Abahku Bapakku

Hujan yang turun sepertinya membawa serta kenangan di dalamnya. Tiap kali hujan, ada saja momen di masa lampau yang tiba-tiba menyeruak dan berkelibas begitu saja dalam angan. Momen-momen, kejadian pada masa lalu yang terjadi bersamaan dengan datangnya hujan, yang mulai dilupakan kini datang lagi dan pemicunya adalah hujan. Saya jadi beranggapan orang yang menyukai hujan, mereka bukannya menyukai hujan itu sendiri tetapi kenangan-kenangan yang ikut terbawa bersama hujan.

Pernah ketika turun hujan, saya mengingat sebuah momen saat kegiatan ospek kampus yang kebetulan saat itu juga turun hujan. Ospek, anda tahu, berisi hal yang tidak menyenangkan seperti senior bentak-bentak, punishment mulai dari push up atau joget tidak jelas. Tidak mengenakkan memang, tapi mengingat momen tersebut membuat saya nyengir sendiri dan berkata dalam hati, “kog mau-maunya ya di gituin!”

Sedangkan hujan kali ini membuat saya ingat kepada rumah. Dalam angan saya, muncul sosok yang begitu saya hormati dan sayangi, siapa lagi kalau bukan Abah saya. Entah kenapa beliau tiba-tiba hadir, barangkali itu adalah rasa puncak atas keinginan saya untuk segera pulang kampung tapi digagalkan oleh yang namanya deadline pekerjaan.

Abah saya adalah seorang alumni pesantren. Tidak seperti alumni lainnya setelah menempuh pendidikan di pesantren, mereka menjadi seorang ustad mengajarkan agama Islam di madrasah-madrasah atau jenjang karir yang lebih tinggi yaitu menjadi seorang kiai. Sedangkan abah saya memilih menjadi seorang pedagang. Saya tidak pernah bertanya mengapa beliau memilih menjadi seorang pedagang ketimbang profesi yang juga dilakukan oleh para Nabi itu yaitu mengajarkan agama. Semakin saya dewasa, saya mencoba memahami jalan hidup yang telah dipilih oleh beliau. Menjadi seorang pengajar agama tentu saja mempunyai kedudukan istimewa dalam masyarakat dan dihadapanNya, tapi tidak untuk urusan dapur. Saya pernah dengar seorang ustad, setelah memberikan ceramah mendapat amplop dan setelah dibuka ternyata isinya hanya surat ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih tentunya belum cukup untuk menafkahi sebuah keluarga, maka tidak heran beliau banting setir menjadi seorang bisnisman yang ngustad!

Saya ingat pada suatu malam, sedang turun hujan juga, abah saya mengajari saya berhitung (matematika). Persamaan matematika yang beliau gunakan adalah menganalogikan angka-angka itu dengan sebungkus rokok (waktu itu abah saya masih perokok), jika sebungkus rokok ditambah sebungkus rokok lagi hasilnya, kira-kira begitu beliau menjelaskannya (saya tidak menyarankan anda menggunakan sebungkus rokok sebagai permisalan matematika!).

Urusan angka-angka ini sepertinya abah saya sudah paham luar kepala, mungkin dipengaruhi pekerjaan beliau sebagai pedagang sehingga tiap hari bersentuhan dengan yang namanya hitung-hitungan. Bukannnya sombong, tapi anggota dewan sana kalau perlu belajar hitung-hitungan kepada abah saya. Saya pikir ada yang tidak beres dengan logika matematika para anggota dewan yang terhormat ini. Bayangkan saja, matematika yang mereka kuasai adalah menambah (beban pajak), mengurangi (subsidi), mengalikan  (gaji) dan agak susah membagi (untuk rakyat).

Abah saya juga seorang yang keras (dalam artian yang positif), jika saya berbuat kenakalan saya pasti akan dimarahinya. Tidak sampai terjadi kontak fisik, tapi sebagai gantinya tangannya bergerak kemana-mana, menggeprak meja, melemparkan mainan saya, atau memecahkan kaca juga pernah. Jika sudah begitu saya akan mengeluarkan jurus diam seribu bahasa dan mengaku salah.

Tidak-tidak, mungkin sosok abah saya muncul karena ingin memarahi saya akan sesuatu, mungkin keblingeran saya beberapa waktu lalu. Oh ampun bah! []peta

3 thoughts on “Abahku Bapakku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s