayan, ketika makan di warung saya berusaha untuk menghabiskan makanan saya, lagipula saya juga lapar, tidak membuat kotor meja makan. Hal kecil yang bisa kamu lakukan untuk membantu pelayan, kamu bisa mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja, saya rasa itu bisa meringankan pekerjaan para pelayan.

Saya beruntung dalam episode kehidupan saya, saya pernah bekerja sebagai pekerja kasar, sebuah pengalaman hidup yang tidak bisa saya dapatkan dalam buku-buku diktat kuliah. Jika mempunyai anak yang sudah kuliah nanti, saya ingin mengatakan ini kepada dia, “nak, bapak akan mengirimi kamu uang bulanan. Cuman dengan satu syarat, kamu harus bekerja. Saran bapak, kamu bisa bekerja sebagai pelayanan cafe karena disana kamu dapat makan siang gratis!” []

2 thoughts on “Mahasiswa Bekerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s