Anti Nasionalis!

Di negeri kapitalis lumrah berlaku hukum tidak ada makan siang gratis, artinya tidak ada yang gratis harus ada pengorbanan (baca: uang) yang dikeluarkan. Barangkali saya terkena imbas dari hukum tersebut sehingga seringkali melewatkan jam makan siang. Memang kebiasaan saya tidak makan siang merupakan hasil dari kebiasaan saya tidak makan siang ketika duduk di bangku kuliah, tapi dulu saya tidak makan siang pun gara-gara “tidak ada makan siang gratis” itu sendiri.

“Maunya yang gratis aja nih,” kata kamu. Lho iya, negeri ini terlalu kaya untuk tidak memberikan makan siang gratis. Tanah kita subur apa-apa bisa ditanami, laut kita sangat luas dengan hasil ikan yang melimpah ruah, jadi kurang apa negeri kita ini untuk ‘menggratiskan’ makan siang?

Saya tidak mencari-cari alasan bahwa kebiasaan saya tidak makan siang karena terlalu sibuk mengerjakan tugas sehingga lupa dengan waktu. Tidak-tidak, saya bukan mahasiswa sontoloyo yang sok sibuk padahal tidak ada yang disibuki. Tapi memang saya tergolong mahasiswa elit (ekonomi sulit) untuk rutin membeli makan siang saja susah. Alhamdulillah sekarang kondisinya cukup mendingan, gaji saya cukup untuk membeli makan siang, tapi yah itu tadi karena sudah kebiasaan kadang kita melakukannya tanpa sadar.

Jika melewatkan makan siang, kamu tahu, sorenya perut kamu akan keroncongan, pertandanya adalah alarm di perut kamu akan sering kruyuk-kruyuk. Jadi saya tidak bisa menunggu malam untuk makan malam, makan sore saja sekalian. Cuman ada cerita menarik ketika saya makan di warteg, saya tidak mengenal orang itu tapi dia mentraktir saya makan.

Ceritanya ketika saya makan, orang itu (saya sebut orang itu karena saya benar-benar lupa namanya) duduk di meja tempat saya makan dan posisinya persis di depan saya. Heran, masih ada meja kosong di tempat lain, tapi orang itu malah duduk di depan saya. Sejurus kemudian orang itu bertanya kepada saya, apakah saya yang mempunyai motor berplat M itu. Saya mengangguk, dan saya mengangguk lagi ketika dia bertanya apakah saya orang Madura. Ternyata orang yang duduk di depan saya itu juga orang Madura, maka dimulailah obrolan layaknya seseorang yang baru saja bertemu saudara yang lama tidak bertemu.

Ketika mau bayar makanan, orang Madura itu melarang saya. Dia yang mau membayar. Saya dengan senang hati menerima (tapi dengan gestur menolak). Di akhir perjumpaan itu saya mengucapkan terima kasih dan menanyakan namanya. Saya harap bisa bertemu lagi, sering-sering kalau bisa!

Sebuah kesenangan tersendiri ketika kita bertemu dengan seseorang yang berasal dari daerah asal kita, ternyata kita tidak merantau sendirian. Bertemu dengan mereka seperti bertemu dengan saudara sendiri. Yah, saudara!

Apabila kita mau membuka mata kita lebar-lebar, sebenarnya dimana-mana ada ‘saudara’. Jika kamu seorang muslim maka kamu saudara saya. Ikatan yang seharusnya lebih tinggi kedudukannya ketimbang ikatan kesukuan (chauvinisme), kebangsaan (nasionalisme) ataupun ras (rasisme).

Saya ingat pernah meng-share berita tentang kondisi di Syiria, kondisinya dalam darurat karena negara tersebut tengah diperangi oleh presiden mereka sendiri. Aneh bukannya memperoleh simpati, saya malah mendapat antipati dari komen-komen yang masuk. Mereka berujar, ngurusi negeri sendiri saja susah malah saya ngurusi negara orang lain!

Negara ini memang sedang susah, kekayaan alamnya dirampok, pemimpinnya sibuk ngurusi perut dan bawah perut, rakyatnya dilanda kemelaratan, tapi apa karena sekat wilayah yang membatasi lantas kita tidak peduli dengan nasib kaum muslim lainnya. Saya anti nasionalis, Islam mengajarkan saya untuk universalis (rahmatan lil ‘alamin). Lagipula jika mengandalkan kesukuan, akan sangat jarang ada yang mentraktir saya. Berbeda dengan universalis, “apakah anda seorang muslim mari saya traktir!” []

One thought on “Anti Nasionalis!

  1. aku juga antinasionalis. buat apa peduli pada negeri kalau pemerintahnya sendiri tidak peduli, malah menindas rakyat sendiri. kalau menolong orang lain sih mau tapi atas dasar islam, iman dan akhlak. buat karena nasionalis. emang nasionalis kasih apa sama kita?
    gak ada. malah islam yg ngasih kita. ngasih saudara, ngasih pahala dan nanti ngasih surga. kan enak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s