Dia Dia Dia..

Tulisan ini bukan mencoba untuk menafsirkan pesan yang tersirat dibalik lagu atau lirik lagu “Dia Dia Dia” yang dinyanyikan Fatin. Kalau toh ditafsirkan akan sangat sulit untuk menebak siapa “dia” yang dimaksud dalam lagu tersebut. Bisa jadi “dia” yang dimaksud adalah saya, atau kamu barangkali, yang pasti sosok “dia” adalah “Dia Dia Dia” sendiri.

Dalam tulisan ini, “Dia Dia Dia” yang saya maksud adalah poster-poster caleg peserta pemilu yang banyak bertempelan di pinggir jalan. Poster yang telah menghiasi di segala penjuru jalanan khususnya tempat-tempat yang strategis seperti perempatan jalan.

Jika kamu bepergian ke luar kota, sepajang perjalanan kamu akan menjumpai gambar-gambar para caleg itu. Seperti yang saya alami ketika pulang kampung, tiap 100 meter saya akan menjumpai gambar para caleg yang berbeda dengan latar partai yang berbeda pula.

Apabila diamati umumnya gambar para caleg terdiri foto caleg itu sendiri yang sedang tersenyum atau tampak mewibawakan diri, jargon-jargon kebangsaan, no urut, dan background gambar tokoh terkenal (biasanya ketua partai). Entah apa hubungannya dengan ketua partai sehingga mereka ikut terpampang di tiap poster caleg. Terlalu naif rasanya berharap dapat mendulang suara dengan berlindung di balik popularitas tokoh partai, toh kalau mereka terpilih, yang terpilih bukan mereka tapi si tokoh partai.

Apakah saya akan memilih mereka? Tidak, tidak, tidak. Saya tidak memilih karena pada dasarnya saya tidak tidak mengenal mereka dalam artian saya tidak mengetahui track record mereka sebelum menjadi caleg, dan pula saya tidak tahu visi misi mereka jika sukses menjadi pejabat nanti. Kamu mungkin tidak percaya, tapi di negeri ini seorang caleg melakukan perampokan untuk mengumpulkan dana kampanyenya. Apa jadinya jika caleg tersebut terpilih, bisa-bisa uang rakyat akan dirampoknya. Itu yang tertangkap, tidak tahu jika di gedung dewan sana ada yang lolos!

Saya bukannya tidak akan memilih di pemilu 2014 nantinya. Kriteria saya untuk memilih caleg atau capres sebenarnya cukup simple dan tidak muluk-muluk, cukuplah di posternya ia tulis “Melanjutkan Kehidupan Islam dengan Menerapkan Syariah Islam Secara Kaffah.” Jika ada caleg yang membaca tulisan ini dan melakukan apa saya minta, percayalah suara saya akan mengalir kepada Anda.

Sayang keinginan sederhana saya itu tidak saya temukan di poster-poster caleg yang saya jumpai. Sambil menunggu caleg yang anti-mainstream tersebut, lirik lagu “Dia Dia Dia” milik Fatin ternyata cocok juga untuk mengekspresikan poster para caleg itu. Jika Fatin menyanyikan dengan merdu lirik, “Dia Dia Dia, telah mencuri hatiku..” Maka untuk para poster caleg, “Dia Dia Dia, telah merusak pemandanganku..” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s