Berhitunglah

Akhir-akhir ini saya sering hitung-hitungan terutama menyangkut masa depan. Awalnya saya berhitung, jika ingin membeli sebuah rumah dimana harga sebuah rumah sederhana kisaran 500 juta, maka dengan gaji saya saat ini paling tidak dibutuhkan 50 tahun lagi supaya keinginan tersebut terwujud.

Kebiasaan menghitung merambat ke persoalan lainnya, jika saya menghafal tiap harinya satu ayat Al Qur’an, menurut perhitungan saya, pada umur 60 tahun-an baru saya bisa hafal Al Qur’an. Contoh lainnya, jika tiap hari saya berdzikir kalimat
tayyibah
(Subhanallah Alhamdulillah Laa Ilaaha Illallah Allahu Akbar) tiap kalimat 33x dan dilakukan selepas shalat fardhu maka setiap hari saya telah berzikir 660x, 19.800x dalam sebulan, atau 237.600x dalam setahun. Jika saya meninggal pada umur 65 tahun, sudah berapa juta kali saya berzikir? Saya harap jumlah yang cukup untuk mendapat tiket -walau kelas ekonomi- Surga. Amin!

Ada pula jika tiap bulannya saya membeli 2 buku, artinya dalam satu tahun ada 24 buku, dalam 5 tahun kemudian bisa-bisa saya sudah bisa membuka perpustakaan kecil untuk umum atau setidaknya perpustakaan keluarga. Ada juga hitung-hitungan yang tidak terlalu penting tapi penting juga untuk dihitung.

Manusia adalah makhluk berhitung. Dari kecil manusia sudah diajarkan untuk berhitung, seperti penambahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian. Aktivitas keseharian manusia pada dasarnya tidak bisa lepas dari aktivitas menghitung. Khusus persoalan hidup, saya pikir mau tidak mau hitungan kita harus pas atau kalau tidak kesalahan berhitung membuat kita rugi, bahkan rugi dunia akhirat.

Saya sendiri tidak habis pikir dengan para koruptor. Secara hitungan materi, memang para koruptor itu untung bahkan sangat untung, hasil yang didapat jauh dari effort yang dikerjakan. Tapi bagaimana dengan hitung-hitungan akhirat? Jelas mereka sangat merugi. Kehidupan di dunia tidak lebih hanya tempat bersinggah saja, kehidupan yang tidak ada matinya justru di akhirat kelak.

Entahlah belajar darimana mereka tentang hitung-menghitung. Kog mau-maunya menukar kenikmatan abadi dengan kenikmatan duniawi yang sebentar saja? []

3 thoughts on “Berhitunglah

  1. berhitung dengan cara begitu membuat kita bersemangat dalam menjalankan disiplin. misalnya setiap hari baca Al-qur’an, sholat dan dzikir. berapa pahalanya? buanyak. tapi jangan dihitung. nanti jadi merasa cukup dengan amal. cukup kita tahu bahwa amal kecil kalau dilakukan terus-menerus nanti jadi besar. bisa juga kita balik. kadang kita takut melakukan banyak tugas. lebih baik tugas itu kita pecah jadi tugas kecil2. selesai satu bagian pindah ke bagian lain. nanti semua tugas besar akan selesai.

    • Bener jg sih gan, dipikir2 lgi meski tiap hari kita berdzikir sampai berbusa2 sekalipun spertinya itu blum ckup utk membalas nikmat yg diberikan Allah SWT..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s