Belajar Iman Dari Jalanan

Orang bijak pernah mengatakan, wajah suatu kota bisa dilihat dari sungainya, jika benar demikian saya rasa kota Surabaya termasuk kota yang cantik. Hampir tiap hari saya melewati sungai Kalimas, sungai yang membelah kota Surabaya, saya lihat sungai tersebut bebas dari sampah. Mungkin karena sumber air bersih di kota ini adalah dari sungai Kalimas, maka tiap saat selalu dijaga kebersihannya. Tapi pada dasarnya kota ini memang sudah ‘cantik’, jika anda pernah ke Surabaya anda akan banyak menjumpai taman, bahkan kota ini dijuluki kota seribu taman. Ya itu untungnya jika dipimpin oleh walikota yang maniak taman. Mungkin jika walikotanya seorang maniak sepeda, bisa jadi dimana-mana akan dibuat jalur khusus untuk para sepeda.

Tiap pagi saya berangkat ke tempat kerja, butuh waktu sekitar 30 menit dari kost ke kantor. Selama perjalanan setidaknya saya akan berpapasan dengan yang namanya penjual koran, pak polisi, wanita ber-hotpans, dan tentu saja asap knalpot.

Tidak ada yang salah dengan menjual koran, cuma persoalannya menjadi runyam jika yang menjual koran itu adalah seorang anak kecil. Jangan biarkan seorang anak berkeliaran di jalanan, anda tahu, jalanan adalah tempat yang paling tidak aman. Lagipula bukankah ini jam-jam untuk mereka bersekolah? Tidak, tidak. Saya pikir mereka tidak butuh sekolah. Apa gunanya sekolah jika mereka inginkan hanyalah selembar ijazah. Mereka tidak harus belajar di sekolah, apalagi sekolah membutuhkan buku yang masih merupakan barang mewah bagi mereka. Mungkin anda beranggapan, mereka harus sekolah supaya terlepas dari jerat kemiskinan? Lho bukankah mereka sudah kaya. Jika pendapatan atau gaji di negeri ini berdasarkan keringat yang dikeluarkan tentu penjual-penjual koran ini yang hidupnya paling mapan dibanding mereka-mereka yang hanya duduk-duduk di ruang ber-AC menunggu berkas untuk ditandatangani, atau mereka-mereka yang dianggap sebagai dewan terhormat dengan modal bacot membuat regulasi yang katanya untuk kesejahteraan rakyat padahal untuk perut mereka sendiri atau bawah perut rekan bisnis mereka. Penjual koran itu atau para petani seharusnya adalah orang kaya karena sejak habis subuh mereka sudah banting tulang untuk memenuhi kebutuhan manusia, sedangkan anggota dewan itu, seperti yang digambarkan di koran, mereka datang untuk tidur!

Saya termasuk orang yang tertib berlalu lintas, buktinya saya berhenti ketika lampu berwarna merah, helm selalu saya pakai, dan knalpot sepeda motor saya bukan “oplosan” sehingga tidak menimbulkan suara yang memekikkan telinga. Saya melakukannya bukan karena takut terhadap polisi, tapi lebih bentuk respek saya kepada polisi lalu lintas. Pak polisi itu, bersamaan dengan penjual koran, pagi-pagi sekali sebelum orang aktif berangkat kerja sudah tiba untuk mengatur lalu lintas. Sebuah pekerjaan yang berat karena membutuhkan disiplin yang tinggi, bahkan pekerjaan sebagai polisi lalu lintas adalah pekerjaan yang berbahaya, coba bayangkan berapa polusi yang mereka hirup dari kendaraan bermotor tiap harinya? Karena itu secara pribadi saya menaruh hormat kepada pak polisi, jika ada pak polisi yang meminta saya men-stop saya dan kemudian ditilang, saya terima saja wong saya tidak bisa menunjukkan SIM C.

Siapa orang yang tidak senang jika melihat taman yang bersih, rapi, dan menyegarkan mata. Saya beruntung ketika perjalanan ke tempat kerja, saya melewati beberapa taman dengan bunga yang berwarna-warni dan pohon yang rindang. Saya rasa baik untuk produktivitas kerja kita untuk tidak mengawali hari dengan hal-hal yang menjengkelkan seperti terjebak kemacetan, tapi dengan hal-hal yang menyenangkan misalkan seperti melihat taman yang sejuk itu. Yang membuat tidak nyaman adalah ketika tiap kali berhenti di lampu merah, anda menjumpai wanita yang memakai hotpans, jelas-jelas itu pelanggaran syariat karena mengumbar aurat di muka pria, maksud saya di ruang publik, karena itu pak polisi seharusnya ‘menjaringnya’ dengan alasan melanggat syariat!

Oh ya, saya lupa pemimpin kita bukanlah maniak syariat sehingga merasa tidak perlu menerapkan hukum-hukum Islam. Bagaimana ini, banyak taman memang sebagai bentuk keindahan karena keindahan itu sendiri adalah sebagian dari iman. Ingat sebagaian dari iman, bukan keseluruhan dari iman itu sendiri. Sedangkan implementasi dari iman kepada Allah SWT adalah menjalankan segala syariatNya. Oh sudah berimankah kita? []

4 thoughts on “Belajar Iman Dari Jalanan

  1. mmm… tulisan yang bagus, hanya saja di akhir agak gimana gitu😀, bagaimanapun segala sesuatunya berproses, setidaknya “pemimpin kita” itu masih punya sebagian iman, daripada tidak sama sekali😀

    • masih punya sebagian iman.. entahlah saya pikir utk perkara iman, adalah perkara meyakini 100%, karena apa2 yg tdk dikerjakan 100% biasanya berakhir dg 0%.
      berbeda jk dia beriman tapi krn memang tabiat manusia, terkadang melanggar rambu2 syariat. trimaksih sudah berkunjung..🙂

      • saya kira bagaimanapun kita tidak bisa menilai beliau tidak beriman 100% hanya karena yang tampak dari beliau maniak tamannya saja, karena iman itu urusan hamba dengan Tuhannya, kita tidak berhak menilai seseorang semudah itu kan akh🙂,

      • aha sya rasa tulisan ini tdk menjustifikasi keimanan seseorng trmsuk ‘beliau’, tapi lebih mempertanyakan keimanan ‘kita’ sendiri trmsuk saya sendiri yg banyak khilaf ini..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s