Kapitalisme Di Gerobak Buah!

Menjelang sore perut ini tidak bisa diajak kompromi, wajar karena waktu makan siang saya tiadakan. Sudah kebiasaan semenjak masa kuliah, lagipula saya mengikuti anjuran pakar kesehatan yang pernah berujar, “lebih baik tidak makan siang daripada tidak sarapan.”

Sore hari itu, setelah shalat berjamaah, saya tidak langsung balik ke tempat kerja tapi kongko dulu di depan masjid. Disana sudah menunggu gerobak buah, atau apabila kamu benar-benar lapar kamu bisa memilih gerobak yang menjual nasi goreng. Saya memilih untuk makan dua atau tiga tahu goreng, cara menyantapnya dengan membelah tepat di tengah-tengah tahu goreng kemudian ditambah sambal petis, lumayanlah untuk mengganjal perut. Tersedia juga buah, secara pergizian memang buah lebih menyehatkan dibanding gorengan yang entah digoreng dengan minyak sudah dipakai keberapa kalinya, tapi untuk apa makan buah yang tidak mengenyangkan itu lagipula saya tidak sedang diet.

Buah yang dijual berbagai macam seperti bengkoang, melon, pepaya, mangga, dan pisang. Saya tidak pernah membeli mangga dan pisang, untuk apa wong di rumah saya tinggal petik mangga atau ngambil pisang di tetangga secara cuma-cuma. Sebenarnya saya juga heran mengapa kita masih mengeluarkan duit untuk mendapatkan buah yang keberadaanya melimpah tersebut, atau kita masih merogoh kantong untuk mendapat air bersih. Mungkin nenek moyang kita akan miris jika melihat anak cucunya harus membayar tagihan air di PDAM, atau barangkali nenek moyang kita akan terpingkal-pingkal jika mengetahui untuk kencing saja masih bayar. Barangkali nanti untuk ketut disuruh bayar juga!


Apa-apa yang tersedia di alam adalah ciptaan Allah SWT dan manusia diperoleh mandat untuk mengelola dan mengambil manfaatnya. Hanya saja karena ke-kapitalisme-nya manusia, manusia menghalalkan segala macam cara untuk mendapat untung sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya, termasuk menjual ‘alam’ itu sendiri. Minyak, tambang, hutan, emas merupakan kepemilikan bersama yang pengelolaannya dilakukan oleh negara untuk kesejahteraan rakyatnya. Cuma, sekali lagi, karena ke-neo liberalisme-nya manusia, manusia melakukan cara-cara kotor untuk memiliki kepemilikan bersama tersebut menjadi milik dia sendiri atau company-nya.

Bisa dilihat bangsa kita sendiri atau bangsa lain. Sumberdaya alam yang mereka miliki tidak sepenuhnya mereka miliki sendiri. Indonesia misalkan, sumberdaya alamnya sudah 70% dikuasai oleh asing (company). Lantas jika sumberdaya alam yang seharusnya berfungsi sebagai modal untuk menjalankan roda pemerintahan dikuasai oleh asing, bersumber darimana pendapatan negara tersebut? Pertanyaan gampang. Bahasa halusnya, pendapatan terbesar negara dari pajak. Sedangkan reality-nya pendapatan negara dari hasil memalak rakyat. Rakyatlah yang menanggung kehidupannnya sendiri. Jadi tidak usah terlalu senang jika kamu mendapatkan pendidikan gratis, pelayanan kesehatan gratis, karena itu sudah hakmu sebagai pembayar pajak.


Saya tidak begitu paham bagaimana mekanismenya kog tiba-tiba sumberdaya alam di negeri ini di merger oleh asing. Setidaknya proses merger-memerger itu melibatkan petinggi negara, dewan yang membuat regulasi, dan lembaga yang mensahkan regulasi. Mencari tahu prosesnya, seperti kita mencari tahu bagaimana pesulap melakukan trik sulapnya, atau kita dibuat penasaran dengan balik layar pembuatan film-film Hollywood yang mencengangkan itu, sulit sangat sulit tapi bukan berarti tidak bisa!

Memikirkan bagaimana para kapitalis bekerja, anda tahu, menguras energi dan pikiran. Makin sengsara saya, ternyata isi dompet saya saat ini cuma bisa membeli satu tahu goreng. Apes! []

3 thoughts on “Kapitalisme Di Gerobak Buah!

  1. oh kapitalisme, sekarang agenda besar kapitalisme sedang berjalan heboh2nya di indonesia, tidak mau tau nasib rakyatnya, dengan menyerahkan segala kepentingan rakyatnya kepada asuransi.. (BPJS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s